Asap Karhutla Kepung Tarakan, Dua Pesawat Sempat Alihkan Pendaratan

Zakaria RT • Dipublikasikan Selasa, 1 September 2026 | 14:21 WIB
BERI DAMPAK: Kabut asap menurunkan jarak pandang di Bandara Juwata Tarakan hingga 500 meter dan menyebabkan dua penerbangan divert ke Balikpapan. AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN
BERI DAMPAK: Kabut asap menurunkan jarak pandang di Bandara Juwata Tarakan hingga 500 meter dan menyebabkan dua penerbangan divert ke Balikpapan. AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN

TARAKAN – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai berdampak signifikan terhadap operasional penerbangan di Bandara Juwata Tarakan. Jarak pandang yang sebelumnya masih mencapai 4 hingga 5 kilometer, pada Senin (31/8) siang turun drastis hingga sekitar 500 meter.

Kepala Bidang Teknik dan Operasi Bandara Juwata Tarakan, Fahruddin Rahmat mengatakan, dampak kabut asap sebenarnya sudah mulai dirasakan sejak 10 Agustus 2026. Namun, saat itu kondisi belum terlalu mengganggu karena jarak pandang masih cukup baik.

Menurutnya, asap yang sampai ke Tarakan berasal dari karhutla di sejumlah wilayah Kalimantan. Asap tersebut terbawa angin dari arah selatan menuju utara hingga mencapai Kota Tarakan. Titik karhutla paling banyak dilaporkan berada di Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur. Sedangkan di Kalimantan Utara, terdapat satu laporan titik karhutla di Tanjung Palas Timur, Kabupaten Bulungan.

“Dampak yang ditimbulkan dari kebakaran tersebut adanya asap yang bergerak dan terdampak juga sampai ke wilayah Kota Tarakan. Dari pertama kali dilaporkan, dampaknya ada, namun tidak terlalu signifikan karena jarak pandang masih sekitar 4 sampai 5 kilometer,” jelasnya, Senin (31/8).

Penurunan jarak pandang mulai terlihat signifikan sejak Minggu (30/8/2026). Sekitar pukul 14.00 Wita, jarak pandang di Bandara Juwata turun menjadi sekitar 1 kilometer. Kondisi kemudian membaik menjadi 2 kilometer pada pukul 17.00 Wita dan sekitar 3 kilometer pada pukul 18.00 Wita.

Kondisi tersebut belum sampai mengganggu penerbangan. Memasuki Senin pagi, sejumlah pesawat masih dapat mendarat dan berangkat. Citilink dan Super Air Jet sempat mendarat, sedangkan Lion Air juga masih melakukan keberangkatan.

Namun, kondisi kembali memburuk pada Senin siang. Sekitar pukul 14.00 Wita, jarak pandang turun menjadi 1 kilometer dan sekitar pukul 14.30 Wita hanya tersisa sekitar 500 meter. “Mulai tadi pukul 14.00, dampaknya cukup signifikan. Asap kembali memengaruhi jarak pandang sampai kurang lebih 1 kilometer, bahkan sekitar pukul 14.30 semakin memburuk sampai jarak pandang hanya kurang lebih 500 meter,” ujar Fahruddin.

Penurunan jarak pandang tersebut berdampak langsung terhadap penerbangan yang hendak menuju Tarakan. Super Air Jet IU 535 sempat melakukan holding selama kurang lebih 25 menit untuk menunggu kemungkinan kondisi membaik.

Namun, setelah kondisi tidak memungkinkan, pilot memutuskan mengalihkan penerbangan ke Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan, Balikpapan. “Pesawat Super Air Jet IU 535 sempat melakukan holding di atas kurang lebih selama 25 menit. Pada akhirnya memutuskan untuk divert kembali ke Balikpapan dan sampai saat ini masih menunggu perkembangan lebih lanjut cuaca dan jarak pandang di Bandara Juwata,” katanya.

 

Hal serupa dialami Batik Air ID 6675 rute Jakarta-Tarakan. Pesawat yang dijadwalkan tiba sekitar pukul 14.06 Wita itu juga sempat melakukan holding selama kurang lebih 20 menit sebelum akhirnya divert ke Balikpapan.

“Batik Air ID 6675 juga sempat melakukan holding atau berputar di atas kurang lebih 20 menit. Akhirnya memutuskan untuk divert ke Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan di Balikpapan,” ujar Fahruddin.

Penumpang dari kedua penerbangan tersebut kemudian turun di Balikpapan dan masih menunggu informasi dari masing-masing maskapai mengenai kemungkinan penerbangan kembali ke Tarakan.

Fahruddin menjelaskan, keselamatan menjadi pertimbangan utama dalam menentukan pendaratan maupun keberangkatan. Berdasarkan Aeronautical Information Publication (AIP), jarak pandang minimum untuk melakukan instrument approach di Bandara Juwata adalah 2.500 meter.

Meski demikian, batas tersebut bukan satu-satunya faktor penentu. Keputusan akhir tetap berada pada pilot berdasarkan kondisi yang dihadapi saat penerbangan. “Untuk melakukan instrument approach, jarak pandang minimum memang 2.500 meter. Keputusan untuk melakukan pendaratan maupun take off itu ada di pilot decision atau di tangan pilot,” jelasnya.

Sekitar pukul 16.00 Wita, jarak pandang mulai membaik menjadi sekitar 1 kilometer. Namun, angka tersebut masih di bawah batas minimum instrument approach. Karena itu, pihak bandara tetap memantau perkembangan kondisi sebelum penerbangan berikutnya dipastikan dapat beroperasi.

“Masih terdapat penerbangan yang menunggu perkembangan kondisi, di antaranya Super Air Jet jadwal sore dan Lion Air rute Surabaya-Tarakan. Sementara itu, Batik Air telah mengajukan slot untuk masuk ke Tarakan sekitar pukul 17.30 Wita,” urainya.

Hingga keterangan disampaikan, belum ada penerbangan dari Tarakan yang dinyatakan cancel. Pihak bandara masih melakukan koordinasi dengan AirNav Tarakan, Stasiun Meteorologi Juwata dan seluruh maskapai untuk mendapatkan pembaruan kondisi jarak pandang.

Di tengah kabut asap, fasilitas pendukung penerbangan seperti runway, taxiway, apron, Precision Approach Path Indicator (PAPI) dan runway light dipastikan tetap dalam kondisi serviceable. Personel dan peralatan pendukung juga disiagakan untuk mengantisipasi kondisi di luar normal.

Fahruddin berharap kabut asap segera berkurang sehingga jarak pandang kembali normal dan aktivitas penerbangan di Bandara Juwata dapat berjalan tanpa gangguan. “Harapannya semoga kondisi ini tidak berlarut-larut dan semakin lebih baik, sehingga operasional penerbangan juga bisa berjalan dengan normal kembali dengan baik tanpa ada kendala,” pungkas Fahruddin. (zac)

Editor : Januriansyah RT
karhutla tarakan penerbangan pesawat kebakaran lahan