Konsumsi Tinggi di Kaltara Tak Selalu Cerminkan Kesejahteraan

Zakaria RT • Dipublikasikan Kamis, 3 September 2026 | 20:17 WIB
Akademisi Ekonomi dari UBT, Dr. Margiyono, S.E., M.Si. AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN
Akademisi Ekonomi dari UBT, Dr. Margiyono, S.E., M.Si. AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN

TARAKAN – Tingginya konsumsi masyarakat di Kalimantan Utara (Kaltara) ikut menggerakkan perekonomian. Namun, kondisi tersebut belum tentu menunjukkan kesejahteraan riil masyarakat, terutama jika tidak diikuti kemampuan menabung dan membangun aset produktif.

Akademisi Ekonomi dari UBT Dr. Margiyono, S.E., M.Si., mengatakan, pergerakan desil dalam pemetaan kesejahteraan tidak selalu berarti seseorang tiba-tiba menjadi lebih kaya. Perubahan tersebut dapat dipengaruhi berbagai indikator sosial ekonomi, termasuk pendapatan, konsumsi, bantuan dan kepemilikan aset.

Karena itu, masyarakat perlu memberikan informasi sesuai kondisi sebenarnya saat pendataan dilakukan. “Setiap kita itu harus menggarap jujur. Jadi menjawab jujur dengan apa yang kita alami dan apa yang juga kita lakukan,” ujarnya, Kamis (3/9).

Menurut Margiyono, tingginya konsumsi juga memiliki sisi positif karena membuat perputaran uang semakin cepat. Aktivitas kafe, warung, restoran dan sektor jasa menjadi lebih ramai sehingga ikut menghidupkan ekonomi daerah.

“Konsumsi yang tinggi itu mengakibatkan produktivitas yang tinggi sehingga kota kita menjadi riuh,” katanya.

Meski demikian, masyarakat Kaltara perlu mulai mengalihkan sebagian penghasilan dari konsumsi ke tabungan dan investasi. Menurutnya, aset produktif dapat menjadi sumber pendapatan yang lebih berkelanjutan.

“Ketika ia menjadi saving, maka dia pada saatnya akan melakukan investasi, dan investasi itulah yang akan memupuk aset yang ia miliki,” jelasnya.

Aset seperti rumah kos, rumah sewaan maupun kendaraan yang menghasilkan pendapatan dapat memperkuat daya beli masyarakat secara lebih permanen. “Jadi kepemilikan aset ini akan mendorong tingkat kesejahteraan yang lebih baik, tingkat kesejahteraan riil yang lebih nyata, dan akan meningkatkan daya beli masyarakat secara lebih permanen,” katanya.

Karena itu, perubahan desil tidak cukup dilihat dari kemampuan masyarakat membeli barang atau mengikuti gaya hidup. Kesejahteraan juga perlu diukur dari kemampuan membangun tabungan, investasi dan aset produktif.

“Saya berharap masyarakat mulai mengubah cara pandang terhadap kesejahteraan. Ukuran kesejahteraan idealnya tidak berhenti pada kemampuan membeli barang atau menikmati gaya hidup tertentu, tetapi juga ditunjukkan melalui kemampuan membangun tabungan, investasi dan aset produktif,” jelasnya.

“Jadi mestinya terjadi transformasi pemikiran kita atau perilaku atau kebiasaan kita dari yang konsumtif itu menjadi produktif,” pungkasnya. (zac/jnr)

Editor : Januriansyah RT
kaltara ekonomi