Bantah Wajibkan Kontribusi Rp 3 Juta bagi Mahasiswa yang Tidak Ikut Study Tour, Ini Penjelasannya

Zakaria RT • Dipublikasikan Kamis, 13 Agustus 2026 | 21:26 WIB
Dekan Fakultas Ekonomi UBT Prof. Dr. E. Mohamad Nur Utomo, S.E., M.Si.,
Dekan Fakultas Ekonomi UBT Prof. Dr. E. Mohamad Nur Utomo, S.E., M.Si.,

TARAKAN – Polemik kontribusi Rp 3 juta dalam kegiatan tur akademik mahasiswa Program Studi Magister Manajemen Universitas Borneo Tarakan (UBT) mendapat penjelasan dari pihak kampus. Pembayaran tersebut ditegaskan bukan pungutan wajib dan tidak menjadi syarat bagi mahasiswa untuk mengikuti proses akademik maupun menyelesaikan pendidikan.

Dekan Fakultas Ekonomi UBT Prof. Dr. E. Mohamad Nur Utomo, S.E., M.Si., mengatakan, tur akademik merupakan bagian dari kegiatan Program Studi Magister Manajemen meskipun tidak tercantum dalam struktur kurikulum. Karena itu, mahasiswa memiliki pilihan untuk mengikuti atau tidak mengikuti kegiatan tersebut.

“Ini sifatnya kolektif agar program tersebut sukses berjalan. Tapi tidak mutlak. Karena terbukti ada yang tidak ikut, tidak membayar,” jelasnya, Kamis (14/8).

Ia menegaskan, mahasiswa yang memiliki pekerjaan, tugas maupun alasan lain sehingga tidak dapat mengikuti perjalanan tetap diperbolehkan tidak ikut. Begitu pula dengan kontribusi Rp 3 juta yang menjadi salah satu poin keluhan mahasiswa.

Menurutnya, tidak terdapat sanksi bagi mahasiswa yang tidak mengikuti tur akademik dan tidak memberikan kontribusi. Kondisi tersebut juga tidak berpengaruh terhadap proses pendidikan mahasiswa.

“Yang pasti yang tidak berkontribusi, tidak ikut jalan dan tidak membayar Rp3 juta itu tidak dipersoalkan,” katanya.

Nur Utomo mengatakan, keberadaan mahasiswa yang tidak mengikuti kegiatan tetapi tetap dapat menyelesaikan pendidikan menjadi bukti bahwa kontribusi tersebut bukan bagian dari persyaratan akademik.

“Buktinya mereka wisuda semua. Kalau ada yang dipandang ini catatan, mereka saja semua ada 105. 105 yang di angkatan itu sudah wisuda semua,” ujarnya.

Ia memastikan seluruh mahasiswa tetap memperoleh hak akademik yang sama. Tidak ada pembedaan dalam pemberian bimbingan maupun pelaksanaan ujian antara mahasiswa yang mengikuti tur dengan mahasiswa yang memilih tidak ikut.

“Mereka sama, mendapatkan bimbingan dari dosen yang sama, ikut ujian sama-sama. Tidak ada perlakuan yang berbeda,” tegasnya.

Di sisi lain, Nur Utomo menyebut terdapat mahasiswa yang tidak mengikuti perjalanan tetapi tetap memberikan kontribusi. Menurutnya, kontribusi tersebut diberikan atas dasar kebersamaan dan bukan karena adanya kewajiban.

Ia mencontohkan mahasiswa yang sebelumnya telah mempersiapkan diri untuk mengikuti perjalanan, namun kemudian tidak dapat berangkat karena waktu kegiatan berbenturan dengan pekerjaan maupun tugas.

“Ada juga yang tidak ikut tetapi berkontribusi karena kebersamaan. Mereka sebenarnya ingin ikut, tetapi kebetulan ada tugas, waktunya bertabrakan, sehingga mereka tetap memberikan kontribusi agar secara kolektif programnya sukses berjalan,” katanya.

Karena itu, ia meminta persoalan kontribusi Rp3 juta dilihat dalam konteks kesepakatan bersama mahasiswa. Pihaknya membantah apabila nominal tersebut disebut sebagai pungutan wajib yang ditetapkan fakultas.

Nur Utomo juga meluruskan substansi kegiatan yang menjadi sorotan. Menurutnya, tur akademik tidak dapat disamakan dengan kegiatan wisata karena terdapat agenda yang berkaitan dengan pengayaan wawasan dan kompetensi mahasiswa. “Jadi kegiatannya bukan jalan-jalan tapi memang ada banyak manfaat yang didapatkan dari kegiatan itu,” tegasnya.

Meski telah memberikan klarifikasi, pihak fakultas tetap mengakui perlunya evaluasi terhadap pelaksanaan kegiatan. Evaluasi diperlukan agar mekanisme kegiatan dan komunikasi kepada mahasiswa ke depan lebih jelas.

Menurutnya, evaluasi juga penting untuk mencegah munculnya kembali kesalahpahaman mengenai status kegiatan, mekanisme pembiayaan maupun kontribusi mahasiswa. “Dari ini kita perlu evaluasi agar tidak ada permasalahan lagi ke depan. Kita juga evaluasi agar lebih baik,” pungkasnya. (zac/jnr)

Editor : Januriansyah RT
study tour mahasiwa tarakan