Skrining HIV Diperluas, Dinkes Tarakan Kejar Target 7.118 Pemeriksaan

Zakaria RT • Dipublikasikan Senin, 10 Agustus 2026 | 20:18 WIB
Kepala Dinkes Kota Tarakan dr. Devi Ika Indriati, M.Kes. AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN
Kepala Dinkes Kota Tarakan dr. Devi Ika Indriati, M.Kes. AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN

TARAKAN - Upaya menemukan kasus HIV di Kota Tarakan masih menghadapi tantangan, terutama dalam menjangkau kelompok masyarakat yang menjadi sasaran pemeriksaan. Di tengah temuan yang lebih banyak berada pada kelompok usia produktif, Dinas Kesehatan (Dinkes) Tarakan terus memperluas skrining dengan melibatkan sejumlah fasilitas kesehatan agar kasus yang belum terdeteksi dapat segera ditemukan dan ditangani.

Kepala Dinkes Tarakan, dr. Devi Ika Indriarti mengatakan, berdasarkan penelusuran terhadap temuan HIV terbaru, penularan lebih banyak berkaitan dengan hubungan seksual. Sementara penularan melalui penggunaan jarum suntik tidak ditemukan dalam temuan terbaru.

“Berdasarkan penelusuran terhadap temuan yang ada, penularan HIV lebih banyak berkaitan dengan hubungan seksual. Sementara penularan yang berkaitan dengan penggunaan jarum suntik tidak ditemukan dalam temuan terbaru,” ungkapnya, Minggu (9/8).

Jika dilihat dari kelompok usia, temuan HIV lebih banyak ditemukan pada masyarakat berusia 20 tahun ke atas yang masuk dalam kategori usia produktif. Sementara berdasarkan jenis kelamin, kasus yang ditemukan masih lebih banyak terjadi pada laki-laki.

“Kondisi tersebut membuat pemeriksaan terhadap kelompok berisiko menjadi salah satu bagian penting dalam upaya deteksi dini. Namun, pelaksanaan skrining di lapangan tidak selalu berjalan mudah,” sambungnya.

Devi mengatakan, salah satu kendala yang masih dihadapi petugas adalah menjangkau kelompok tertentu untuk menjalani pemeriksaan. Penolakan dapat terjadi ketika petugas melakukan skrining sehingga dibutuhkan pendekatan yang lebih tepat agar pemeriksaan dapat diterima.

“Ada, ada peningkatan kasus. Cuma kami mendeteksi LGBT saat ini lebih sulit. Kalau kami mau masuk kadang-kadang orang pasti menolak kalau diperiksa,” katanya.

Menurutnya, kendala serupa juga dapat terjadi ketika pemeriksaan dilakukan di lingkungan perusahaan atau tempat kerja. Kekhawatiran terhadap hasil pemeriksaan menjadi salah satu alasan sebagian pihak enggan menjalani skrining.

“Kadang-kadang perusahaan juga khawatir kalau dilakukan pemeriksaan nanti ditemukan ada pekerjanya yang positif HIV. Padahal pemeriksaan ini penting untuk mengetahui kondisi kesehatan lebih awal,” jelasnya.

Padahal, menurut Devi, mengetahui status HIV sejak dini penting agar seseorang yang teridentifikasi positif dapat segera memperoleh penanganan dan pendampingan sesuai kebutuhan. Karena itu, pihaknya terus berupaya memperluas pemeriksaan dengan melibatkan fasilitas kesehatan yang ada.

“Kami terus berupaya memperluas pemeriksaan dengan melibatkan sejumlah fasilitas kesehatan. Puskesmas diberikan pembagian lokasi skrining agar pelaksanaan pemeriksaan dapat dilakukan secara lebih merata,” bebernya.

Pembagian lokasi pemeriksaan dilakukan agar target skrining tidak hanya menjadi tanggung jawab satu puskesmas. Setiap fasilitas kesehatan mendapatkan sasaran lokasi pemeriksaan yang telah ditentukan sehingga pelaksanaan di lapangan dapat lebih merata.

“Jadi puskesmas tidak melihat wilayahnya. Tempat-tempatnya kami bagi-bagi supaya tidak ada satu puskesmas yang lebih rendah daripada yang lain,” jelasnya.

Dengan pola tersebut, Devi menegaskan jumlah kasus yang ditemukan oleh suatu puskesmas tidak dapat langsung dijadikan gambaran tingkat penularan HIV di wilayah kerja puskesmas tersebut. Sebab, lokasi pemeriksaan telah dibagi berdasarkan sasaran skrining.

“Artinya, kalau ada puskesmas menemukan lebih banyak kasus, itu belum tentu menunjukkan wilayah tersebut memiliki tingkat penularan lebih tinggi. Bisa saja lokasi pemeriksaannya memang lebih banyak diarahkan kepada puskesmas tersebut,” ungkapnya.

Sejumlah fasilitas kesehatan yang menjadi lokasi pemeriksaan HIV di Tarakan antara lain Puskesmas Kampung 1/Karang Rejo, Puskesmas Juata Laut atau Juata Permai, Puskesmas Mamburungan, dan Puskesmas Gunung Lingkas. Pemeriksaan dan layanan rujukan juga dilakukan melalui rumah sakit, termasuk RSUD dr. H. Jusuf SK Tarakan dan Rumah Sakit Umum Kota Tarakan (RSUKT).

Hingga Semester I 2026, jumlah pemeriksaan yang telah dilakukan mencapai 3.673 orang. Angka tersebut masih harus ditingkatkan karena target skrining HIV sepanjang 2026 ditetapkan sebanyak 7.118 orang.

“Saat ini kami masih memiliki pekerjaan untuk mengejar target pemeriksaan 2026. Dengan target 7.118 orang, capaian 3.673 pemeriksaan pada Semester I masih akan dilanjutkan pada paruh kedua tahun ini,” jelasnya.

Devi berharap, perluasan skrining dapat meningkatkan peluang ditemukannya kasus HIV yang selama ini belum diketahui. Pemeriksaan yang semakin luas juga diharapkan dapat mempercepat akses masyarakat terhadap layanan kesehatan setelah status HIV diketahui.

“Semakin luas pemeriksaan dilakukan, semakin besar pula peluang kasus HIV yang sebelumnya belum diketahui dapat terdeteksi dan ditangani lebih awal,” pungkasnya. (zac/jnr)

Editor : Januriansyah RT
skrining tarakan kesehatan hiv