TARAKAN - Pengembangan ayam petelur di Kalimantan Utara (Kaltara) masih menghadapi kendala biaya produksi. Salah satu persoalan yang cukup besar yakni harga pakan yang relatif tinggi karena sebagian kebutuhan masih didatangkan dari luar daerah.
Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan pada Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kaltara, Suryanto Samuel Taro, mengatakan pakan yang didatangkan dari Makassar dan Surabaya setelah masuk ke Kaltara dapat mencapai sekitar Rp 10 ribu hingga Rp 11 ribu per kilogram.
"Kondisi geografis dan biaya distribusi menjadi faktor yang membuat harga pakan tinggi. Persoalan ini perlu mendapat perhatian karena pakan merupakan kebutuhan utama dalam menjaga produktivitas ayam petelur. Kalau BBM bisa satu harga, apakah pakan peternakan juga bisa dibuat satu harga,” ujarnya, Minggu (6/9).
Suryanto mengatakan minat masyarakat untuk mengembangkan peternakan ayam petelur sebenarnya cukup besar. Namun, keterbatasan anggaran pemerintah membuat bantuan belum dapat menjangkau seluruh calon peternak.
Karena itu, penerima bantuan mulai diarahkan mengembangkan sumber pakan sendiri. Di Tarakan, kelompok peternak penerima bantuan diwajibkan menanam jagung pipil yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan tambahan.
Upaya tersebut memang belum mampu menggantikan pakan utama sepenuhnya. Namun, produksi bahan pakan lokal setidaknya dapat memberikan kontribusi sekaligus mengurangi sebagian ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah.
“Walaupun belum bisa menggantikan pakan utama secara 100 persen, setidaknya sudah ada kontribusi bahan pakan lokal,” jelasnya. (zac)
Editor : Januriansyah RT