ISLAM adalah agama yang membawa rahmat. Rasulullah Muhammad SAW tidak diutus hanya untuk satu kelompok, satu suku, atau satu bangsa. Beliau diutus untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.
Allah SWT berfirman:“Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya: 107)
Ayat ini singkat, tetapi kandungannya sangat luas. Kehadiran Rasulullah SAW adalah rahmat. Maka Islam yang dibawa beliau semestinya menghadirkan kedamaian, ketenteraman, kasih sayang, keadilan, dan kemanfaatan bagi kehidupan.
Namun, ada satu pertanyaan yang barangkali perlu lebih sering kita ajukan kepada diri sendiri: Sudahkah keberadaan kita menjadi rahmat bagi orang-orang di sekitar kita?
Pertanyaan ini sederhana, tetapi jawabannya tidak selalu mudah. Kita mungkin begitu fasih mengatakan bahwa Islam adalah agama rahmat. Kita mungkin sering berbicara tentang Rasulullah SAW, mengutip sabda-sabda beliau, memperbanyak shalawat, bahkan menyeru orang lain untuk meneladani akhlaknya.
Tetapi, apakah perkataan kita sudah membuat orang lain merasa tenang? Apakah sikap kita membuat orang lain merasa dihargai? Apakah kehadiran kita membawa manfaat, atau justru keresahan? Sebab, bisa jadi kita rajin berbicara tentang Islam, tetapi orang-orang terdekat justru terluka oleh ucapan dan perilaku kita.
Bisa jadi kita begitu lantang membela kebenaran, tetapi cara kita membelanya penuh kemarahan dan penghinaan. Kita berbicara tentang persaudaraan, tetapi perbedaan pilihan membuat kita saling menjauh. Kita mengaku mencintai Rasulullah SAW, tetapi akhlak beliau belum sungguh-sungguh hadir dalam kehidupan kita.
Di sinilah agama seharusnya tidak berhenti pada apa yang kita ucapkan, tetapi terlihat dari bagaimana kita memperlakukan sesama.
RAHMAT ITU BERMULA DARI AKHLAK
Rasulullah SAW mengajarkan bahwa kemuliaan seorang Muslim tidak hanya diukur dari banyaknya ilmu dan ibadah, tetapi juga dari akhlaknya.
Ilmu tanpa akhlak dapat melahirkan kesombongan. Semangat beragama tanpa kebijaksanaan dapat berubah menjadi sikap mudah menyalahkan. Keberanian membela kebenaran tanpa pengendalian diri bahkan dapat membuat kebenaran itu disampaikan dengan cara yang justru menyakiti.
Karena itu, berbeda pendapat tidak harus berakhir dengan kebencian. Menegur tidak harus mempermalukan. Mengkritik tidak harus menghina. Membela kebenaran tidak harus kehilangan kelembutan. Kita boleh berbeda, tetapi jangan kehilangan adab. Kita boleh tegas, tetapi jangan kehilangan kasih sayang.
Kita boleh meyakini pendapat kita benar, tetapi jangan merasa berhak merendahkan orang lain. Kita hidup di tengah masyarakat yang beragam. Berbeda suku, latar belakang, organisasi, pilihan politik, bahkan berbeda dalam memahami persoalan keagamaan.
Perbedaan adalah kenyataan kehidupan. Yang menjadi persoalan bukanlah perbedaannya, melainkan bagaimana kita mengelolanya. Jangan sampai sesuatu yang semestinya menjadi kekayaan kehidupan berubah menjadi alasan untuk saling membenci.
Sebab persaudaraan tidak selalu membutuhkan kesamaan. Terkadang, persaudaraan justru diuji ketika kita berhadapan dengan orang yang tidak sama dengan kita.
UJIAN AKHLAK ADA DI UJUNG JARI
Dahulu, ujian akhlak mungkin lebih banyak terjadi ketika kita berhadapan langsung dengan orang lain. Hari ini, ujian itu juga berada di ujung jari. Kita dapat menyakiti orang lain tanpa pernah bertemu dengannya.
Satu komentar dapat melukai hati. Satu unggahan dapat menimbulkan prasangka. Satu potongan video dapat membuat seseorang dihakimi sebelum persoalannya dipahami secara utuh. Lebih ironis lagi, terkadang kita menyebarkan sesuatu hanya karena sesuai dengan pandangan kita, bukan karena kita sudah memastikan kebenarannya.
Padahal seorang muslim semestinya memiliki sikap hati-hati terhadap setiap informasi. Sebelum menekan tombol kirim, sebelum membagikan sebuah berita, sebelum menulis komentar, marilah kita bertanya kepada diri sendiri: Apakah ini benar? Apakah ini perlu? Apakah ini bermanfaat? Dan yang tidak kalah penting, Apakah cara saya menyampaikannya mencerminkan akhlak seorang Muslim?
Sebab tidak semua yang benar harus disampaikan dengan cara yang kasar. Kebenaran memang membutuhkan keberanian, tetapi menyampaikan kebenaran juga membutuhkan kebijaksanaan.
