TARAKAN - Ancaman berkurangnya cadangan air baku mulai menjadi perhatian di Kota Tarakan. Minimnya intensitas hujan dalam beberapa waktu terakhir membuat pasokan air yang mengandalkan tampungan embung harus dijaga lebih ketat. Kondisi ini mendorong Perumda Air Minum Tirta Alam Tarakan meminta masyarakat mulai mengurangi penggunaan air yang tidak diperlukan.
Imbauan tersebut bukan tanpa alasan. Karakteristik Kota Tarakan yang tidak memiliki sumber air permukaan besar membuat keberlangsungan pasokan air baku sangat bergantung pada air hujan. Air yang turun kemudian tertampung di sejumlah embung untuk selanjutnya dimanfaatkan dalam proses pengolahan air bersih bagi masyarakat.
Direktur Perumda Air Minum Tirta Alam Tarakan, Iwan Setiawan mengatakan, perubahan pola cuaca menjadi salah satu hal yang perlu diantisipasi. Ketika hujan turun dengan intensitas rendah, pengisian kembali cadangan air di embung tidak berlangsung optimal.
“Kondisi geografis kita di Tarakan ini unik karena sangat mengandalkan curah hujan untuk mengisi cadangan air di embung. Ketika intensitas hujan menurun, tentu daya tampung kita ikut terancam,” katanya, Rabu (2/9).
Menurutnya, kondisi tersebut harus dihadapi dengan langkah antisipasi sejak awal. Perumda tidak ingin menunggu sampai cadangan air baku berada pada kondisi kritis baru melakukan pembatasan atau penyesuaian pelayanan. Sehingga kata dia, pengawasan terhadap seluruh sistem penyediaan air bersih terus diperketat. Mulai dari pompa, jaringan perpipaan hingga kondisi air baku di embung menjadi perhatian petugas.
"Pemeliharaan dan pengawasan juga ditingkatkan untuk memastikan air yang tersedia dapat dimanfaatkan secara optimal. Upaya tersebut sekaligus dilakukan untuk menekan potensi kehilangan air akibat gangguan teknis,” ucapnya.
“Dalam kondisi cadangan air baku yang terbatas, setiap kehilangan air dapat berpengaruh terhadap kemampuan Perumda dalam mempertahankan distribusi kepada pelanggan," sambungnya.
Namun, ia menyadari upaya dari sisi penyedia layanan saja tidak cukup. Penggunaan air oleh pelanggan juga menjadi faktor penting dalam menjaga keseimbangan antara ketersediaan air baku dan kebutuhan masyarakat.
Menurutnya, penghematan air tidak harus dilakukan melalui langkah besar. Kebiasaan sederhana di rumah justru dapat membantu mengurangi penggunaan air secara keseluruhan apabila dilakukan secara konsisten oleh masyarakat.
"Kami berharap masyarakat lebih cermat dalam menggunakan air. Penggunaan air untuk mencuci kendaraan, menyiram halaman maupun aktivitas rumah tangga lainnya juga diharapkan disesuaikan dengan kebutuhan," tukasnya. (zac/jnr)
Editor : Januriansyah RT