21 Titik Karhutla Bakar 52,82 Hektare Lahan di Tarakan

Zakaria RT • Dipublikasikan Selasa, 18 Agustus 2026 | 20:06 WIB
Kepala BPBD Kota Tarakan Yonsep. AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN
Kepala BPBD Kota Tarakan Yonsep. AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN

TARAKAN - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Tarakan sepanjang Agustus 2026 menunjukkan angka yang cukup tinggi. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tarakan mencatat sedikitnya 21 titik kebakaran dengan total luasan lahan yang terbakar mencapai 52,82 hektare.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena sejumlah titik kebakaran berada di kawasan hutan. Penanganan di lapangan pun tidak hanya dilakukan BPBD, tetapi melibatkan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) serta organisasi relawan.

Kepala BPBD Tarakan, Yonsep mengatakan, berdasarkan data yang dihimpun hingga saat ini, terdapat 21 titik kebakaran lahan yang terjadi selama Agustus. Luasan lahan yang terdampak juga cukup besar dibandingkan luas area yang biasanya terbakar dalam satu kejadian.

“Di bulan Agustus saja itu 21 titik. Dan luas kebakaran lahan yang terjadi itu 52,82 hektare. Cukup luas,” katanya, Selasa (18/8).

Menurutnya, kondisi tersebut membutuhkan kesiapsiagaan karena kebakaran lahan dapat dengan cepat meluas, terutama ketika kondisi cuaca kering dan vegetasi di sekitar lokasi mudah terbakar. Penanganan juga menjadi lebih sulit ketika titik api berada jauh dari akses kendaraan maupun sumber air.

"BPBD bersama KPH dan relawan terus melakukan penanganan terhadap titik-titik kebakaran yang ditemukan. Koordinasi dilakukan untuk mempercepat pemadaman sekaligus mencegah api merambat ke area lain," tuturnya.

Namun, salah satu kendala utama yang dihadapi petugas bukan hanya keterbatasan peralatan. Ketersediaan sumber daya air di sekitar lokasi kebakaran juga menjadi persoalan tersendiri. “Bukan hanya karena tidak ada alat, tapi karena sumber daya air yang ada. Itu yang mengakibatkan kita menggunakan secara konvensional,” urainya.

Kondisi tersebut membuat petugas harus menyesuaikan metode penanganan dengan situasi di lapangan. Ketika sumber air sulit dijangkau, proses pemadaman membutuhkan waktu dan tenaga lebih besar.

Selain persoalan karhutla, BPBD juga tengah mewaspadai sejumlah titik pembakaran batu bara bawah permukaan. Kondisi tersebut dinilai berbeda dengan kebakaran lahan biasa karena material batu bara yang terbakar dapat membentuk rongga di bawah tanah dan berpotensi mengganggu kestabilan tanah.

"Kami mencatat potensi material batu bara terdapat di empat titik, yakni dua kawasan Amal, satu di Juata Kerikil dan satu di Pasir Putih. Salah satu lokasi di kawasan Amal bahkan berada dekat dengan akses jalan sehingga berpotensi mengganggu infrastruktur apabila kondisi bawah tanah semakin tidak stabil," jelasnya.

Dengan masih berlangsungnya musim kemarau dan keterbatasan sumber air di sejumlah lokasi, BPBD mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran lahan. “Bukan hanya karena tidak ada alat, tapi karena sumber daya air yang ada,” pungkasnya. (zac/jnr)

Editor : Januriansyah RT
karhutla tarakan bpbd kebakaran lahan