TARAKAN – Perkembangan olahraga trail run di Kalimantan Utara (Kaltara) mulai dilirik bukan sekadar sebagai kegiatan rekreatif komunitas. Potensi jalur alam yang tersebar di sejumlah wilayah dinilai dapat dikembangkan menjadi bagian dari program olahraga daerah sekaligus membuka peluang baru bagi pembinaan atlet dan pengembangan wisata berbasis alam.
Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Provinsi Kaltara Dr. Bustan, M.Si. mengatakan, pihaknya bahkan membuka peluang agar kegiatan trail run dapat masuk dalam Pekan Olahraga Daerah (Porda) pada 2027. Namun, rencana tersebut tidak hanya diarahkan untuk membuat sebuah perlombaan, melainkan harus disiapkan secara lebih matang dengan melibatkan berbagai pihak.
Menurutnya, pemerintah provinsi tidak dapat bekerja sendiri dalam mengembangkan olahraga yang memanfaatkan kawasan alam tersebut. Pemerintah kabupaten dan kota yang menjadi lokasi kegiatan, komunitas olahraga, organisasi kepemudaan, mahasiswa hingga pihak swasta perlu dilibatkan sejak tahap perencanaan.
“Perlu mungkin nanti tahun depan, 2027, ini kita matangkan benar-benar. Baik dari pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten dan kota, perlu kolaborasi. Pemerintah provinsi, pemerintah kota, pemerintah kabupaten di mana tempat dilaksanakan kegiatan tersebut, dan mungkin juga pihak swasta dan teman-teman anak-anak muda, mahasiswa,” jelasnya, Sabtu (8/8).
Bustan menilai kolaborasi menjadi penting karena setiap wilayah di Kaltara memiliki karakter alam dan potensi jalur yang berbeda. Dengan pemetaan yang baik, jalur-jalur tersebut tidak hanya dapat digunakan sebagai lintasan olahraga, tetapi juga berpotensi dikembangkan menjadi destinasi yang menarik bagi peserta dari luar daerah.
Pengembangan tersebut juga dinilai dapat menjadi pintu masuk bagi pembinaan atlet. Kegiatan yang selama ini lebih banyak dilakukan sebagai aktivitas komunitas dapat diarahkan menjadi wadah untuk mengidentifikasi peserta yang memiliki kemampuan dan potensi untuk dikembangkan ke jenjang olahraga prestasi.
“Nanti kita akan coba identifikasi. Contohnya seperti kegiatan ini. Ya, agar lebih serius. Nanti makanya mungkin dari pemerintah provinsi mungkin mengalokasikan program ini, mengadakan di mungkin di tahun 2027,” tuturnya.
Menurut Bustan, perkembangan trail run saat ini membuat olahraga tersebut memiliki peluang untuk masuk lebih jauh dalam ekosistem olahraga prestasi. Karena itu, kegiatan di Kaltara tidak menutup kemungkinan dikembangkan dengan konsep yang lebih terarah, termasuk melalui pembinaan dan pemantauan terhadap peserta yang memiliki potensi menjadi atlet.
Di sisi lain, rencana pengembangan trail run juga harus memperhatikan aspek lingkungan. Sebab, kawasan alam menjadi bagian utama yang memberikan daya tarik terhadap olahraga tersebut. Penggunaan jalur secara berulang tanpa pengelolaan yang baik dikhawatirkan dapat memberikan dampak terhadap kondisi lingkungan.
Karena itu, Bustan menegaskan pengembangan olahraga harus berjalan beriringan dengan upaya menjaga kelestarian kawasan. Tanggung jawab menjaga lingkungan, khususnya kawasan hutan dan jalur yang digunakan untuk kegiatan, menurutnya tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah provinsi maupun Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH).
“Tidak semata-mata menjaganya dilaksanakan oleh pemerintah provinsi. Mari kita bersama-sama semua stakeholder, semua yang punya peran, bukan hanya teman-teman UPTD KPH saja," jelasnya.
"Tapi juga, pemerintah kota, camat, lurah, RT, masyarakat, mahasiswa, organisasi kepemudaan, organisasi masyarakat, semua punya peran untuk menjaga kelestarian lingkungan atau hutan lindung ini,” sambungya.
Bustan melihat keberadaan kawasan alam yang tetap terjaga justru dapat menjadi modal besar bagi Kaltara untuk mengembangkan olahraga sekaligus wisata. Spot-spot yang memiliki karakter jalur menarik dapat dikembangkan secara terukur sehingga menjadi daya tarik bagi pelari dari dalam maupun luar daerah.
Dampak yang diharapkan pun tidak hanya berkaitan dengan peningkatan prestasi olahraga. Kehadiran peserta dari luar daerah berpotensi menciptakan perputaran ekonomi bagi masyarakat di sekitar lokasi kegiatan, mulai dari kebutuhan akomodasi, konsumsi hingga berbagai aktivitas pendukung lainnya.
Untuk itu, Dispora Kaltara berencana mematangkan konsep tersebut pada 2027 dengan menggandeng berbagai organisasi dan pemangku kepentingan. Pelaksanaan event diharapkan tidak hanya menjadi agenda perlombaan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem olahraga, kepemudaan, pariwisata dan pelestarian lingkungan secara bersamaan.
“Mungkin tahun 2027 akan coba kita programkan. Mungkin pemerintah provinsi berkolaborasi dengan beberapa organisasi, kita laksanakan event sebaik mungkin,” pungkasnya. (zac/jnr)
Editor : Januriansyah RT