TARAKAN – Keterbatasan personel masih menjadi salah satu tantangan dalam penanganan kejadian bencana di Kota Tarakan. Kondisi tersebut semakin terasa ketika laporan kejadian masuk berulang dalam waktu berdekatan, sementara petugas harus tetap melakukan penanganan sekaligus koordinasi dengan berbagai pihak di lapangan.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tarakan, Yonsep mengatakan, dalam kondisi tertentu laporan kejadian dapat masuk beberapa kali dalam sehari. Bahkan, jumlah laporan yang diterima bisa mencapai lima kejadian atau lebih.
Situasi tersebut membuat beban kerja personel yang tersedia cukup tinggi. Petugas tidak hanya dituntut merespons laporan, tetapi juga melakukan koordinasi dan memastikan penanganan berjalan hingga kondisi di lapangan dapat dikendalikan.
“Dalam kondisi tertentu laporan kejadian dapat masuk beberapa kali dalam satu hari. Bahkan, petugas bisa menerima hingga lima laporan atau lebih. Situasi ini membuat beban kerja personel yang tersedia menjadi cukup tinggi. Dalam penanganan tertentu, petugas bahkan harus bekerja dengan pola waktu yang panjang,” jelasnya, Jumat (21/8).
Panjangnya waktu penanganan juga berpengaruh terhadap kondisi fisik petugas. Yonsep menyebut, personel BPBD terkadang harus bekerja sejak pagi hingga kembali pagi berikutnya ketika menghadapi kejadian yang membutuhkan penanganan cukup lama.
“Bayangkan kerja dari pagi sampai ketemu pagi, tidak jarang setelah kejadian anggota kami mengalami down secara fisik,” tukasnya.
Meski personel internal terbatas, BPBD Tarakan selama ini tetap mendapat dukungan dari sejumlah instansi dan lembaga yang memiliki sumber daya untuk membantu penanganan di lapangan. Dukungan tersebut di antaranya berasal dari Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) maupun pihak terkait lainnya.
Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) juga dapat memberikan dukungan ketika kondisi di lapangan membutuhkan sumber daya tertentu. Namun, menurut Yonsep, bantuan lintas instansi tersebut tetap tidak dapat menggantikan kebutuhan personel teknis di dalam tubuh BPBD.
“Bantuan lintas instansi ini tetap merupakan dukungan dari luar organisasi. BPBD tetap membutuhkan personel teknis yang berada di dalam struktur organisasi untuk menjalankan fungsi penanggulangan bencana secara berkelanjutan. Supporting itu bagian daripada luar, tapi yang di dalam itu kan perlu tenaga yang teknis,” katanya.
Di tengah keterbatasan tersebut, keberadaan Barisan Relawan Kebakaran (Balakar) turut membantu BPBD dalam menangani kejadian di lapangan. Para relawan dapat diterjunkan ketika kebutuhan personel meningkat.
Yonsep menyebut, dalam kegiatan tertentu sekitar 20 anggota Balakar dapat turun membantu penanganan. Keberadaan mereka dinilai cukup membantu, terutama ketika jumlah petugas yang dibutuhkan melebihi personel yang tersedia.
“Kalau mereka Balakar, yang turun itu selalu 20 orang yang ada. Jadi sangat terbantu kita dengan itu,” ujarnya.
Namun, Yonsep menegaskan Balakar tidak dapat sepenuhnya menggantikan posisi personel teknis BPBD. Status mereka sebagai relawan membuat keterlibatannya menyesuaikan kondisi dan kesediaan masing-masing anggota. “Mereka kan punya pekerjaan lain juga,” tukasnya.
Ia menjelaskan, anggota Balakar tidak menerima gaji sebagai pegawai BPBD karena memang berstatus sebagai relawan. Selama ini keterlibatan mereka lebih didasarkan pada kepedulian dan kesediaan membantu masyarakat ketika terjadi kondisi darurat.
Karena itu, dukungan relawan dan instansi lain tetap dipandang sebagai bagian penting dalam memperkuat respons kebencanaan. Namun, kebutuhan terhadap personel teknis di dalam struktur BPBD tetap diperlukan agar penanggulangan bencana dapat berjalan secara berkelanjutan. “Supporting itu bagian daripada luar, tapi yang di dalam itu kan perlu tenaga yang teknis,” katanya. (zac/jnr)
Editor : Januriansyah RT