TARAKAN – Pergerakan harga kebutuhan masyarakat di Kota Tarakan sepanjang Agustus 2026 masih menunjukkan dinamika. Sejumlah komoditas pangan mengalami kenaikan, sementara penurunan harga beberapa komoditas lainnya mampu menahan tekanan inflasi.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Tarakan, Umar Riyadi mengatakan, inflasi Kota Tarakan pada Agustus 2026 tercatat 0,24 persen secara bulanan. Angka tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan Kalimantan Utara (Kaltara) sebesar 0,23 persen dan nasional 0,21 persen.
“Sawi hijau memberikan andil terbesar, yakni 0,0766 persen. Kemudian angkutan laut 0,06 persen dan kangkung 0,0572 persen,” ujarnya, Jumat (4/9).
Komoditas lain yang turut mendorong inflasi yakni cabai rawit sebesar 0,0379 persen, bayam 0,0312 persen, kacang panjang 0,0296 persen, serta emas perhiasan 0,0274 persen. Nasi dengan lauk, bawang putih dan beras masing-masing memberikan andil 0,0121 persen, 0,0116 persen dan 0,0042 persen.
Sementara itu, sejumlah komoditas mengalami penurunan harga. Tomat menjadi penyumbang deflasi terbesar dengan andil minus 0,0831 persen, disusul angkutan udara minus 0,0717 persen dan bawang merah minus 0,0653 persen. Bensin juga memberikan andil deflasi sebesar minus 0,0075 persen.
Untuk inflasi kalender, Tarakan tercatat 1,53 persen, lebih tinggi dibandingkan Kaltara 1,44 persen, tetapi masih di bawah nasional 1,86 persen. Secara tahunan, inflasi Tarakan mencapai 2,91 persen, lebih tinggi dari Kaltara 2,17 persen namun masih di bawah nasional 3,19 persen.
Umar menilai perkembangan harga pangan perlu terus menjadi perhatian karena berpengaruh langsung terhadap pengeluaran masyarakat. Dengan masih tersisa empat bulan hingga akhir 2026, pemantauan harga dan ketersediaan pasokan komoditas strategis dinilai penting untuk menjaga stabilitas harga.
“Terutama komoditas pangan yang mengalami fluktuasi harga cukup tinggi, termasuk sayuran, bumbu-bumbuan, serta kebutuhan pokok masyarakat,” tuturnya. (zac/jnr)
Editor : Januriansyah RT