Kaltara Masih Defisit Telur Ayam, Butuh 25.685 Ton per tahun.

Zakaria RT • Dipublikasikan Minggu, 6 September 2026 | 18:50 WIB
DEFISIT TELUR: Salah satu pedagang telur di Kota Tarakan. AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN
DEFISIT TELUR: Salah satu pedagang telur di Kota Tarakan. AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN

TARAKAN – Upaya Kalimantan Utara (Kaltara) memenuhi kebutuhan telur ayam secara mandiri masih menghadapi pekerjaan besar. Aktivitas konsumsi masyarakat yang terus berjalan, ditambah kebutuhan hotel, restoran, kafe dan program Makan Bergizi Gratis (MBG), membuat permintaan telur jauh lebih tinggi dibandingkan kemampuan produksi peternak lokal.

Kebutuhan telur ayam di Kaltara diperkirakan mencapai 25.685 ton per tahun. Sementara produksi lokal baru sekitar 2.279 ton. Artinya, masih terdapat kekurangan sekitar 22.481 ton yang harus ditutup melalui pasokan dari luar daerah.

Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan pada Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kaltara, Suryanto Samuel Taro mengatakan, ketergantungan tersebut masih berada di kisaran 70 persen.

“Kalau ditarik ke kebijakan pemerintah provinsi, kita tahu bahwa kebutuhan telur dan daging ayam kita masih bergantung dari luar sekitar 70 persen,” ujarnya, Minggu (6/9).

Besarnya kebutuhan juga dipengaruhi konsumsi di luar rumah tangga. Pada 2025, kebutuhan rumah tangga diperkirakan mencapai 6.621 ton. Sedangkan kebutuhan nonrumah tangga ditambah MBG mencapai 14.410 ton.

Dengan kondisi produksi yang masih rendah, kebutuhan pasokan dari luar daerah diperkirakan mencapai sekitar 18.888 ton. Angka tersebut menunjukkan masih lebarnya jarak antara kapasitas produksi peternak lokal dengan kebutuhan telur di Kaltara.

Pemerintah daerah pun mulai mendorong peningkatan populasi ayam petelur melalui bantuan kepada kelompok peternak. Sepanjang 2024 hingga 2025, pemerintah provinsi telah membantu delapan kandang yang dikelola empat kelompok peternak.

Hasil produksi dari kelompok tersebut mulai dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan lokal. Bahkan, telur yang dihasilkan telah diserap oleh program MBG. "Kalau penambahan kandang dan populasi ayam bukan satu-satunya persoalan. Biaya produksi, terutama harga pakan, masih menjadi kendala bagi pengembangan peternakan ayam petelur di Kaltara," jelasnya. (zac/jnr)

Editor : Januriansyah RT
telur ayam kaltara telur