Jangan sampai kita merasa sedang berdakwah, padahal cara kita berbicara justru membuat orang semakin jauh dari nilai-nilai agama.
Rahmat tidak selalu hadir dalam bentuk sesuatu yang besar. Kadang-kadang rahmat itu hanya berupa senyum. Berupa kesediaan mendengarkan keluhan orang lain. Berupa kesediaan memaafkan kesalahan.
Berupa membantu seseorang yang sedang mengalami kesulitan. Berupa tidak membalas keburukan dengan keburukan. Bahkan, memilih diam ketika ucapan kita hanya akan memperkeruh keadaan pun dapat menjadi bentuk rahmat. Sebab ada kalanya diam lebih baik daripada kata-kata yang melukai.
Ada kalanya mengalah lebih mulia daripada memenangkan perdebatan. Dan ada kalanya memaafkan jauh lebih kuat daripada membalas.
Karena itu, barangkali ukuran keberagamaan kita perlu diperluas. Jangan hanya bertanya, seberapa banyak kita beribadah? Tetapi tanyakan pula, seberapa banyak orang yang mendapatkan manfaat dari kehadiran kita?
Jika kita seorang pemimpin, apakah orang-orang yang kita pimpin merasa aman dan mendapatkan ketenteraman? Jika kita seorang guru, apakah kehadiran kita membuat murid tumbuh dan percaya diri?
Jika kita seorang tokoh agama, apakah ucapan kita menyejukkan dan mendekatkan umat? Jika kita seorang orang tua, apakah rumah menjadi tempat anak-anak menemukan kasih sayang dan perlindungan?
Jika kita hanyalah manusia biasa, apakah orang-orang di sekitar kita menjadi sedikit lebih baik karena pernah mengenal kita?
Pertanyaan-pertanyaan semacam ini penting, sebab agama yang indah seharusnya tidak hanya tampak dalam simbol dan ucapan, tetapi juga terasa dalam perilaku. Momentum kelahiran Nabi Muhammad SAW semestinya tidak berhenti pada perayaan dan seremonial.
Maulid Nabi hendaknya menjadi momentum untuk bercermin dan bertanya kepada diri sendiri, sudah sejauh mana akhlak Rasulullah SAW hidup dalam diri kita?
Mencintai Nabi bukan hanya dengan memperbanyak shalawat di lisan. Mencintai Nabi juga berarti berusaha meneladani akhlaknya dalam kehidupan sehari-hari. Sebab akan terasa ironis apabila kita begitu lantang mengajak orang lain mencintai Rasulullah SAW, tetapi orang-orang yang paling dekat dengan kita justru merasa tidak nyaman dengan perilaku kita.
Jangan hanya menjadi orang yang pandai berbicara tentang rahmat. Jadilah orang yang kehadirannya benar-benar menjadi rahmat.
Jangan hanya menginginkan dunia yang damai. Mulailah menjadi bagian dari kedamaian itu. Jangan hanya mengeluhkan banyaknya kebencian. Pastikan kita tidak menjadi salah satu sumber kebencian tersebut.
Jangan hanya bertanya, “Mengapa dunia tidak semakin baik?” Sesekali, bertanyalah kepada diri sendiri: “Apa yang sudah saya lakukan agar dunia di sekitar saya menjadi sedikit lebih baik?”
Mungkin kita tidak mampu mengubah dunia. Tetapi kita bisa mengubah cara kita memperlakukan keluarga. Kita bisa memperbaiki hubungan dengan tetangga. Kita bisa menjaga lisan ketika berbeda pendapat.
Kita bisa lebih bijak menggunakan media sosial. Kita bisa membantu orang yang sedang kesulitan. Kita bisa memilih untuk tidak memperkeruh keadaan. Dari hal-hal kecil itulah rahmat tumbuh.
Menjadi rahmat bagi keluarga. Menjadi rahmat bagi tetangga. Menjadi rahmat bagi masyarakat. Menjadi rahmat bagi bangsa. Dan pada akhirnya, menjadi rahmat bagi seluruh alam. Karena sesungguhnya, agama akan semakin indah ketika akhlaknya semakin terasa.
Islam tidak cukup hanya kita banggakan sebagai agama yang Rahmatan Lil ‘Alamin. Nilai itu harus terlihat dari cara kita berbicara, bersikap, berbeda pendapat, menggunakan media sosial, memimpin, mendidik, bertetangga, dan memperlakukan sesama.
Semoga kita tidak hanya menjadi umat yang mencintai Rasulullah SAW dengan lisan, tetapi juga umat yang menghadirkan akhlaknya dalam kehidupan. Semoga dari diri kita, orang lain menemukan kedamaian. Dari perkataan kita, orang lain menemukan kebaikan. Dan dari kehadiran kita, orang lain merasakan rahmat. Allahumma shalli ala Sayyidina Muhammad. Wallahu alam bish-shawab. (***)
Editor : Januriansyah RT