Dari Hasil Perikanan Kaltara, Nining Sundawati Sukses Raih Pundi-Pundi Rupiah

Januriansyah RT • Dipublikasikan Kamis, 27 Agustus 2026 | 17:16 WIB
INOVASI: Produk UMKM “Ba Lamok” dengan ukuran kemasan 40 gram menjadi salah satu inovasi yang dilakukan Nining Sundawati agar produknya bisa menjangkau lebih banyak konsumen. JANURIANSYAH/RADAR TARAKAN
INOVASI: Produk UMKM “Ba Lamok” dengan ukuran kemasan 40 gram menjadi salah satu inovasi yang dilakukan Nining Sundawati agar produknya bisa menjangkau lebih banyak konsumen. JANURIANSYAH/RADAR TARAKAN

Tahun 2012 menjadi awal Nining Sundawati merangkai cerita perjalanan produk UMKM-nya yang diberi nama “Ba Lamok”, berkat keinginannya belajar, kerja keras dan terus berinovasi, kini produk UMKM yang menggunakan bahan dasar hasil perikanan Kaltara ini sudah dikenal luas hingga ke negara tetangga Malaysia.

JANURIANSYAH

BAGI Nining Sundawati, keberhasilan dirinya mengenalkan produk UMKM-nya yang diberi nama “Ba Lamok” memiliki perjalanan yang cukup panjang. Semua berawal dari pemberian ikan pepija (harpadon nehereus) dari keluarga dan tetangganya di tahun 2012.

Perempuan kelahiran Malang ini pun mengolah ikan yang juga dikenal dengan nama ikan nomei tersebut menjadi cemilan rumahan yakni crispy ikan tipis dan membagikan kembali kepada keluarga dan tetangganya. Tanpa disangka respon positif dirinya dapatkan dari olahan sederhana itu.

“Setelah saya kasih ke keluarga dan tetangga, mereka malah minta pesan lagi untuk dibuatkan,” ungkapnya.

Tergabung dalam Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK), olahan ikan pepija ini ia ikutkan perlombakan dalam Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga (UP2K), di mana hal-hal tidak disangka terjadi saat mengikuti UP2K tingkat nasional.

“Jadi saya ikut di tingkat kota dan provinsi berhasil lolos, saat ikut UP2K tingkat nasional, Alhamdulillah berhasil meraih juara tiga,” urai perempuan berusia 57 tahun ini.

Dari keberhasilannya tersebut membuka jalan untuk dirinya serius menggeluti produk UMKM miliknya. Terlebih dirinya didukung Pemkot Tarakan dan salah satu BUMN dalam peningkatkan kemampuan dalam mengolah hasil perikanan yang kini ia beri nama “Ba Lamok”.

“Nama “Ba Lamok” ini diambil dari bahasa Tidung, “Ba” yang digunakan sebagai penegas atau penjelas yang bermakna sangat atau sekali, sementara “Lamok” memiliki arti enak, jadi bila diartikan jadinya enak sekali,” ungkapnya.

Menjadi salah satu pelaku UMKM binaan KPwBI Perwakilan Kaltara pada tahun 2020, membuka jalan perempuan kelahiran 1969 ini untuk lebih berinovasi dalam mengembangkan produknya. Hal tersebut tidak lepas dari pemberian pelatihan yang dilakukan KPwBI Perwakilan Kaltara yang dinilai sangat membantu pelaku UMKM.

“Pemberian pelatihan yang dilakukan BI ini sangat membantu untuk kita pelaku UMKM untuk bisa berkembang, karena menghadirkan narasumber yang kompeten pada bidangnya,” ungkapnya.

Hal tersebut terlihat dari inovasi yang telah dilakukan, mulai dari pengemasan produk dan desainnya yang lebih menarik, hingga varian produk yang kini lebih banyak dibandingkan sebelumnya. “Dulu hanya crispy ikan tipis, sekarang sudah ada beberapa produk tambahan lagi seperti cistik udang, cistik cumi, crispy teri seruyok dan sambal balado ikan asin jambal,” ucap ibu dari tiga anak ini.

Selain varian rasa produk yang lebih berwarna, ukuran produk juga sudah mulai disesuikan, di mana kini ia mulai memproduksi untuk ukuran 40 gram yang diharapkan bisa menjangkau lebih banyak konsumen.

“Jadi sebelumnya kita ada kemasan 70 gram harga Rp 20 ribu dan 90 gram harga Rp 25 ribu, sekarang kita mulai produksi untuk kemasan 40 gram dengan harga Rp 7 ribu, tentu harga yang lebih murah bisa menjadi daya tarik konsumen untuk membeli, targetnya di jual di kafe-kafe,” ujarnya.

PAMERAN NASIONAL: Nining Sundawati (kiri) membawa produk UMKM "Ba Lamok" mengikuti Karya Kreatif Indonesia 2026 di Jakarta.
PAMERAN NASIONAL: Nining Sundawati (kiri) membawa produk UMKM "Ba Lamok" mengikuti Karya Kreatif Indonesia 2026 di Jakarta.

