TARAKAN – Dinamika pasar keuangan domestik dan global sangat sensitif terhadap arah kebijakan moneter. Di tengah ketidakpastian perekonomian dunia yang belum sepenuhnya mereda, kepastian figur yang memimpin bank sentral dinilai menjadi salah satu jangkar penting dalam menjaga ekspektasi dan kepercayaan investor.
Hal itu disampaikan Direktur Politeknik Bisnis Kaltara sekaligus anggota Forum Komunikasi Akademisi Penulis Populer Kebijakan Bank Indonesia (BI), Dr. Ana Sriekaningsih, S.E., S.Th., M.M., dalam melihat respons pasar terhadap pencalonan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur BI.
Menurut Ana, pasar cenderung tidak menyukai kejutan. Penunjukan sosok yang sebelumnya menjabat sebagai Deputi Gubernur Senior BI dinilai memberikan sinyal adanya kesinambungan kebijakan di tubuh bank sentral.
“Pasar tidak menyukai kejutan. Penunjukan sosok incumbent yang sebelumnya menjabat sebagai Deputi Gubernur Senior BI mengirimkan pesan kuat kepada pelaku ekonomi bahwa kesinambungan kebijakan moneter terjamin secara utuh,” ujarnya, Kamis (13/8).
Ia menjelaskan, respons pasar terhadap perubahan kepemimpinan bank sentral biasanya berlangsung cepat melalui mekanisme sentimen. Figur yang telah familiar dengan dinamika internal BI dinilai mampu meredam spekulasi yang berpotensi memicu gejolak apabila terjadi perubahan fundamental kebijakan secara mendadak.
Menurutnya, sinyal yang tidak kalah penting adalah semakin kuatnya harmonisasi antara otoritas moneter dan fiskal. Sinergi kebijakan BI dengan Kementerian Keuangan menjadi salah satu faktor penting dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global.
“Di tengah lanskap ekonomi global yang penuh ketidakpastian, sinergi bauran kebijakan moneter-fiskal adalah benteng pertahanan utama,” jelasnya, Kamis (13/8).
Ana juga menyoroti pergerakan nilai tukar rupiah yang menunjukkan penguatan setelah munculnya kepastian mengenai pencalonan tersebut. Penguatan rupiah hingga berada di kisaran Rp17.740 per dolar Amerika Serikat (AS), menurutnya, tidak dapat dilepaskan dari kombinasi sentimen domestik dan faktor eksternal.
Dari sisi internal, rekam jejak panjang figur yang berasal dari lingkungan otoritas keuangan memberikan tingkat kepercayaan tersendiri bagi pasar. Sementara dari sisi eksternal, pergerakan indeks dolar AS serta dinamika imbal hasil atau yield obligasi global turut memberikan ruang bagi penguatan mata uang negara berkembang.
Meski demikian, Ana mengingatkan agar penguatan rupiah yang muncul akibat sentimen awal terhadap figur calon pimpinan BI tidak dibaca sebagai jaminan stabilitas dalam jangka panjang. “Penguatan rupiah yang dipicu sentimen figur awal ini berkarakter sementara. Stabilitas nilai tukar yang berkelanjutan tidak dapat digantungkan seutuhnya pada reputasi personal, melainkan pada kredibilitas dan independensi institusional BI,” katanya.
Ke depan, ia menilai terdapat dua tantangan strategis yang harus dihadapi kepemimpinan baru BI. Pertama, menjaga stabilitas nilai tukar melalui optimalisasi berbagai instrumen moneter dan pasar keuangan.
Instrumen tersebut antara lain intervensi pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta pendalaman pasar uang melalui Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Kedua, memastikan kebijakan moneter mampu ditransmisikan secara efektif ke sektor riil. Kelonggaran likuiditas harus dapat mendorong peningkatan penyaluran kredit perbankan sehingga mampu menopang pertumbuhan ekonomi tanpa mengorbankan stabilitas harga.
“Kesinambungan arah kebijakan adalah awal yang sangat baik. Tugas selanjutnya adalah membuktikan bahwa stabilitas moneter mampu dirajut menjadi fondasi pertumbuhan ekonomi nasional yang tangguh dan inklusif,” pungkasnya. (zac/jnr)
Editor : Januriansyah RT