Kapal Terbakar hingga Awak Jatuh ke Laut, Begini Simulasi Keselamatan di Tengkayu I Tarakan 

Eliazar Simon • Dipublikasikan Rabu, 16 September 2026 | 20:19 WIB
SIMULASI: Sejumlah instansi gabungan melakukan simulasi keselamatan pelayaran di perairan Pelabuhan Tengkayu I Tarakan. ISTIMEWA
SIMULASI: Sejumlah instansi gabungan melakukan simulasi keselamatan pelayaran di perairan Pelabuhan Tengkayu I Tarakan. ISTIMEWA

TARAKAN – Kepanikan akibat kebakaran kapal hingga awak terjatuh ke laut menjadi skenario dalam simulasi keselamatan pelayaran di perairan Pelabuhan Tengkayu I Tarakan, Selasa (15/9). Latihan ini menguji kesiapan awak kapal menghadapi kondisi darurat yang sewaktu-waktu dapat terjadi saat berlayar.

Dalam simulasi fire drill dan man overboard tersebut, awak kapal tidak hanya dituntut mampu menggunakan alat pemadam api ringan (APAR), tetapi juga harus memahami alur pelaporan, komunikasi darurat hingga proses penyelamatan korban yang jatuh ke laut.

Kegiatan digelar tim gabungan Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Tarakan bersama pengelola Pelabuhan Tengkayu I, Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara, Jasa Raharja Tarakan, Dinas Perhubungan Kaltara, Satpol PP Kaltara dan awak kapal.

Sebelum mengikuti latihan, kesehatan seluruh awak kapal terlebih dahulu diperiksa Kantor Kesehatan Pelabuhan. Pemeriksaan dilakukan untuk memastikan peserta dalam kondisi sehat jasmani.

Kepala KSOP Tarakan Stanislaus Wembly Wetik melalui Kepala Pos Pelabuhan Tengkayu I Tarakan, Abdul Rahman mengatakan, simulasi merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Perhubungan Nasional 2026.

“Untuk kegiatan hari ini, kita mengisi rangkaian Hari Perhubungan Nasional dengan melaksanakan simulasi fire drill dan man overboard di wilayah perairan Tengkayu I,” ujar Rahman.

Skenario dimulai ketika kapal sedang berlayar dan terjadi kebakaran saat sebagian awak tengah beristirahat. Informasi kejadian kemudian dilaporkan kepada nakhoda untuk diteruskan kepada pengelola pelabuhan dan pihak terkait.

Awak kapal selanjutnya mempraktikkan penggunaan APAR serta komunikasi melalui radio untuk menyampaikan kondisi darurat. Dalam perkembangan skenario, seorang awak kapal kemudian dinyatakan jatuh ke laut sehingga awak lainnya harus melakukan tindakan penyelamatan.

Rahman menilai awak kapal telah memahami tugas masing-masing dalam menghadapi keadaan darurat. Namun, latihan tersebut juga menemukan sejumlah hal yang perlu dievaluasi.

“Pelaksanaan simulasi cukup baik. Mereka sudah memahami siapa yang berbuat dan bertugas apa ketika menghadapi insiden. Namun ada beberapa evaluasi, salah satunya mungkin dibutuhkan tangga darurat sehingga saat evakuasi di laut bisa menggunakan tangga monyet,” katanya.

Menurutnya, latihan semacam itu penting karena kecelakaan kapal tidak dapat diprediksi. Kompetensi yang telah dimiliki awak kapal harus diikuti kemampuan menerapkannya dalam kondisi nyata.

“Kecelakaan kapal tidak bisa kita prediksi kapan dan di mana terjadi. Makanya dengan kegiatan seperti ini kita memberikan edukasi supaya hal-hal yang lebih besar tidak terjadi,” jelasnya.

Rahman menambahkan, sebagian awak kapal perairan rakyat telah memiliki kompetensi seperti Basic Safety Training (BST), Surat Keterangan Kecakapan (SKK), maupun Mualim Pelayaran Rakyat (MPR).

Namun, kompetensi tersebut tetap perlu disegarkan melalui latihan berkala. Terlebih kapal-kapal rakyat yang beroperasi pada pelayaran lokal tetap memiliki potensi menghadapi berbagai kondisi darurat.

Ia berharap pengalaman dalam simulasi dapat diterapkan awak kapal apabila menghadapi kejadian sebenarnya, baik kebakaran maupun kondisi orang jatuh ke laut.

“Harapannya tentu apa yang sudah disimulasikan ini bisa diterapkan ketika menghadapi kondisi yang sebenarnya,” pungkasnya. (zar/jnr)

Editor : Januriansyah RT
simulasi keselamatan Pelabuhan Tengkayu I tarakan simulasi