TARAKAN – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Tarakan dan wilayah sekitarnya terus menjadi perhatian. Hingga saat ini, Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Kota Tarakan mencatat sekitar 44 kejadian karhutla yang telah ditangani. Dari jumlah tersebut, sekitar tiga hingga empat kejadian terjadi di kawasan hutan lindung. Sementara sebagian besar lainnya berada di luar kawasan hutan lindung.
Kondisi lahan yang didominasi semak belukar dan gambut menjadi tantangan tersendiri dalam penanganan. Api tidak selalu benar-benar mati meski permukaan lahan telah terlihat padam.
Kepala UPTD KPH Kota Tarakan Martinus Parewang mengatakan, karakter gambut memungkinkan api bertahan di bawah permukaan tanah. Bara tersebut dapat kembali menyala ketika suhu meningkat dan terkena terik matahari.
“Gambut itu karakternya, walaupun sudah kami padamkan dan bagian atasnya terlihat mati, ketika asap sudah tidak ada bukan berarti api benar-benar padam. Besoknya ketika kembali panas dan terkena terik matahari, api yang masih ada di bawah bisa menyala kembali dan akhirnya membakar bagian lain,” ujar Martinus.
Kondisi tersebut menjadi perhatian khusus di Kelurahan Pantai Amal. Wilayah tersebut memiliki cukup banyak semak belukar dan lahan gambut sehingga proses pemadaman harus dilakukan hingga benar-benar tuntas.
“Di Pantai Amal itu memang banyak semak belukar dan gambut. Kondisi gambut ini yang membuat penanganannya harus sampai benar-benar tuntas, karena kalau hanya bagian atas yang dipadamkan, api masih bisa bertahan di bawah dan muncul kembali ketika kondisi panas,” katanya.
Selain Pantai Amal, kejadian kebakaran juga ditemukan di sejumlah wilayah lain, seperti Juata Laut dan kawasan Gunung Selatan.
Menurut Martinus, terdapat tiga faktor utama yang dapat memicu kebakaran, yakni aktivitas manusia, faktor alami dan kondisi cuaca ekstrem.
Aktivitas manusia menjadi salah satu faktor yang paling mendapat perhatian, terutama pembukaan lahan dengan cara membakar. Cara tersebut dianggap lebih mudah dan murah, tetapi memiliki risiko api menyebar tanpa terkendali.
Sementara faktor alami berkaitan dengan material di permukaan lahan yang mengering akibat cuaca panas. Semak belukar yang kering kemudian menjadi bahan bakar ketika tersulut api. Kondisi semakin berbahaya ketika cuaca panas dan kering disertai angin. Di Pantai Amal, misalnya, angin dari arah pantai dapat mendorong penjalaran api ke lokasi lain.
“Cuaca panas dan kering menyebabkan semak belukar menjadi mudah terbakar. Apalagi kalau ada angin, seperti di wilayah Pantai Amal yang dekat dengan pantai, angin dari arah pantai bisa mendorong api sehingga cepat menjalar ke wilayah lainnya,” tutur Martinus.
Penanganan karhutla dilakukan melalui kolaborasi KPH bersama BPBD, pemadam kebakaran, kepolisian, TNI dan masyarakat. Di Pantai Amal, personel TNI Angkatan Laut juga turut terlibat sejak pemadaman hingga proses pendinginan.
KPH juga menempatkan personel di sejumlah titik rawan, antara lain Juata Laut, Juata Kerikil, Sungai Kuli, Gunung Selatan dan Mamburungan. Pemantauan turut dilakukan hingga wilayah Bunyu dan Pimping di Kabupaten Bulungan.
Namun, keterbatasan personel menjadi salah satu tantangan. Luas wilayah yang harus diawasi belum sebanding dengan jumlah sumber daya manusia yang tersedia. “Kalau idealnya, perbandingan antara personel dengan luas wilayah sebenarnya tidak cukup. Tetapi kami maksimalkan personel yang ada dengan membagi tenaga dan melihat wilayah mana yang paling rawan. Untuk Tarakan memang lebih kami prioritaskan karena jumlah kejadian di sini paling banyak,” ungkapnya.
Karena itu, Martinus meminta masyarakat ikut mengambil peran dalam pencegahan. Ia mengimbau agar pembukaan lahan tidak dilakukan dengan cara membakar. “Saya mohon kepada masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar. Mari mengelola lahan dengan cara yang ramah lingkungan,” pungkasnya. (zar/jnr)
Editor : Januriansyah RT