TARAKAN - Ratusan warga memadati kawasan Simpang 4 Gedung Tarakan Mall (GTM), Senin (17/8) siang. Mereka rela menghentikan aktivitas dan berkumpul di tengah kawasan tersebut untuk mengikuti momentum detik-detik Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia (RI), yang ditandai dengan pembentangan Merah Putih berukuran raksasa berukuran 17 x 8 meter, suasana pun semakin khidmat ketika lagu Indonesia Raya dikumandangkan.
Saat dikonfirmasi, Ketua BPK OI Tarakan, Che Ageng mengatakan, ukuran Merah Putih yang digunakan terus diperbesar dari tahun ke tahun. Saat pertama kali digelar, Merah Putih yang dibentangkan hanya berukuran sekitar 5 x 3 meter. Diketahui, pembentangan Merah Putih raksasa itu bukan kali pertama dilakukan. Tradisi tersebut telah dirintis sejak 2015 dan terus dilaksanakan setiap momentum peringatan kemerdekaan.
“Awalnya panjang Merah Putih kami sekitar 5 meter dengan lebar 3 meter. Kemudian terus kami tambah ukurannya hingga sekarang menjadi 17 x 8 meter,” ujarnya, Senin (17/8).
Ukuran tersebut, kata dia, dipersiapkan khusus untuk memperkuat nuansa peringatan 17 Agustus. Meski demikian, Merah Putih raksasa tersebut juga dapat digunakan dalam berbagai kegiatan lain yang membawa semangat nasionalisme.
Bagi OI, pembentangan Merah Putih di ruang publik menjadi cara untuk mengajak masyarakat mengambil bagian dalam peringatan kemerdekaan. Terutama bagi masyarakat yang tidak berkesempatan mengikuti upacara secara formal.
“Walaupun mungkin ada teman-teman yang sudah jarang ikut upacara, jangan sampai kita melewatkan momen detik-detik Proklamasi. Kami berpikir harus ada sesuatu yang bisa menggerakkan mereka. Akhirnya kami memilih Merah Putih,” tambahnya.
Che Ageng menegaskan, penghormatan terhadap Merah Putih tidak boleh terpengaruh perbedaan pandangan maupun kepentingan politik. Kritik terhadap pemerintah, menurutnya, tetap menjadi hal yang wajar dalam kehidupan demokrasi. Namun, hal tersebut tidak boleh mengurangi rasa hormat terhadap simbol negara.
“Kalau kita tidak suka dengan kebijakan pemerintah, silakan kritik pemerintahnya. Tetapi Merah Putih harus tetap berkibar. Ini adalah simbol perjuangan para pahlawan yang harus kita hormati,” tegasnya.
Dalam aksi tersebut, sedikitnya 30 relawan menjadi pemegang utama bendera. Selain anggota OI, kegiatan juga melibatkan dan mendapat dukungan dari sejumlah elemen masyarakat serta komunitas lokal di Tarakan.
Antusiasme masyarakat bahkan telah terlihat sejak pagi. Warga mulai berdatangan sekitar pukul 09.00 WITA, meskipun prosesi pembentangan baru dilaksanakan sekitar pukul 11.17 WITA.
“Antusiasme masyarakat luar biasa. Kegiatan kami sekitar pukul 11.17 WITA, tetapi sejak pukul 09.00 masyarakat sudah datang. Bahkan ada yang menghubungi kami menanyakan apakah kegiatan tetap dilaksanakan,” terangnya. (zac/jnr)
Editor : Januriansyah RT