Ada Dugaan Pungli Berkedok Study Tour di UBT? Ini Tanggapan Pihak Fakultas

Zakaria RT • Dipublikasikan Kamis, 13 Agustus 2026 | 20:56 WIB
ILUSTRASI AI
ILUSTRASI AI

TARAKAN - Adanya keluhan salah satu mahasiswa Magister Ekonomi Universitas Borneo Tarakan (UBT), yang mempersoalkan adanya dugaan pungutan liar (pungli) berkedok study tour mendapat tanggapan dari pihak kampus. Pihak fakultas meluruskan bahwa kegiatan yang menjadi sorotan tersebut merupakan tur akademik yang diperuntukkan khusus bagi mahasiswa Program Studi Magister Manajemen dan telah menjadi bagian dari kegiatan program studi sejak beberapa tahun terakhir.

Saat dikonfirmasi, Dekan Fakultas Ekonomi UBT Prof. Dr. E. Mohamad Nur Utomo, S.E., M.Si., menjelaskan, tur akademik tersebut tidak dapat disamakan dengan kegiatan wisata biasa. Menurutnya, kegiatan tersebut dirancang sebagai sarana pengayaan mahasiswa dan peningkatan kompetensi di luar kegiatan perkuliahan reguler.

“Yang pertama, kegiatan tur akademik itu khususnya untuk mahasiswa S2 Magister Manajemen. Kegiatan itu merupakan bagian dari kegiatan di Prodi Magister Manajemen. Walaupun memang tidak masuk dalam struktur kurikulum, tapi dia menjadi bagian,” jelasnya, Kamis (14/8).

Ia mengatakan, tur akademik tersebut memang tidak tercantum sebagai mata kuliah atau kegiatan yang masuk dalam struktur kurikulum. Namun, kegiatan tersebut tetap menjadi bagian dari aktivitas program studi yang bertujuan memberikan pengalaman akademik secara langsung kepada mahasiswa.

Menurutnya, kegiatan tersebut juga bukan sesuatu yang baru muncul atau dilaksanakan secara tiba-tiba. Sejak Program Studi Magister Manajemen berdiri sekitar tiga tahun lalu, kegiatan serupa telah dilaksanakan dan kegiatan terakhir merupakan pelaksanaan yang ketiga.

“Ini bukan sesuatu yang baru, karena sejak Magister Manajemen ini berdiri sudah tiga tahun lalu itu sudah dilaksanakan. Jadi ini merupakan yang ketiga kali tur akademik itu,” katanya.

Dijelaskannya, persoalan pembiayaan muncul karena tur akademik tersebut tidak masuk dalam struktur kurikulum. Dengan demikian, pembiayaan kegiatan tidak masuk dalam pembiayaan universitas.Namun, sebelum kegiatan dilaksanakan, pihak program studi telah melakukan sosialisasi kepada mahasiswa. Bahkan, menurutnya, pembahasan telah disampaikan sejak mahasiswa berada pada awal masa perkuliahan.

“Karena tur akademik itu tidak terstruktur di kurikulum, tapi dia bagian dari kegiatan Prodi, makanya dia tidak ter-cover dalam pembiayaan di universitas,” ungkapnya.

Pada pelaksanaan terakhir, terdapat tiga kelas mahasiswa yang terlibat. Untuk membahas pelaksanaan kegiatan, pihak program studi tidak langsung menentukan secara sepihak, melainkan melakukan sosialisasi dan musyawarah bersama mahasiswa.

Sejumlah pertemuan dilakukan, termasuk melalui rapat dan pertemuan secara daring menggunakan Zoom. Dari rangkaian pembahasan tersebut kemudian muncul kesepakatan mengenai pelaksanaan kegiatan dan kontribusi mahasiswa. “Dari rapat tersebut, timbullah kesepakatan. Jadi intinya adalah kesepakatan, jadi bukan sesuatu yang kita wajibkan,” tegasnya. (zac/jnr)

Editor : Januriansyah RT
study tour dugaan pungli tarakan ubt