Hasil Tangkapan Nelayan di Tarakan Anjlok Akibat Dampak Kabut Asap

Zakaria RT • Dipublikasikan Senin, 7 September 2026 | 20:16 WIB
ILUSTRASI GENERATE AI
ILUSTRASI GENERATE AI

TARAKAN - Kabut asap yang menyelimuti wilayah perairan Tarakan tidak hanya menghambat aktivitas melaut, tetapi juga mulai menekan pendapatan nelayan. Kondisi jarak pandang yang terbatas membuat sebagian nelayan memilih mengurangi aktivitas di laut, sementara hasil tangkapan yang diperoleh selama hampir satu bulan terakhir disebut mengalami penurunan cukup drastis.

Ketua Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Kalimantan Utara (Kaltara), Rustan mengatakan, kondisi tersebut semakin menyulitkan nelayan tradisional yang sebagian besar mengandalkan hasil melaut untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Hampir satu bulan kita ini menderita. Hasil tangkap nelayan menurun, drastis menurun. Kasihan nelayan sekarang,” katanya, Senin (7/9).

Menurut Rustan, keterbatasan jarak pandang juga menjadi pertimbangan nelayan untuk tidak melaut. Kondisi tersebut semakin berisiko bagi nelayan tradisional yang tidak dilengkapi perangkat navigasi khusus.

Sebagian nelayan masih mengandalkan aplikasi navigasi melalui telepon seluler ketika berada di laut. Namun, cara tersebut dinilai memiliki sejumlah keterbatasan, terutama ketika digunakan dalam kondisi kabut asap yang membuat jarak pandang sangat pendek.

Gangguan jaringan, kesalahan pada aplikasi hingga kondisi baterai telepon seluler yang habis menjadi sejumlah risiko yang harus diperhitungkan nelayan. Situasi tersebut membuat sebagian nelayan memilih tidak mengambil risiko untuk melaut.

Rustan memperkirakan sekitar 70 persen nelayan saat ini tidak melaut, sedangkan sekitar 30 persen lainnya masih beraktivitas dengan mempertimbangkan kondisi di lapangan. Angka tersebut merupakan perkiraan dari pihak KNTI, bukan data resmi hasil pendataan seluruh nelayan.

“Yang jelas saat ini nelayan itu 70 persen tidak melaut. Itu paling 30 persen saja. Pertama menghindari kesasar, kedua soal BBM,” ujarnya.

Selain risiko tersesat, nelayan juga harus mempertimbangkan biaya operasional. Melaut dalam kondisi hasil tangkapan yang menurun dinilai tidak sebanding dengan pengeluaran bahan bakar minyak (BBM), terlebih ketika kondisi cuaca dan jarak pandang belum memungkinkan.

Rustan mengatakan, keterbatasan perangkat navigasi menjadi salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian pemerintah. Nelayan tradisional membutuhkan dukungan peralatan yang lebih memadai agar keselamatan tetap terjaga ketika kondisi perairan terganggu kabut asap.

“Kalau melaut tidak pakai alat yang canggih GPS, kalau kami ini pakai aplikasi HP saja. Itu biasa error, apalagi kalau low baterai. Tidak berani kita,” tutupnya. (zac/jnr)

Editor : Januriansyah RT
tarakan kaltara kabut asap nelayan