TARAKAN - Penunjukan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia (BI) dinilai menjadi sinyal positif bagi pasar sekaligus membuka harapan terhadap kesinambungan kebijakan moneter nasional. Pengalaman Destry sebagai Deputi Gubernur Senior BI dinilai menjadi modal penting untuk menjaga stabilitas rupiah sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi di tengah tekanan global dan ruang fiskal pemerintah yang semakin terbatas.
Saat dikonfirmasi, Akademisi Ekonomi dari Universitas Borneo Tarakan (UBT) Dr. Margiyono, S.E., M.Si mengatakan respons positif pasar terlihat dari penguatan nilai tukar rupiah setelah Destry diajukan sebagai calon tunggal menggantikan Perry Warjiyo. Rupiah pada Senin (10/8) ditutup menguat 142 poin ke level Rp 17.755 per dolar AS dari Rp 17.897 per dolar AS sebelumnya.
“Pada saat hari ini, rupiah mengalami penguatan yang sangat signifikan yang belakangan itu Rp 18.000 sekian. Sekarang kembali menguat menjadi Rp 17.700, itu menurut saya adalah bagian dari sinyal pasar bahwa keberadaan dari Ibu Destry itu sangat direspons positif oleh pasar,” ujarnya, Selasa (11/8).
Ia menilai Destry memiliki pengalaman kuat dalam pengelolaan kebijakan moneter, termasuk saat menghadapi pandemi Covid-19. Ketika itu, BI bersama pemerintah harus menjaga stabilitas sistem keuangan sekaligus mencegah kontraksi ekonomi semakin dalam.
“Barangkali selain penerimaan pasar, memang Ibu Destry sendiri adalah sosok Deputi Gubernur Senior yang sudah malang melintang di otoritas moneter dan memiliki pengalaman yang cukup memadai dalam hal ini adalah ketika Covid-19 itu melanda,” katanya.
Menurut Margiyono, pengalaman tersebut menjadi modal penting bagi Destry apabila nantinya resmi memimpin BI. Kebijakan moneter ke depan harus mampu menjaga stabilitas sekaligus memberikan ruang bagi sektor riil untuk berkembang.Margiyono juga menilai keputusan mengajukan satu nama sebagai calon Gubernur BI dapat meminimalkan ketidakpastian di pasar. Pergantian pimpinan bank sentral merupakan momentum sensitif karena berkaitan dengan kepercayaan pasar.
“Dengan dipilihnya Ibu Destry sebagai calon tunggal itu menunjukkan bahwa potensi persaingan atau kompetisi di Bank Indonesia itu juga bisa diminimalisir, bisa dikelola dengan baik,” jelasnya.
Menurutnya, pencalonan Destry juga menunjukkan adanya keselarasan antara otoritas moneter dan pemerintah. “Dengan demikian maka sinyal positif yang ditangkap oleh pasar, terjadi keselarasan, keserasian, dan kesepakatan antara otoritas moneter dalam hal ini Bank Indonesia dan otoritas fiskal dalam hal ini pemerintah yaitu mengajukan Ibu Destry,” katanya.
Meski respons pasar positif, Margiyono mengingatkan Destry menghadapi pekerjaan rumah untuk menjaga stabilitas rupiah sekaligus mendorong pertumbuhan kredit. Menurutnya, ruang fiskal pemerintah yang terbatas membuat sektor perbankan harus mengambil peran lebih besar dalam pembiayaan ekonomi. Ia mencatat BI masih mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen. Sementara pertumbuhan kredit perbankan pada Juni 2026 mencapai 12,67 persen secara tahunan.
“Di tengah guncangan ini tentu banyak hal yang harus diperbaiki, terutama adalah selain nilai tukar rupiah yang harus dipertahankan lebih kuat lagi adalah Ibu Destry memiliki PR yang cukup kuat yaitu bagaimana mendorong penyerapan kredit,” katanya.
Namun, kebijakan mendorong kredit tidak boleh mengorbankan stabilitas rupiah karena pelemahan nilai tukar dapat meningkatkan tekanan inflasi. “Jadi memang tugas beliau berikutnya adalah bagaimana mendorong penyerapan kredit dengan berbagai macam instrumen yang tentu instrumen itu tidak boleh kontraproduktif dengan nilai tukar,” jelasnya.
Menurut Margiyono, kebijakan tersebut akan berdampak langsung terhadap daerah, termasuk Kalimantan Utara (Kaltara), terutama melalui akses pembiayaan. Jika kredit produktif semakin mudah diperoleh dengan biaya yang kompetitif, pelaku usaha daerah memiliki ruang lebih besar untuk mengembangkan usaha.
“Kalau kita bicara dampaknya ke Kaltara, tentu yang paling terasa adalah dari sisi pembiayaan. Kalau kebijakan Bank Indonesia nanti bisa mendorong penyaluran kredit lebih tinggi dengan tetap menjaga stabilitas, maka ini akan membuka ruang yang lebih besar bagi pelaku usaha di daerah,” katanya.
Kondisi tersebut dinilai dapat mendorong sektor UMKM, perdagangan, pertanian, perikanan, jasa hingga investasi. Namun, pemerintah daerah dan perbankan perlu memastikan kebijakan pembiayaan nasional benar-benar terserap di daerah.
“Jangan sampai kemudian likuiditasnya tersedia, insentifnya tersedia, tetapi di daerah tidak terserap karena pelaku usaha tidak mendapatkan akses atau tidak memenuhi persyaratan. Jadi pemerintah daerah dan perbankan juga harus aktif mendampingi pelaku usaha,” jelasnya.
Selain kredit, stabilitas rupiah juga penting bagi Kaltara karena berkaitan dengan biaya barang, kebutuhan produksi dan perdagangan. Rupiah yang stabil dan inflasi terkendali akan memberikan kepastian lebih besar bagi dunia usaha dan masyarakat.
“Jadi kalau rupiah stabil, inflasi terkendali, kemudian kredit tumbuh, dampaknya bukan hanya di pusat. Daerah seperti Kaltara juga akan mendapatkan manfaat karena dunia usaha lebih punya kepastian untuk melakukan ekspansi,” katanya.
Margiyono berharap Kaltara dapat memanfaatkan kebijakan BI untuk memperbesar pembiayaan dan investasi sektor produktif. “Harapannya tentu kebijakan Bank Indonesia ke depan bisa semakin memberikan ruang kepada sektor produktif di daerah. Kaltara jangan hanya menjadi daerah yang menikmati dampak kebijakan dari pusat, tetapi harus mampu mengambil peluang dari kebijakan tersebut untuk memperbesar pembiayaan dan investasi di daerah,” ujarnya.
Lanjutnya, ia melihat tantangan Destry ke depan adalah menjaga keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan. “Di tengah tekanan fiskal yang agak kuat, maka satu-satunya cara adalah memang membuka keran yaitu pembiayaan pembangunan. Dan oleh karena itu hal yang terpenting tadi adalah selain menjaga nilai tukar rupiah yang terus menguat, maka beliau adalah harus mendorong penyerapan kredit lebih tinggi sehingga ekonomi tumbuh lebih akseleratif,” pungkasnya. (zac/jnr)
Editor : Januriansyah RT