TARAKAN – Pembatalan penerbangan Batik Air rute Jakarta–Tarakan pada Minggu (6/9) menjadi gambaran seriusnya ancaman sebaran abu vulkanik terhadap keselamatan penerbangan. Gangguan akibat erupsi Gunung Anak Krakatau tidak hanya menyangkut kondisi bandara, tetapi juga keamanan pesawat ketika berada di ruang udara.
Kepala Badan Layanan Umum (BLU) Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Juwata Tarakan, Bambang Hartato mengatakan, penerbangan Batik Air ID6674 dari Jakarta menuju Tarakan dan penerbangan ID6675 dari Tarakan menuju Jakarta dibatalkan setelah kondisi ruang udara serta bandara asal dan tujuan terdampak sebaran abu vulkanik.
“Penghentian sementara rute dari dan ke Jakarta dilakukan karena kondisi ruang udara serta bandara asal/tujuan terpengaruh sebaran abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau. Langkah ini mutlak diambil demi keselamatan penerbangan,” tegas Bambang.
Menurutnya, abu vulkanik memiliki karakteristik yang membuatnya berbahaya bagi pesawat. Partikel abu yang sangat halus dapat menjadi ancaman terhadap mesin pesawat dan mengganggu visibilitas penerbang.
Yang menjadi persoalan, keberadaan abu vulkanik tidak selalu dapat diketahui seperti gangguan cuaca biasa. Bambang menyebut partikel tersebut tidak terdeteksi oleh radar cuaca pesawat.
Kondisi inilah yang membuat informasi mengenai sebaran abu vulkanik menjadi sangat penting dalam menentukan keamanan penerbangan. Ketika jalur penerbangan terpengaruh, otoritas bersama maskapai harus mengambil langkah antisipasi, termasuk menghentikan sementara penerbangan.
Dampaknya dirasakan hingga Tarakan. Bandara Juwata harus menyesuaikan operasional penerbangan yang memiliki hubungan langsung dengan bandara di Jakarta. Penerbangan Batik Air ID6674 yang dijadwalkan tiba pukul 13.55 WITA dibatalkan, sementara penerbangan ID6675 rute Tarakan–Jakarta yang dijadwalkan pukul 13.35 WITA turut terdampak.
Bambang menegaskan bahwa pembatalan bukan semata-mata persoalan teknis operasional, tetapi merupakan bagian dari upaya memastikan penerbangan berlangsung dalam kondisi aman.
Karena itu, masyarakat diminta tidak panik tetapi tetap mengikuti perkembangan informasi resmi. Calon penumpang yang penerbangannya terdampak diminta segera menghubungi maskapai untuk memperoleh informasi mengenai reschedule, refund, atau pengaturan perjalanan berikutnya.
“Kami mengimbau pengguna jasa penerbangan terus memantau informasi resmi dari BMKG, PVMBG, AirNav Indonesia, serta otoritas bandara untuk mengetahui perkembangan terkini terkait sebaran abu vulkanik,” ujarnya.
Bagi pengguna jasa penerbangan di Tarakan, kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa aktivitas vulkanik di wilayah lain dapat memberikan efek berantai terhadap perjalanan udara. Keputusan menunda atau membatalkan penerbangan menjadi pilihan ketika keselamatan penerbangan berada dalam risiko. (zar/jnr)
Editor : Januriansyah RT