Tarakan Masih Minim Hujan, Asap Hambat Pertumbuhan Awan

Zakaria RT • Dipublikasikan Senin, 7 September 2026 | 20:24 WIB
BELUM PULIH : Kondisi udara Kota Tarakan masih tertutup kabut asap. AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN
BELUM PULIH : Kondisi udara Kota Tarakan masih tertutup kabut asap. AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN

TARAKAN - Harapan turunnya hujan untuk mengurangi kabut asap di Tarakan belum menunjukkan tanda kuat. Meski peluang hujan mulai terbuka di sejumlah wilayah Kalimantan Utara (Kaltara), kondisi atmosfer di Tarakan masih belum cukup mendukung pembentukan awan hujan. Keberadaan asap yang bertahan juga disebut ikut menghambat proses pertumbuhan awan.

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Tarakan, Muhammad Sulam Khilmi mengatakan, kondisi jarak pandang dapat menjadi salah satu gambaran terhadap kualitas udara. Jarak pandang sekitar 1.500 hingga 3.000 meter umumnya berkaitan dengan kualitas udara kategori sedang. Sementara jarak pandang di bawah 1.000 meter dapat menunjukkan kondisi yang lebih buruk.

Di tengah kondisi tersebut, peluang hujan mulai terbuka di sejumlah daerah. Pada 8 hingga 11 September, Kabupaten Malinau, Bulungan dan Nunukan diperkirakan berpotensi mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga lebat.

"Kondisi berbeda masih terjadi di Tarakan. Bibit awan memang mulai terpantau, tetapi jumlah uap air yang tersedia belum cukup untuk membuat pertumbuhan awan mencapai kondisi jenuh," ujarnya, Senin (9/7).

“Bibit awan di Tarakan sudah terpantau, tetapi volumenya belum cukup untuk mencapai kondisi jenuh sehingga belum berkembang menjadi awan hujan,” ungkapnya.

Sulam menjelaskan, kabut asap juga menjadi salah satu faktor yang dapat menghambat pertumbuhan awan dari uap air laut. Selama konsentrasi asap masih bertahan, peluang hujan di Tarakan dinilai masih sangat minim.

Kondisi ini kemudian membentuk siklus. Minimnya hujan membuat kondisi lahan tetap kering sehingga potensi titik panas dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meningkat. Karhutla menghasilkan asap, sementara keberadaan asap kembali dapat menghambat pertumbuhan awan hujan.

Meski demikian, kondisi tersebut diperkirakan mulai berubah seiring masuknya periode musim hujan. BMKG memperkirakan Kaltara mulai memasuki musim hujan pada akhir September atau awal Oktober 2026.

“Kami memperkirakan Kaltara mulai memasuki musim hujan pada akhir September atau awal Oktober 2026. Sementara fenomena El Nino diprediksi masih bertahan hingga awal 2027,” prediksinya.

Sulam mengatakan, dampak El Nino lebih terasa ketika terjadi bersamaan dengan musim kemarau. Ketika musim hujan mulai berlangsung, pengaruh fenomena tersebut diperkirakan tidak lagi terlalu signifikan.

“Dampak El Nino lebih signifikan ketika berlangsung pada musim kemarau. Kalau sudah masuk musim hujan, dampaknya tidak terlalu signifikan,” pungkasnya. (zac/jnr)

Editor : Januriansyah RT
tarakan kabut asap bmkg