Tarakan Alami Inflasi di Agustus, Ini Kelompok Komoditi Pemicunya

Zakaria RT • Dipublikasikan Jumat, 4 September 2026 | 17:59 WIB
INFLASI : Aktivitas perdagangan dan konsumsi masyarakat di Kota Tarakan. AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN
INFLASI : Aktivitas perdagangan dan konsumsi masyarakat di Kota Tarakan. AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN

TARAKAN - Setelah mencatat deflasi pada Juli 2026, Kota Tarakan kembali mengalami inflasi pada Agustus 2026. Berdasarkan perkembangan indeks harga konsumen, inflasi bulanan atau month to month (mtm) Kota Tarakan pada Agustus tercatat sebesar 0,24 persen. Kenaikan harga tersebut terutama dipengaruhi kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang menjadi penyumbang inflasi terbesar selama periode tersebut.

Secara kumulatif, inflasi Kota Tarakan sepanjang tahun berjalan atau year to date (ytd) hingga Agustus 2026 tercatat sebesar 1,53 persen. Sementara itu, inflasi tahunan atau year on year (yoy) mencapai 2,91 persen.

Saat Dikonfirmasi, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Tarakan, Umar Riyadi mengatakan, angka tersebut menunjukkan tingkat inflasi Tarakan masih berada di bawah angka inflasi nasional secara bulanan, namun inflasi tahunan Tarakan tercatat lebih rendah dibandingkan nasional. Pada Agustus 2026, inflasi nasional tercatat sebesar 0,21 persen secara bulanan, 1,86 persen secara kalender, dan 3,19 persen secara tahunan.

Sementara itu, inflasi Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) pada periode yang sama tercatat sebesar 0,23 persen secara month to month, 1,44 persen secara year to date, dan 2,17 persen secara year on year.

"Dengan capaian inflasi tahunan Tarakan sebesar 2,91 persen pada Agustus, terdapat gambaran mengenai kemungkinan perkembangan inflasi hingga akhir tahun. Apabila pola inflasi pada sisa bulan 2026 setelah Agustus memiliki pola yang sama dengan periode yang sama pada 2025, maka inflasi Kota Tarakan sepanjang 2026 diperkirakan berada pada kisaran 2,91 persen," ujarnya, Jumat (4/9).

"Dari sejumlah kelompok pengeluaran yang menjadi komponen pembentuk inflasi, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang paling dominan. Kelompok ini memberikan andil sebesar 0,18 persen terhadap inflasi bulanan Tarakan pada Agustus," tuturnya.

Diungkapkannya, kenaikan harga sejumlah komoditas pangan menjadi salah satu faktor utama yang mendorong kelompok tersebut memberikan tekanan terhadap inflasi,:
Kondisi ini sekaligus menunjukkan bahwa perkembangan harga pangan masih menjadi salah satu komponen yang perlu mendapatkan perhatian dalam menjaga stabilitas harga di daerah.

"Selain kelompok makanan, minuman, dan tembakau, kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya masing-masing memberikan andil sebesar 0,03 persen terhadap inflasi bulanan," urainya.

Diterangkannya, kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga juga turut memberikan tekanan terhadap inflasi dengan andil sebesar 0,02 persen.

Di sisi lain, terdapat kelompok pengeluaran yang justru menahan laju inflasi. Pada Agustus 2026, hanya kelompok transportasi yang tercatat memberikan andil terhadap deflasi, yakni sebesar 0,02 persen.

"Pergerakan harga komoditas selama Agustus menunjukkan adanya kenaikan maupun penurunan yang cukup beragam. Beberapa komoditas pangan menjadi penyumbang inflasi terbesar, sementara sejumlah komoditas lainnya memberikan tekanan deflasi sehingga membantu menahan kenaikan indeks harga secara keseluruhan," terangnya. (zac/jnr)

Editor : Januriansyah RT
tarakan inflasi bps