KMP Selumit Masih Stagnan, Sejumlah Potensi Usaha Belum Tergarap

Zakaria RT • Dipublikasikan Kamis, 10 September 2026 | 20:05 WIB
DIRESMIKAN: Suasana saat peresmian KMP Selumit 2025 lalu. AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN
STAGNAN: Suasana saat peresmian KMP Selumit 2025 lalu. AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN

TARAKAN – Aktivitas Koperasi Merah Putih (KMP) Kelurahan Selumit masih berjalan hingga saat ini. Namun, perkembangan usaha koperasi dinilai belum menunjukkan peningkatan berarti, meski peluang untuk mengembangkan usaha masih cukup terbuka.

Ketua Koperasi Merah Putih se-Tarakan sekaligus Ketua KMP Kelurahan Selumit, Saifullah, mengatakan, kondisi tersebut belum dapat disebut sebagai penutupan usaha. Menurutnya, kegiatan koperasi tetap berlangsung, hanya saja perkembangannya cenderung stagnan.

“Usahanya masih itu-itu saja, kuotanya itu-itu saja, dan layanannya itu-itu saja. Tidak ada perkembangan. Alhamdulillah, itulah yang saya maksud tadi, tidak baik-baik saja karena stagnan. Kalau tutup, berarti ada kemunduran,” katanya, Kamis (10/9).

Dari sisi omzet, KMP Selumit saat ini masih mencatat sekitar Rp 100 juta per bulan. Saifullah menilai angka tersebut masih dapat ditingkatkan apabila potensi ekonomi di sekitar wilayah koperasi mulai dikembangkan secara maksimal.

Salah satu peluang yang tengah dilihat adalah pengolahan limbah nelayan. Limbah tersebut dinilai memiliki potensi untuk diolah menjadi produk bernilai ekonomi, termasuk bahan baku pakan ikan maupun pakan ternak.

“Koperasi juga melihat peluang dari kebutuhan telur ayam di Tarakan yang selama ini masih banyak didatangkan dari luar daerah. Potensi lokal seperti pengolahan limbah nelayan, pasokan telur ayam yang selama ini masih didatangkan dari luar daerah, pembuatan pakan ikan dan pakan ternak dari limbah tersebut belum kami kembangkan,” jelasnya.

Selain itu, KMP Selumit sebelumnya sempat mengembangkan produksi pupuk organik. Namun, kegiatan tersebut kini terhenti karena produk yang dihasilkan masih membutuhkan pengujian laboratorium sebelum dapat dipasarkan.

Saifullah mengatakan, persoalan tersebut telah disampaikan kepada Wakil Menteri Koperasi saat berkunjung ke Tarakan. Pengurus koperasi meminta dukungan untuk pelaksanaan uji laboratorium terhadap pupuk organik yang telah diproduksi. “Sekarang usahanya berhenti karena kami tidak mungkin memasarkan produk yang belum teruji,” katanya.

Persoalan serupa juga masih ditemui dalam perkembangan KMP di sejumlah kelurahan lain di Tarakan. Saifullah menyebut pembangunan fisik koperasi di beberapa wilayah, seperti Kelurahan Juata Permai dan Kampung Empat, telah mencapai sekitar 80 hingga 90 persen.

Bahkan, terdapat bangunan koperasi yang disebut telah selesai dibangun. Namun, bangunan tersebut belum dapat dimanfaatkan karena proses serah terima belum dilakukan. “Selain persoalan serah terima, fasilitas dan barang untuk menjalankan kegiatan usaha koperasi juga belum tersedia. Kondisi itu membuat pembangunan fisik yang sudah selesai belum otomatis membuat koperasi dapat langsung beroperasi,” jelasnya.

Menurut Saifullah, kebutuhan anggaran untuk menggerakkan KMP di 20 kelurahan Tarakan sebenarnya tidak terlalu besar. Ia memperkirakan modal awal yang dibutuhkan tidak sampai puluhan miliar rupiah.

Saifullah menghitung sekitar Rp 1 miliar untuk satu kota sudah dapat menjadi modal awal agar kegiatan usaha KMP di seluruh kelurahan mulai berjalan. “Hitungan kami, cukup Rp 1 miliar untuk satu kota, sekitar Rp 50 juta per kelurahan, kegiatan usaha sudah bisa berputar dan berjalan,” pungkasnya. (zac/jnr)

Editor : Januriansyah RT
kmp tarakan Koperasi Merah Putih koperasi