TARAKAN - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tarakan memastikan belum terjadi peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di tengah kondisi cuaca panas, debu serta munculnya kabut dan asap yang diduga akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Berdasarkan laporan fasilitas pelayanan kesehatan (faskes), jumlah kasus ISPA justru mengalami penurunan pada pekan terakhir.
Kepala Dinkes Tarakan, dr. Devi Ika Indrianti M.Kes mengatakan, pemantauan masih terus dilakukan melalui surveilans mingguan. Data tersebut menjadi bagian dari upaya Dinkes meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit yang berpotensi menyebabkan Kejadian Luar Biasa (KLB) atau wabah.
ISPA sendiri merupakan salah satu penyakit yang rutin masuk dalam 10 besar penyakit yang ditemukan dan dilaporkan fasilitas kesehatan. Pengumpulan data dilakukan setiap pekan, tepatnya pada hari Selasa.
“Tapi kalau kami melihat, ini kan biasanya setiap minggu dilakukan untuk meningkatkan kewaspadaan, jadi surveilansnya itu juga melakukan kegiatan, yaitu biasanya setiap hari Selasa itu mengumpulkan data terkait penyakit-penyakit yang berpotensi untuk menyebabkan terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB) atau wabah. Nah, itu biasanya dilaporkan setiap minggu di hari Selasa,” katanya, Senin (24/8).
Berdasarkan laporan tersebut, Devi menyebut tidak terdapat peningkatan kasus ISPA dari minggu ke-30 menuju minggu ke-31. Bahkan, jumlah kasus yang tercatat di fasilitas kesehatan mengalami penurunan cukup signifikan.
“Tapi berdasarkan laporan dari minggu ke-30 ke minggu ke-31, itu ISPA itu tidak mengalami peningkatan,” ujarnya.
Data Dinkes Tarakan menunjukkan jumlah kasus ISPA pada minggu ke-30 tercatat sebanyak 515 kasus. Angka tersebut kemudian turun menjadi 247 kasus pada minggu ke-31. “Untuk ISPA itu dari minggu ke-30 itu 515, sedangkan di minggu ke-31 itu 247,” kata Devi.
Artinya, sejauh data yang telah dihimpun, belum terlihat adanya peningkatan kasus ISPA meski kondisi cuaca di Tarakan saat ini cukup panas. Namun, Dinkes masih menunggu laporan berikutnya untuk melihat perkembangan kasus pada pekan selanjutnya.
Devi menjelaskan, angka 247 kasus pada minggu ke-31 merupakan data yang masuk dalam periode pekan pertama Agustus 2026. Sementara itu, data untuk pekan kedua Agustus masih dalam proses dihimpun dari fasilitas kesehatan.
“Dinkes kan laporannya setiap minggu. Jadi minggu ke-30 dan minggu ke-31, berarti minggu ini dengan minggu lalu. Itu tidak terjadi peningkatan. Yang terjadi malahan penurunan kalau kita lihat dari kasusnya ya, dari jumlah kasusnya,” jelasnya.
Devi menegaskan, data tersebut merupakan laporan pasien yang datang dan mendapatkan pelayanan kesehatan di puskesmas. Dengan demikian, angka tersebut belum dapat menggambarkan masyarakat yang mengalami gejala ISPA tetapi memilih tidak memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.
“Apakah memang ada yang batuk pilek berobat sendiri, kami enggak tahu. Tapi kan catatan ini adalah laporan dari teman-teman yang berkunjung, pasien yang berkunjung ke puskesmas. Jadi terjadi penurunan, yang awalnya 515 di minggu ke-30, menjadi 247 di minggu ke-31,” ungkapnya. (zac/jnr)
Editor : Januriansyah RT