Olahraga Trail Run Mulai Digandrungi Masyarakat, Dispora Kaltara Bidik Bibit Atlet Baru

Zakaria RT • Dipublikasikan Minggu, 9 Agustus 2026 | 19:50 WIB
Kadispora Kaltara Dr Bustan M.Si. AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN
Kadispora Kaltara Dr Bustan M.Si. AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN

TARAKAN - Meningkatnya antusias masyarakat Kalimantan Utara (Kaltara) terhadap aktivitas olahraga di alam terbuka mulai membuka peluang baru bagi pengembangan olahraga daerah. Salah satunya melalui olahraga trail run yang memadukan aktivitas lari dengan tantangan medan alam, mulai dari jalur perbukitan hingga kawasan hutan.

Fenomena itu terlihat dari tingginya partisipasi masyarakat dalam agenda Fun Run Night Trail yang digelar dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia. Kegiatan yang diikuti sekitar 1.000 peserta tersebut tidak hanya menjadi ruang bagi masyarakat untuk berolahraga dan menjaga kebugaran, tetapi dinilai dapat menjadi titik awal untuk melihat potensi atlet trail run di Kaltara.

Saat dikonfirmasi, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kaltara, Dr Bustan M.Si, mengatakan, perkembangan tersebut patut mendapatkan perhatian. Menurutnya, kegiatan olahraga yang melibatkan masyarakat dalam jumlah besar menunjukkan bahwa olahraga tidak selalu harus dilakukan di fasilitas olahraga konvensional.

Trail run, kata dia, justru memberikan pengalaman berbeda karena peserta ditantang untuk beraktivitas sembari menikmati kondisi alam. Jika dikembangkan secara terarah, kegiatan seperti ini juga dapat menjadi sarana membangun budaya olahraga sekaligus menjaring masyarakat yang memiliki kemampuan di bidang olahraga lari lintas alam.

"Olahraga Trail Run ini memang banyak digandrungi masyarakat beberapa tahun terakhir, kebetulan Asosiasi Trail Indonesia (Alti) Kaltara baru dibentuk tahun lalu. Besarnya jumlah peminat olahraga ini  menjadi salah satu indikator olahraga ini akan dipertandingkan di Pekan Olahraga Nasional (PON). Sehingga saya kira pemerintah perlu mulai serius mengeker bibit-bibit muda yang nantinya bisa mewakili Kaltara di cabor trail run,"ujarnya, Sabtu (8/8).

Namun, di balik antusiasme tersebut, Bustan mengingatkan agar pengembangan trail run tidak hanya berorientasi pada banyaknya peserta. Aspek keselamatan harus menjadi perhatian utama, terlebih kegiatan yang dilaksanakan pada malam hari memiliki tingkat risiko lebih tinggi dibandingkan kegiatan pada siang hari.

Apalagi kata dia, karakteristik trail run berbeda dengan olahraga lari pada umumnya. Peserta tidak hanya berhadapan dengan jarak tempuh, tetapi juga kondisi medan yang berubah-ubah serta lingkungan alam yang memiliki risiko tersendiri.

"Kondisi alam saya kira cukup kompleks ketika kegiatan dilaksanakan pada malam hari. Minimnya pencahayaan hutan membuat peserta harus memiliki kesiapan fisik dan perlengkapan yang memadai. Memang olahraga memerlukan waktu cukup panjang sehingga lombanya cenderung berlangsung hingga malam. Setidaknya dalam setiap event di pulau Jawa memerlukan waktu 6-7 jam untuk peserta sampai ke finish," ucapnya.

Lanjutnya, terlebih jalur kegiatan yang melintasi kawasan hutan lindung memiliki karakter berbeda dibandingkan jalur perkotaan. Peserta harus memperhitungkan kondisi alam, perubahan medan, serta kemungkinan munculnya gangguan dari satwa yang berada di sekitar kawasan.

“Kegiatan malam melintasi alam hutan lindung berbeda dengan kita melaksanakan kegiatan melintasi hutan lindung siang. Banyak mungkin hewan yang akan dilewati. Aspek keselamatan perlu menjadi bagian dari evaluasi apabila pemerintah daerah nantinya mengambil peran lebih besar dalam penyelenggaraan trail run. Standar pelaksanaan kegiatan harus dipersiapkan sehingga olahraga yang berkembang dari komunitas dapat naik kelas menjadi agenda olahraga yang lebih terstruktur," terangnya. (zac/jnr)

Editor : Januriansyah RT
trail run tarakan olahraga