TARAKAN – Kekayaan komoditas yang dimiliki Kalimantan Utara (Kaltara) dinilai belum sepenuhnya memberikan manfaat ekonomi maksimal bagi daerah. Ketersediaan bahan baku yang melimpah perlu diikuti dengan kemampuan industri pengolahan agar komoditas tidak hanya keluar daerah dalam bentuk bahan mentah, tetapi dapat memberikan nilai tambah sebelum dipasarkan lebih luas.
Akademisi Ekonomi dari Universitas Borneo Tarakan (UBT) Dr Margiyono S.E, ..Si mengatakan, persoalan tersebut berkaitan erat dengan hubungan antara sektor hulu dan hilir. Jika komoditas yang dihasilkan pelaku usaha di sektor hulu tidak terserap industri, maka ruang bagi pelaku usaha untuk meningkatkan produksi juga menjadi terbatas. Sebaliknya, industri membutuhkan kepastian bahan baku agar kegiatan produksi dapat berlangsung secara berkelanjutan.
Dalam kondisi tersebut, menurutnya, pemerintah bersama dunia usaha dan akademisi perlu melakukan pemetaan secara lebih menyeluruh. Pemetaan tidak hanya melihat jenis komoditas yang tersedia, tetapi juga kapasitas produksinya serta peluang industri yang dapat dikembangkan untuk menyerap bahan baku tersebut.
"Pengembangan industri pengolahan juga dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan Kaltara terhadap pengiriman komoditas mentah ke luar daerah. Komoditas yang tersedia seharusnya dapat diproses terlebih dahulu di daerah sehingga nilai jualnya meningkat sebelum dipasarkan ke wilayah lain maupun pasar internasional," urainya.
Menurutnya, pengembangan industri pengolahan juga diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap pengiriman bahan mentah keluar daerah. Produk yang tersedia dapat terlebih dahulu diproses di Kaltara sebelum dipasarkan ke wilayah lain.
"Akibatnya yang mendapatkan keuntungan besar wilayah lain yang bisa menjual komoditi itu lebih mahal melalui ekspor,” tuturnya
Dengan pola tersebut, Margiyono menilai nilai tambah dari berbagai komoditas dapat lebih banyak berputar di Kaltara. Manfaatnya tidak hanya dirasakan pelaku usaha yang bergerak langsung dalam pengolahan, tetapi juga tenaga kerja serta berbagai sektor ekonomi yang ikut menopang kegiatan industri.
Menurutnya, persoalan bahan baku menjadi salah satu aspek penting dalam pembahasan pengembangan industri di Kaltara. Sebab, ketersediaan komoditas baru akan memberikan dampak ekonomi yang lebih besar apabila mampu masuk ke dalam proses produksi berikutnya dan menghasilkan produk dengan nilai jual yang lebih tinggi.
“Sementara kita memiliki semua bahan bakunya, kurangnya adalah kita tidak bisa melakukan pengolahan barang jadi. Sampai kapanpun kalau kita tidak berpikir ke sana, maka selamanya Kaltara hanya akan menjadi tempat produksi komoditi mentah, tapi untuk merasakan nilai ekonomisnya adalah wilayah lain," jelasnya.
"Itu sama halnya dengan negara Singapura mereka tidak memiliki sumber daya alam tapi mereka bisa menjadi negara maju,” sambungnya.
Margiyono kemudian mencontohkan Singapura sebagai negara yang mampu memanfaatkan keterbatasan sumber daya alam melalui pengembangan sektor jasa dan perdagangan. Negara tersebut, kata dia, tidak mengandalkan kekayaan sumber daya alam sebagai sumber utama perekonomian, melainkan memanfaatkan posisi geografisnya yang strategis untuk membangun sektor yang mampu menghasilkan nilai ekonomi.
“Kenapa, karena Singapura tahu cara memanfaatkan kondisi untuk mencari keuntungan. Singapura memanfaatkan posisi negaranya yang strategis kemudian membangun pelabuhan besar yang kemudian digunakan negara-negara di seluruh dunia untuk perdagangan," nilainya.
"Hasilnya mereka mendapatkan keuntungan dari biaya jasa penggunaan pelabuhan itu,” pungkasnya. (zac/jnr)
Editor : Januriansyah RT