Jadi Bandara Internasional, Ini Persiapan yang Dilakukan Bandara Juwata Tarakan

Zakaria RT • Dipublikasikan Kamis, 3 September 2026 | 20:15 WIB
PERTEMUAN : Persiapan fasilitas Bandara Juwata Tarakan menuju operasional penerbangan internasional. AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN
PERTEMUAN : Persiapan fasilitas Bandara Juwata Tarakan menuju operasional penerbangan internasional. AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN

TARAKAN - Persiapan Bandara Juwata Tarakan sebagai bandara internasional tidak hanya menyangkut kesiapan landasan dan penerbangan, tetapi juga memastikan seluruh alur pelayanan penumpang berjalan sesuai ketentuan. Sejumlah fasilitas di area keberangkatan dan kedatangan kini mulai dievaluasi, termasuk konter check-in, jaringan, pemeriksaan kesehatan, imigrasi, Bea Cukai hingga kawasan pabean.

Kabid Teknik dan Operasi Bandara Juwata Tarakan, Fahrudin Rahmad mengatakan, pada area keberangkatan, check-in counter 1 dan 2 direncanakan digunakan oleh Wings Air. Kedua konter tersebut akan dievaluasi dan diperbaiki, termasuk memastikan dukungan listrik serta jaringan Wi-Fi dan Local Area Network (LAN).

“Peralatan pada kedua konter tersebut akan dievaluasi dan diperbaiki agar mendukung operasional penerbangan internasional,” jelasnya, kamis (3/9).

Menurut Fahrudin, kesiapan jaringan menjadi penting karena sejumlah sistem operasional penerbangan membutuhkan koneksi secara daring. Karena itu, selain fasilitas fisik, dukungan infrastruktur teknologi juga harus dipastikan berfungsi dengan baik sebelum penerbangan internasional beroperasi.

Sementara pada area kedatangan internasional, penataan akan dilakukan untuk memastikan pergerakan penumpang lebih teratur sejak turun dari pesawat maupun bus hingga keluar dari kawasan pabean.

“Setelah turun dari pesawat atau bus, penumpang akan diarahkan melalui area transisi tertutup sebelum menjalani pemeriksaan berikutnya,” ujarnya.

Area transisi tersebut nantinya dilengkapi fasilitas Visa on Arrival (VOA), ruang aklimatisasi atau pendinginan sebelum pemeriksaan suhu, serta thermal scanner yang dioperasikan petugas karantina kesehatan.

Penumpang yang terdeteksi memiliki suhu tubuh di atas normal akan diarahkan ke ruang observasi karantina. Setelah proses pemeriksaan kesehatan, penumpang kemudian diarahkan menuju area pengambilan bagasi dan pemeriksaan imigrasi.

Fahrudin menjelaskan, ruang imigrasi juga harus mampu mendukung beberapa fungsi pelayanan, mulai dari penerimaan, pengaduan umum, Secondary Inspection hingga detensi sementara. “Di kedatangan juga harus jelas alurnya, mulai dari penumpang turun, pemeriksaan kesehatan, imigrasi, pengambilan bagasi, Bea Cukai sampai keluar dari area pabean,” jelasnya.

Untuk pemeriksaan Bea Cukai, lokasi yang disiapkan berada di area pengambilan bagasi. Petugas nantinya membutuhkan meja, kursi, sumber listrik, jaringan serta CCTV yang dapat merekam aktivitas secara berkesinambungan mulai dari penumpang tiba hingga keluar dari kawasan pabean.

Penempatan meja pemeriksaan juga akan ditata agar tidak terlalu dekat dengan pintu keluar. Bersamaan dengan itu, penetapan kawasan pabean menjadi salah satu hal yang dinilai penting untuk segera ditindaklanjuti.

“Dalam pembahasan sementara, seluruh area airside disepakati untuk ditetapkan sebagai kawasan pabean. Penataan tersebut diharapkan memberikan batas yang jelas terhadap area yang masih berada dalam pengawasan pabean,” urainya.

Pada sisi karantina kesehatan, tiga ruangan yang tersedia direncanakan digabung menjadi satu area yang lebih luas dengan menggunakan tirai portabel. Penanganan komoditas yang dibawa penumpang juga membutuhkan keterlibatan Badan Karantina Pertanian, Perikanan, dan Karantina Hewan (BP2MAKB).

“Untuk karantina kesehatan, tiga ruangan yang tersedia akan digabung menjadi satu area yang lebih luas dengan menggunakan tirai portabel,” sambungnya.

Keterbatasan fasilitas X-Ray untuk pemeriksaan bagasi juga menjadi perhatian. Saat ini satu perangkat digunakan untuk bagasi domestik maupun internasional. Sebagai solusi operasional, maskapai akan memberikan pita atau tanda khusus pada bagasi internasional agar mudah dibedakan oleh petugas ground handling.

“Karena satu perangkat digunakan untuk bagasi domestik dan internasional, maskapai akan memberikan pita atau tanda khusus pada bagasi internasional agar mudah dibedakan,” katanya.

Fasilitas pendukung lain turut disesuaikan. Toilet dan kamar mandi pada area kedatangan harus berada di luar area clearance. Sementara kaca di area kedatangan internasional akan diberikan sandblast atau film privasi untuk menjaga privasi penumpang selama menjalani pemeriksaan.

Seluruh kebutuhan tersebut selanjutnya akan diverifikasi melalui tinjauan lapangan. Pengukuran dan pengecekan langsung diperlukan agar fasilitas yang tersedia benar-benar sesuai dengan kebutuhan operasional setiap instansi.

“Setelah rapat ini kita tindak lanjuti dengan tinjauan lapangan, pengukuran dan pengecekan fasilitas. Jadi apa yang menjadi kebutuhan masing-masing instansi bisa langsung kita pastikan,” katanya.

Koordinasi juga dilakukan untuk memastikan kesiapan personel Bea Cukai, Karantina dan Aviation Security (Avsec) pada titik-titik yang membutuhkan monitoring. Kebutuhan fasilitas pendukung seperti meja, kursi, listrik, jaringan dan CCTV juga akan segera ditindaklanjuti.

Fahrudin menargetkan kebutuhan utama yang bersifat mandatori dapat dipenuhi dalam waktu sekitar satu hingga dua minggu. Penyelesaian tersebut tetap disesuaikan dengan perkembangan proses perizinan rute penerbangan internasional.

“Prioritas kita adalah persyaratan yang mandatori harus terpenuhi. Kalau masih ada kekurangan, harus sudah ada mitigasi operasionalnya, sehingga ketika izin rute keluar kita sudah siap,” pungkasnya. (zac/jnr)

Editor : Januriansyah RT
tarakan bandara internasional bandara juwata