Ia sendiri mengaku sengaja menggunakan bahan baku perikanan yang bisa didapatkan di Kaltara, karena sebagai kesempatan untuk mengenalkan ke orang-orang secara luas bahwa hasil perikanan Kaltara memiliki kualitas terbaik yang bisa bersaing dengan hasil perikanan dari daerah lain.

“Iya jadi saya ingin mengenalkan juga bahwa hasil perikanan di Kaltara tidak kalah bagusnya, seperti ikan pepija, ikan teri, udang dan hasil perikanan lainnnya, hal itu selalu saya sampaikan ketika mengikuti pameran UMKM di tingkat nasional, sehingga orang tertarik untuk berkunjung ataupun membeli hasil perikanan asal Kaltara,” ungkapnya.

Selain membantu dalam peningkatan kualitas produk, selama menjadi pelaku UMKM binaan KPwBI Perwakilan Kaltara, ia juga mengaku sangat terbantu dengan pelatihan yang diberikan dalam hal peningkatan administrasi keuangan. Adanya Sistem Informasi Aplikasi Pencatatan Informasi Keuangan (SIAPIK) yang merupakan aplikasi pencatatan keuangan digital buatan BI, di mana mempermudah pelaku UMKM dalam mengatur keuangannya.

“Pelaku UMKM ini harus pintar mengelola keuangannya, terutama menghitung profit, agar produksinya tetap terus berjalan, SIAPIK ini sangat membantu sekali bagi pelaku UMKM dalam pengelolaan kuangannya,” tuturnya.

Dari pengelolaan keuangan yang baik, ia kini bisa meraih pundi-pundi rupiah dari hasil penjualan produk UMKM “Ba Lamok”, bila diawalnya produksi ia hanya bisa meraih keuntungan ratusan ribu dalam sebulan, kini ia bisa meraih keuntungan hingga puluhan juta.

“Kalau diawal-awal hanya Rp 500 ribu hingga Rp 800 ribu omzet yang didapatkan dalam sebulan, sekarang Alhamdulillah dalam sebulan bisa Rp 50 juta hingga Rp 60 juta omzet yang bisa didapatkan,” bebernya.

Adapun memasuki era digitalisasi, dirinya menilai pelaku UMKM harus bisa menyesuaikan diri. Ia memberikan contoh pada alat pembayaran saat ini, di mana sudah menggunakan pembayaran digital seperti QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard).

“Sekarang semuanya pakai QRIS untuk pembayaran, karena memang sekarang orang jarang memegang uang tunai, jadi tidak heran pembayaran digital menjadi hal wajib dimiliki pelaku UMKM,” ungkapnya.

Selain menggunakan media sosial sebagai media promosi untuk lebih banyak menjangkau konsumen, keberadaan platform penjualan digital juga ikut membantu penjualan secara online, seperti platform Karya Kreatif Indonesia (KKI). Perlu diketahui platform ini dirancang tidak sekadar sebagai ajang promosi produk, tetapi juga sebagai platform pengembangan kewirausahaan dan ekosistem bisnis UMKM yang terintegrasi. “Dengan adanya KKI ini, kita bisa memasarkan produk kita ke seluruh Indonesia, tentu hal ini sangat membantu pelaku UMKM, terutama yang pelaku UMKM yang berada di bawah binaan BI,” ucapnya.

Saat ini ia juga sedang menargetkan pasar baru ke negara tetangga Malaysia, di mana ketika membawa langsung produknya beberapa waktu lalu ke sana, produknya mendapatkan sambutan positif dari Indo Borong yang merupakan toko ritel dan grosir di Malaysia yang khusus menjual berbagai produk dan makanan asal Indonesia.

“Saat ini untuk ekspor ke Malaysia masih diurus legalitasnya, yang urus dari toko ritel di Malaysia itu, jadi kita juga masih menunggu kabar baiknya,” ungkapnya.

Adapun dalam memproduksi produk UMKM-nya, saat ini ia sudah memiliki pekerja 5 orang yang membantu dalam hal pengolahan bahan baku, pengemasan hingga proses penjualan kepada konsumen.

“Kita tidak hanya menciptakan produk, tapi juga menciptakan lapangan pekerjaan bagi orang lain, tentu semakin banyak pelaku UMKM yang merintis usahanya, akan lebih banyak lagi lapangan pekerjaan baru yang tercipta,” urainya.

Dirinya mengakui keberhasilan yang diraihnya saat ini, kuncinya tidak lepas dari kemauan belajar, kerja keras hingga terus berinovasi. Sehingga ia berharap pelaku UMKM yang sedang berjuang tidak mudah putus asa dan menyerah ketika memulai usaha.

“Jangan jadikan persaingan dengan produk lain sebagai kendala, tapi jadikan sebagai tantangan untuk kita terus melakukan inovasi untuk meningkatkan produk menjadi lebih baik. Kemauan belajar terus-menerus juga perlu diaplikasikan agar ilmu yang didapatkan terus diupdate dan memberikan produk UMKM terbaik bagi konsumen,” pungkasnya. (***/jnr)

 

Editor : Januriansyah RT
ba lamok bank indonesia kaltara umkm produk umkm