Kualitas Udara Menurun, Dinkes Tarakan Minta Warga Kurangi Aktivitas di Luar

Zakaria RT • Dipublikasikan Rabu, 19 Agustus 2026 | 20:12 WIB
ILUSTRASI AI
ILUSTRASI AI

TARAKAN - Kondisi udara di Tarakan yang belakangan kurang baik membuat masyarakat diminta lebih waspada terhadap risiko gangguan pernapasan. Meski data kunjungan ke puskesmas belum menunjukkan peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA), Dinas Kesehatan (Dinkes) Tarakan tetap mengingatkan warga untuk mengurangi aktivitas di luar rumah, terutama ketika kondisi cuaca panas, berkabut dan mendung.

Kepala Dinkes Tarakan, dr Devi Ika Indriarti M.Kes mengatakan, masyarakat sebaiknya tidak memaksakan diri beraktivitas di luar rumah apabila tidak memiliki kepentingan mendesak. Terlebih, kondisi kualitas udara dapat berubah seiring dengan perkembangan kebakaran lahan dan keberadaan asap di wilayah permukiman.

“Jadi tetap kalau misalnya keadaan cuaca seperti sekarang, terlalu panas, kemudian berkabut dan mendung, kalau tidak perlu keluar rumah ya dihindari, dikurangi untuk keluar rumah,” katanya, Rabu (19/8).

Meski demikian, Devi menyebut kondisi tersebut belum tercermin dalam peningkatan kasus ISPA yang tercatat di puskesmas. Bahkan, berdasarkan laporan yang diterima Dinkes, kasus ISPA justru mengalami penurunan.

Namun, data tersebut belum bisa menggambarkan kondisi seluruh masyarakat. Sebab, laporan yang diterima Dinkes hanya berasal dari warga yang datang dan mendapatkan pelayanan di fasilitas kesehatan.

“Dari data yang masuk dalam laporan Dinkes merupakan data berdasarkan kunjungan masyarakat ke puskesmas. Sementara masyarakat yang mengalami gejala ringan seperti batuk atau pilek bisa saja memilih melakukan pengobatan secara mandiri di rumah,” ungkapnya.

“Apakah memang ada yang batuk pilek berobat sendiri, kami enggak tahu juga. Catatan ini adalah laporan dari teman-teman pasien yang berkunjung ke puskesmas,” sambungnya.

Karena itu, Dinkes masih menunggu laporan surveilans pada pekan berikutnya untuk melihat apakah terjadi perubahan tren kasus. Pemantauan diperlukan karena kondisi cuaca dan kualitas udara masih berpotensi berubah, khususnya jika kebakaran lahan terus terjadi dan asap bertahan cukup lama.

Di tengah kondisi tersebut, masyarakat yang mengalami demam, batuk dan pilek juga diminta membatasi kontak dengan orang lain. Penggunaan masker disarankan sebagai langkah pencegahan, terutama ketika harus beraktivitas di luar rumah dalam kondisi udara yang kurang baik.

“Kalau demam, batuk, pilek, hindari kontak dalam satu rumah, dikurangi kerumunannya atau kontaknya, kemudian pakai masker,” jelasnya.

Devi menjelaskan, Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) merupakan infeksi yang menyerang saluran pernapasan bagian atas. Gejala yang paling umum dirasakan penderita yakni demam, batuk dan pilek.

“ISPA itu adalah Infeksi Saluran Pernapasan Atas. Gejalanya itu biasanya demam, batuk, pilek. Itu yang lebih dominan,” jelasnya.

Selain mengurangi paparan udara yang kurang baik, masyarakat juga diminta menjaga daya tahan tubuh. Perubahan cuaca yang cukup ekstrem perlu diimbangi dengan pola hidup sehat agar tubuh tidak mudah mengalami gangguan kesehatan.

“Cuaca yang berubah-ubah dapat menjadi salah satu kondisi yang membuat tubuh lebih mudah mengalami gangguan kesehatan apabila tidak diimbangi dengan pola hidup yang baik. Karena itu, masyarakat diharapkan menjaga waktu istirahat, mencukupi kebutuhan tidur, mengonsumsi makanan bergizi, memperbanyak minum air putih dan tetap melakukan aktivitas fisik sesuai kondisi tubuh,” urainya.

Ia menambahkan, menjaga pola hidup sehat menjadi bagian penting dalam mempertahankan imunitas tubuh, khususnya ketika kondisi lingkungan sedang kurang baik. “Kalau kita tetap menjaga kesehatan, misalnya istirahat yang cukup, tidurnya cukup, makan makanan yang bergizi, minum air putih yang cukup, dan melakukan aktivitas fisik, itu bisa untuk meningkatkan imunitas kita,” pungkasnya. (zac/jnr)

Editor : Januriansyah RT
kualitas udara menurun karhutla tarakan kabut asap