TARAKAN - Harga dan ketersediaan kebutuhan pokok di Pasar Gusher Kota Tarakan relatif stabil. Namun, kondisi tersebut belum diikuti peningkatan aktivitas jual beli. Pedagang justru mengeluhkan penurunan jumlah pembeli dan omzet yang dirasakan semakin signifikan dalam dua tahun terakhir.
Hal tersebut diungkapkan Joni pedagang sayuran, ia menyebut sejumlah harga komoditas bahkan mengalami penurunan. Tomat saat ini sekitar Rp 15 ribu per kilogram, dari sebelumnya Rp 20 ribu. Terong turun menjadi Rp 10 ribu hingga Rp 12 ribu per kilogram, sementara cabai sekitar Rp 80 ribu per kilogram.
“Pembeli mengalami penurunan signifikan selama dua tahun terakhir. Yang kita bisa dapat pembeli kotor Rp 1 juta, saat ini R p500 ribu saja sudah syukur. Kurang sekali pembeli,” jelasnya, Jumat (28/8).
Pria yang sudah berjualan sekitar 10 tahun ini mengungkapkan, jumlah pembeli berkurang sekitar 50 persen. Selain persaingan dengan pedagang di luar pasar, kondisi ekonomi masyarakat dinilai turut memengaruhi daya beli.
Keluhan serupa disampaikan pedagang telur bernama Ahmad Yani. Ia menyebut saat ini telur ukuran sedang dijual sekitar Rp 55 ribu per piring dan ukuran besar Rp 60 ribu. Meski harga masih terjangkau, jumlah pembeli disebut ikut menurun.
“Telur jatuh, pembeli juga sepi. Kondisi ini membuat kami menghadapi persoalan lebih berat. Kalau pembeli berkurang, telur yang tidak terjual dalam waktu cukup lama akan rusak,” jelasnya.
Ahmad menyebut penjualannya turun dari sekitar 150 piring telur per hari menjadi hanya sekitar 50 piring. Omzet yang sebelumnya bisa mencapai Rp 5 juta sehari, kini hanya berkisar Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta.
“Sekarang ini paling separuhnya. Bukan hanya pedagang telur tapi semua. Pedagang sayur, ikan, sembako lain juga begitu. Warung makan di sini sepi, semua pedagang merasakan,” ucapnya.
Menurutnya, kondisi pasar dapat menjadi gambaran sederhana mengenai daya beli masyarakat. Dia berharap kondisi ekonomi kembali membaik sehingga aktivitas perdagangan kembali ramai. “Karena pusat pasar itu kan orang belanja. Mau tak mau, mau makan mesti ke pasar belanja. Kalau pasarnya sepi, bagaimana kira-kira?” pungkasnya. (zac/jnr)
Editor : Januriansyah RT