Kekeringan Picu Karhutla, 6 Hektare Lahan Terbakar di Tarakan Timur

Zakaria RT • Dipublikasikan Rabu, 12 Agustus 2026 | 20:18 WIB
KARHUTLA: Petugas BPBD Tarakan melakukan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di salah satu titik kebakaran. ISTIMEWA
KARHUTLA: Petugas BPBD Tarakan melakukan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di salah satu titik kebakaran. ISTIMEWA

TARAKAN – Kondisi cuaca yang cenderung kering dalam beberapa pekan terakhir mulai meningkatkan kerawanan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Tarakan. Sejumlah titik kebakaran kembali muncul di beberapa kawasan, dengan luasan lahan yang terbakar cukup signifikan dan proses pemadaman masih terus dilakukan petugas.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tarakan Yonsep menerangkan, salah satu kebakaran terjadi di wilayah Tarakan Timur dengan luasan lahan yang terbakar diperkirakan mencapai 5 hingga 6 hektare. Sementara luasan kebakaran di Juata Permai belum dapat dipastikan.

Menurut Yonsep, kondisi kekeringan menjadi salah satu faktor yang meningkatkan potensi kebakaran. Di sisi lain, aktivitas masyarakat yang melakukan pembakaran kebun tanpa pengawasan juga dapat memicu api meluas. “Pemicunya karena kekeringan. Terus kedua, memang ada masyarakat yang membakar kebun dan tidak terkendali,” tuturnya, Selasa (12/8).

Kondisi kekeringan sendiri telah berlangsung sekitar dua pekan. Meski Tarakan tidak mengenal musim kemarau secara khusus seperti daerah lain, cuaca kering tetap meningkatkan kerawanan karhutla. “Memang musim kemarau daerah lain. Kalau kita Tarakan ini tidak ada musim, tetapi kekeringan ada,” jelasnya.

Dalam penanganan karhutla, sejumlah petugas mengalami luka ringan akibat tergores ranting maupun medan yang sulit. Kondisi tersebut terjadi ketika personel membawa selang dan masuk ke area yang berhadapan langsung dengan api. Namun, luka yang dialami tidak sampai menimbulkan kondisi serius.

“Ada, tapi enggak terlalu parah lah, kayak luka-luka ada. Luka ringan aja, tergores, karena membawa selang, membawa masuk, berhadapan dengan api. Karena kita didampingi oleh PMI, cepat penanganannya. Enggak ada yang fatal,” ujarnya.

Yonsep menambahkan, tugas BPBD tidak hanya memadamkan kebakaran. Personel juga melakukan patroli, evakuasi, penyelamatan korban, penanganan pengungsi, mitigasi hingga penyelamatan hewan saat bencana.

“Petugas kami juga patroli, jadi apa yang dilakukan BPBD sebenarnya mengerjakan tugas berbagai sektor. Kita juga memadamkan api seperti Damkar, menyelamatkan korban bencana alam seperti Basarnas, mengurus pengungsi seperti PMI, melakukan mitigasi bahkan menyelamatkan hewan saat bencana itu juga,” katanya.

Karena luasnya cakupan tugas tersebut, BPBD berharap penambahan personel dapat direalisasikan tahun depan. Penambahan personel dinilai diperlukan agar beban kerja dapat lebih proporsional dan penanganan bencana semakin maksimal. “Kami berharap di tahun depan ada penambahan personel agar BPBD Tarakan untuk meningkatkan kinerja lebih maksimal,” tegasnya.

 

Di tengah kondisi kering, masyarakat juga diminta berhati-hati saat melakukan pembakaran lahan. BPBD meminta warga tidak meninggalkan api tanpa pengawasan serta menyiapkan sumber air untuk mencegah api meluas.

“Kita juga tidak melarang masyarakat untuk berusaha untuk kehidupannya seperti berkebun. Tetapi alangkah bijaknya kalau membakar itu dijaga, terus menyediakan sumber air sebelum menjadi kebakaran yang meluas,” tuturnya.

Masyarakat yang membutuhkan pendampingan dapat berkoordinasi dengan pihak kehutanan maupun BPBD melalui layanan 112. Pendampingan tersebut dapat dilakukan sebagai langkah mitigasi awal sebelum masyarakat melakukan pembakaran lahan.

“Bisa menghubungi pihak kehutanan atau BPBD melalui 112 untuk mitigasi awal kalau mau membakar. Ada pendampingan,” pungkasnya. (zac/jnr)

Editor : Januriansyah RT
karhutla tarakan kebakaran