TARAKAN - Paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Pantai Amal, mulai menunjukkan dampak terhadap kesehatan warga. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tarakan menemukan adanya peningkatan kasus gangguan pernapasan di wilayah kerja Puskesmas Pantai Amal, dengan perkembangan kasus yang kini tidak hanya terjadi pada anak-anak, tetapi juga mulai terlihat pada kelompok usia dewasa.
Saat dikonfirmasi, Kepala Dinkes Tarakan ,dr. Devi Ika Indriarti mengatakan, perubahan tersebut menjadi perhatian karena peningkatan kasus terjadi bersamaan dengan memburuknya kondisi udara akibat asap karhutla. Berdasarkan pemantauan Puskesmas Pantai Amal, peningkatan mulai terlihat sejak Jumat hingga Sabtu lalu.
"Sejauh ini petugas mencatat satu kasus pneumonia dan lima kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Sehari berselang, jumlahnya bertambah menjadi tiga kasus pneumonia dan delapan kasus ISPA," ujarnya, Sabtu (29/8).
Menurutnya, perkembangan tersebut tidak bisa dilepaskan dari kondisi lingkungan yang sedang terpapar asap. Karena itu, Dinkes meminta Puskesmas Pantai Amal meningkatkan pemantauan terhadap masyarakat, terutama untuk mengetahui apakah tren peningkatan kasus terus berlanjut atau mulai menurun.
“Teman-teman Puskesmas melakukan identifikasi setiap hari terkait dengan itu. Karena sebelumnya tidak seperti ini, sekarang sudah terjadi perubahan, ada peningkatan kejadian,” katanya.
Devi menjelaskan, pada awalnya peningkatan lebih banyak ditemukan pada kelompok balita. Namun, perkembangan berikutnya menunjukkan adanya pergeseran kelompok yang terdampak. Lanjutnya, kasus ISPA juga mulai terlihat meningkat pada pelayanan poli umum. Artinya, keluhan gangguan pernapasan tidak lagi didominasi pasien anak, tetapi mulai dialami masyarakat usia dewasa.
“Bukan hanya balita saja, tapi yang poli dewasa atau umum itu ada peningkatan kasus untuk penyakit ISPA,” jelasnya.
Kondisi tersebut membuat pemantauan kesehatan warga menjadi salah satu langkah penting selama asap karhutla masih menyelimuti kawasan Pantai Amal. Petugas puskesmas terus melakukan identifikasi terhadap kasus yang muncul sekaligus melihat perkembangan kondisi pasien berdasarkan kelompok umur.
"Wilayah pelayanan Puskesmas Pantai Amal juga menjadi perhatian kami karena fasilitas kesehatan tersebut melayani masyarakat di kawasan Pantai Amal. Dengan demikian, perubahan jumlah kasus yang ditemukan dapat menjadi gambaran awal mengenai dampak kondisi udara terhadap kesehatan warga di wilayah tersebut," tuturnya.
Selain memperkuat pemantauan, pihaknya bersama Puskesmas Pantai Amal mulai meningkatkan upaya perlindungan masyarakat dengan membagikan masker kepada warga. Penggunaan masker terutama dianjurkan ketika masyarakat harus beraktivitas di luar rumah pada saat kondisi udara masih dipengaruhi asap. Warga juga diminta mengurangi paparan langsung selama kualitas udara belum kembali membaik.
"Asap karhutla dapat masuk ke saluran pernapasan dan memicu berbagai keluhan kesehatan. Tidak hanya gangguan pernapasan, paparan asap juga berpotensi menyebabkan iritasi pada mata," terangnya.
“Yang kita cegah adalah asap. Kalau terhirup bisa menyebabkan batuk dan akhirnya ISPA,” tutupnya. (zac/jnr)
Editor : Januriansyah RT