Ekspor Langsung dari Kaltara Terkendala Kontainer, Pelaku Usaha Pertimbangkan Jalur Surabaya

Eliazar Simon • Dipublikasikan Minggu, 30 Agustus 2026 | 19:07 WIB
KENDALA : Kepala Barantin Abdul Kadir Karding mendengarkan keluhan pelaku usaha perikanan dalam melakukan ekspor. ISTIMEWA
KENDALA : Kepala Barantin Abdul Kadir Karding mendengarkan keluhan pelaku usaha perikanan dalam melakukan ekspor. ISTIMEWA

TARAKAN – Keterbatasan kontainer ekspor menjadi salah satu persoalan yang masih menghambat pengiriman langsung komoditas dari Kalimantan Utara (Kaltara) ke pasar luar negeri. Kondisi tersebut membuat pemerintah dan pelaku usaha harus mencari skema alternatif agar komoditas tetap dapat dikirim tanpa membebani biaya logistik.

Persoalan itu menjadi salah satu pembahasan dalam diskusi Badan Karantina Indonesia (Barantin) bersama pelaku industri dan eksportir di Kaltara, Minggu (30/8).

Kepala Barantin Abdul Kadir Karding mengatakan, kendala ekspor langsung dari Kaltara bukan hanya berkaitan dengan pelayanan karantina. Ketersediaan kontainer yang memenuhi kebutuhan ekspor juga menjadi persoalan.

“Ekspor langsung itu problemnya sebenarnya di kontainernya. Kontainer ekspornya nggak punya di Kalimantan Utara ini,” kata Karding.

Menurutnya, keterbatasan tersebut membuat komoditas dari Kaltara belum dapat dengan mudah dikirim menggunakan kontainer ekspor langsung dari daerah. Persoalan itu, kata dia, telah dibicarakan bersama sejumlah kepala daerah. Di antaranya Gubernur Kaltara, Bupati Nunukan, Bupati Bulungan serta Wakil Gubernur Kaltara.

Salah satu skema yang sedang dipertimbangkan adalah menggunakan kontainer biasa untuk membawa komoditas dari Kaltara menuju Surabaya. Setelah tiba di Surabaya, pengiriman kemudian dilanjutkan menggunakan kontainer yang memenuhi kebutuhan ekspor. “Mungkin solusinya pakai kontainer biasa saja sampai Surabaya,” ujarnya.

Skema tersebut menjadi alternatif karena penggunaan kontainer ekspor dinilai masih membutuhkan biaya cukup besar. Dengan memanfaatkan kontainer biasa dari Kaltara, biaya pengangkutan dari daerah menuju pusat logistik seperti Surabaya diharapkan dapat ditekan. “Kontainer ekspor itu mahal,” kata Karding.

Namun, skema tersebut juga membutuhkan koordinasi lebih lanjut agar proses perpindahan komoditas tidak justru menambah persoalan baru, terutama bagi komoditas perikanan yang memiliki karakter mudah rusak. Karena itu, pemerintah bersama instansi terkait perlu memastikan setiap tahapan pengiriman tetap memenuhi ketentuan karantina dan persyaratan negara tujuan.

Karding mengatakan persoalan logistik tersebut akan menjadi bahan pembahasan bersama pemerintah daerah dan pihak terkait. Upaya itu diperlukan untuk mencari pola pengiriman yang lebih efisien bagi pelaku usaha di Kaltara.

Menurutnya, penguatan jalur logistik menjadi bagian penting jika Kaltara ingin mendorong ekspor langsung dari daerah. Ketersediaan kontainer harus menjadi bagian dari ekosistem ekspor agar komoditas unggulan Kaltara tidak selalu bergantung pada daerah lain.

Selain persoalan kontainer, dalam pertemuan tersebut pelaku usaha juga menyampaikan kendala sertifikasi untuk pengiriman ikan segar dan ikan hidup. Barantin menyebut persoalan tersebut akan dikoordinasikan dengan KKP karena saat ini terdapat penerapan standar mutu dan sertifikasi kesehatan dari dua instansi.

Barantin berharap pembenahan tidak hanya dilakukan pada aspek pelayanan sertifikasi, tetapi juga pada sisi logistik. Dengan begitu, proses pengiriman komoditas dari Kaltara dapat berlangsung lebih cepat, efisien dan kompetitif di pasar ekspor. (zar/jnr)

Editor : Januriansyah RT
kaltara perikanan ekspor pelaku usaha