TARAKAN - Harapan menjadikan Koperasi Merah Putih (KMP) Kelurahan Selumit sebagai salah satu percontohan belum sepenuhnya berjalan sesuai rencana. Setelah sempat ditetapkan sebagai kelurahan percontohan pada awal pembentukan, koperasi tersebut kini dinilai belum menunjukkan perkembangan berarti dalam kegiatan usahanya.
Ketua KMP Selumit Saifullah mengatakan, persoalan utama bukan berada pada kondisi kepengurusan, melainkan pada perkembangan koperasi yang dinilainya masih berjalan di tempat.
“Kalau berbicara soal koperasinya, kami memastikan bahwa tidak baik-baik saja. Kenapa? Ketika kondisi itu sama dengan hari kemarin, itu artinya tidak baik-baik. Karena yang dianggap baik itu adalah yang ada progres, yang ada kemajuan. Nah Selumit hari ini masih sama seperti di awal peresmiannya,” ujarnya, Kamis (10/9).
Menurut Saifullah, terdapat sejumlah hal yang membuat koperasi belum dapat mengembangkan usaha sesuai rancangan awal. Salah satunya berkaitan dengan kewenangan pengurus dalam menentukan dan menjalankan skema usaha.
Ia mengatakan, rancangan usaha yang sejak awal disusun pengurus belum mendapat ruang untuk direalisasikan. Begitu pula dengan upaya mengembangkan potensi usaha berbasis kearifan lokal yang menurutnya belum terakomodasi.
“Skema usaha yang dirancang dari awal oleh pengurus koperasi sampai hari ini belum terakomodir. Yang kedua adalah soal membuka peluang kearifan lokal. Itu juga tidak terakomodir,” jelasnya.
Persoalan lain, lanjut dia, berkaitan dengan pengelolaan anggaran yang dialihkan dari Bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) kepada PT Agrinas. Menurut Saifullah, pengelolaan anggaran tersebut hingga kini masih menjadi kewenangan PT Agrinas, sementara usulan dari pengurus koperasi belum banyak mendapat ruang.
“Soal pengelolaan anggaran yang dialihkan dari Bank Himbara ke PT Agrinas, itu juga sampai hari ini masih hak prerogatif oleh PT Agrinas. Usulan-usulan dari pengurus Koperasi Merah Putih ini tidak pernah didengarkan. Jadi kami mau bilang bahwa Koperasi Merah Putih yang ada hari ini itu kewenangannya Agrinas,” tegasnya.
Kondisi tersebut disebut berdampak pada perkembangan usaha KMP Selumit. Berbagai rencana yang sempat digaungkan ketika koperasi tersebut diresmikan belum terlihat dalam perkembangan usaha saat ini.
"Padahal, saat awal pembentukan terdapat sejumlah gagasan pengembangan, mulai dari pergudangan, pelayanan hingga digitalisasi. Namun, hingga kini kegiatan usaha yang berjalan masih belum mengalami perubahan signifikan," ungkapnya.
“Alhamdulillah dari awal Koperasi Selumit ini yang menjadi percontohan, menjadi mockup, belum ada perubahan. Masih usaha-usahanya yang itu-itu saja. Omzetnya itu-itu saja. Layanannya itu-itu saja. Tidak ada perkembangan,” ungkapnya.
Selain perkembangan usaha, Saifullah juga menyoroti keberadaan manajer KMP yang sebelumnya disebut akan mendapat pembekalan khusus. Hingga kini, posisi tersebut menurutnya belum terisi. Di sisi lain, dukungan justru telah diberikan Pemerintah Kota Tarakan melalui penempatan dua tenaga Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K) di KMP Selumit. Keduanya membantu kebutuhan administrasi sekaligus mendukung kegiatan usaha koperasi.
"Kami berharap persoalan yang menghambat perkembangan KMP Selumit dapat segera mendapat perhatian. Sebab, status sebagai koperasi percontohan menurutnya seharusnya diikuti dengan perkembangan usaha dan pelayanan yang dapat dirasakan masyarakat," pungkasnya. (zac/jnr)
Editor : Januriansyah RT