SNT Tarakan Tegaskan Proses Seleksi Dijalankan Profesional

Zakaria RT • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:46 WIB
MPLS : Siswa SNT 11 Tarakan mengikuti MPLS sebelum memulai pembelajaran. AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN
MPLS : Siswa SNT 11 Tarakan mengikuti MPLS sebelum memulai pembelajaran. AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN

TARAKAN - Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) 11 Tarakan tidak diarahkan menjadi sekolah yang mengejar jumlah peserta didik sebanyak-banyaknya. Sejak awal, konsep pendidikan yang diterapkan lebih menitikberatkan pada kualitas pembinaan, pemetaan bakat dan minat, penguatan karakter, serta pengembangan potensi siswa agar mampu bersaing di tingkat nasional maupun global.

Konsep tersebut menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan SNT 11 Tarakan yang saat ini memasuki tahap awal pelaksanaan pembelajaran. Sebanyak 80 peserta didik yang menjadi angkatan pertama telah mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), sekaligus mulai diperkenalkan dengan pola pendidikan yang menempatkan pengembangan potensi sebagai salah satu fokus utama.

Saat dikonfirmasi, Kepala SNT 11 Tarakan, Friny Napasti mengatakan, jumlah siswa bukan menjadi ukuran utama keberhasilan sekolah. Menurutnya, SNT justru dirancang untuk memberikan pembinaan secara lebih terarah kepada peserta didik yang memiliki potensi dan bakat di berbagai bidang.

“Jadi SNT ini tujuan utamanya adalah menciptakan anak-anak yang berkarakter unggul dan berwawasan global. Karena itu, proses penerimaan peserta didik sejak awal dilakukan melalui sistem seleksi yang cukup ketat. Peserta didik tidak hanya dinilai berdasarkan nilai akademik, tetapi juga dipetakan berdasarkan bakat, minat, kemampuan skolastik, serta prestasi yang pernah diraih," ujarnya, Senin (10/8).

Diungkapkannya, sebelum mengikuti MPLS, seluruh peserta didik SNT 11 Tarakan telah melewati proses seleksi. Seleksi tersebut berlangsung selama satu pekan dan dilakukan oleh tim transisi SNT di bawah Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Kalimantan Utara (Kaltara). Tahapan seleksi dimulai dari proses pendaftaran, kemudian dilanjutkan dengan seleksi administrasi dan sejumlah tes untuk mengukur kemampuan calon peserta didik. Di dalamnya terdapat tes potensi akademik serta tes bakat dan kemampuan skolastik.

"Mekanisme tersebut dilakukan secara bertahap untuk memastikan peserta didik yang diterima memang memiliki potensi yang dapat dikembangkan melalui sistem pendidikan di SNT. Seleksinya selama satu minggu dilakukan oleh tim transisi Sekolah Nasional Terintegrasi di bawah BPMP Kaltara. Mereka mengikuti pendaftaran awal, kemudian ikut seleksi, ada tes potensi akademik, tes bakat dan bakat siswa atau skolastik, kemudian dilanjutkan dengan pengumuman,” jelasnya.

Dikatakannya, seluruh proses seleksi tidak dilakukan secara manual di sekolah. Pendaftaran hingga pelaksanaan seleksi menggunakan sistem daring yang dibangun Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Sistem tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya memastikan proses penerimaan peserta didik berjalan transparan. Peserta tidak perlu datang ke sekolah hanya untuk melakukan pendaftaran karena seluruh data dimasukkan ke dalam sistem yang telah disiapkan.

“Jadi memang tahapan dari pendaftaran siswa SNT ini kan memang dilakukan secara terbuka. Semuanya dilakukan by system. Sekolah di daerah hanya menjalankan tahapan yang menjadi bagian dari proses seleksi. Keputusan akhir mengenai peserta didik yang dinyatakan lolos tetap berada di tingkat kementerian," urainya.

“Semua harus di-input di dalam sistem yang dibangun sendiri oleh Kemendikdasmen. Jadi proses memang kita lakukan di daerah, dalam hal ini di Tarakan, tapi keputusan untuk semua keputusan akhirnya itu ada di Kementerian,” sambungnya. (zac/jnr)

Editor : Januriansyah RT
sekolah nasional terintegrasi snt tarakan pendidikan