PM2.5 Pantai Amal Tarakan Tinggi, Warga Diminta Waspada

Zakaria RT • Dipublikasikan Kamis, 27 Agustus 2026 | 20:14 WIB
BERI DAMPAK : Asap dari karhutla yang terjadi di Kelurahan Pantai Amal. AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN
BERI DAMPAK : Asap dari karhutla yang terjadi di Kelurahan Pantai Amal. AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN

TARAKAN - Kualitas udara di kawasan Pantai Amal menjadi perhatian setelah hasil pemantauan menunjukkan kondisi Tidak Sehat. Tingginya konsentrasi partikulat halus PM2.5 membuat masyarakat yang tinggal maupun beraktivitas di kawasan tersebut diminta meningkatkan kewaspadaan, khususnya saat melakukan kegiatan di luar ruangan.

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tarakan belum menjelaskan secara rinci sumber maupun faktor utama yang menyebabkan tingginya konsentrasi PM2.5 tersebut. DLH masih menjadikan hasil pemantauan sebagai gambaran kondisi kualitas udara pada titik dan waktu tertentu.

“Masyarakat tidak perlu panik, tetapi tetap diminta meningkatkan kewaspadaan, khususnya ketika harus melakukan aktivitas di luar ruangan pada saat kualitas udara sedang mengalami penurunan," ujar Kepala DLH Kota Tarakan, Andry Rawung, Kamis (27/8).

"Kami mengimbau kepada masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di sekitar Pantai Amal agar menggunakan masker ketika berada di luar ruangan sebagai salah satu upaya mengurangi paparan partikulat dari udara,” imbuhnya.

Selain menggunakan masker, masyarakat diminta menyesuaikan aktivitas fisik dengan kondisi kualitas udara. Kelompok sensitif terutama disarankan mengurangi aktivitas fisik yang terlalu lama atau berat di luar ruangan ketika kualitas udara berada dalam kondisi kurang baik.

“Masyarakat dapat memantau perkembangan kualitas udara melalui aplikasi ISPUNet yang tersedia di Play Store maupun App Store. Informasi ini dapat menjadi salah satu rujukan bagi masyarakat sebelum melakukan aktivitas di luar rumah,” bebernya.

DLH Tarakan juga mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran sampah secara sembarangan. Pembakaran terbuka dapat menghasilkan asap dan partikulat yang berpotensi memperburuk kualitas udara di lingkungan sekitar.

Masyarakat juga didorong mengurangi sumber emisi lain yang masih dapat dikendalikan, termasuk emisi kendaraan bermotor. Langkah tersebut dinilai penting untuk membantu menjaga kualitas udara, terutama ketika konsentrasi PM2.5 sedang mengalami peningkatan.

“Menjaga kualitas udara bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Perilaku masyarakat sehari-hari juga memiliki pengaruh terhadap kondisi lingkungan, sehingga diperlukan upaya bersama untuk mengurangi sumber pencemar,” pungkasnya. (zac/jnr)

Editor : Januriansyah RT
karhutla tarakan kualitas udara