Ini Pengakuan Pekerja Asal Jabar yang Tinggalkan Perkebunan di Bulungan

Zakaria RT • Dipublikasikan Jumat, 7 Agustus 2026 | 19:40 WIB
DIANGKUT : Belasan pekerja asal Jawa Barat, diangkut oleh BPBD untuk dibawa ke shelter Dinas Sosial. AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN
DIANGKUT : Belasan pekerja asal Jawa Barat, diangkut oleh BPBD untuk dibawa ke shelter Dinas Sosial. AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN

TARAKAN - Mencari penghidupan yang lebih layak dengan merantau ke luar daerah masih menjadi pilihan sebagian masyarakat. Berbekal informasi adanya lowongan pekerjaan dengan penghasilan menjanjikan, puluhan warga asal Jawa Barat rela menempuh perjalanan jauh menuju Kalimantan Utara. Namun, harapan itu berubah menjadi kekecewaan setelah pekerjaan yang dijalani disebut tidak sesuai dengan penjelasan saat proses perekrutan.

Salah seorang pekerja, Asis (41) mengungkapkan, dirinya bersama 20 warga lainnya berangkat dari Palabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat, setelah mendapat tawaran bekerja sebagai penyadap karet di sebuah perkebunan di wilayah Sajau, Kabupaten Bulungan.

Ia mengatakan, sebelum berangkat mereka dijanjikan memperoleh gaji bulanan sebesar Rp 3,9 juta. Selain itu, para pekerja juga disebut akan menerima uang absensi sebesar Rp 400 ribu dan jatah beras sebanyak 20 kilogram setiap bulan.

"Yang dari Jawa Barat ke sini itu 21 orang. Diiming-imingi gaji Rp 3,9 juta. Katanya bulanan, absensi Rp 400 ribu, dapat beras 20 kilo satu bulan," ungkapnya, Jumat (7/8).

Asis menjelaskan, tawaran pekerjaan tersebut disampaikan oleh dua orang yang dikenalnya bernama Hendra dan Abdul Manan. Informasi itu kemudian menyebar dari mulut ke mulut hingga akhirnya mereka memutuskan berangkat bersama.

"Baru kenal juga. Ada teman ke teman, cerita-cerita. Akhirnya ditawarkan pekerjaan. Kami pikir daripada di rumah tidak ada kerjaan, lebih baik berangkat," katanya.

Namun, sesampainya di lokasi kerja, para pekerja mengaku mendapati sistem kerja yang berbeda dari penjelasan awal. Mereka diwajibkan mengikuti masa pelatihan selama satu bulan dengan upah Rp 75 ribu per hari sebelum bekerja menggunakan sistem borongan.

"Pas sampai di sana ternyata gajinya borongan. Kami ikut training satu bulan. Selama training itu sehari Rp75 ribu," tuturnya.

Selama masa pelatihan, para pekerja bekerja sekitar 20 hari dengan pendapatan sekitar Rp 1,5 juta. Akan tetapi, setelah dipotong kasbon dan berbagai kebutuhan lainnya, uang yang diterima hanya sekitar Rp 1,1 juta. "Aslinya Rp 1,5 juta. Karena ada potongan kasbon dan kebutuhan lainnya, saya terima sekitar Rp1,1 juta," urainya.

Menurut Asis, setelah mempertanyakan sistem pengupahan tersebut, mereka baru mengetahui bahwa penghasilan pekerja ditentukan berdasarkan hasil produksi, bukan gaji tetap seperti yang dipahami sebelumnya.

"Kalau sudah produksi katanya sistemnya borongan, tergantung hasil. Ada yang dapat banyak, ada yang sedikit. Kami perhatikan setiap hari, kalau seperti itu bagaimana untuk keluarga di rumah," katanya.

 

Ia juga mengaku baru mengetahui isi kontrak kerja setelah berada di lokasi. Dalam dokumen tersebut tercantum masa kerja selama satu tahun. Kondisi itu membuat sebagian pekerja merasa informasi yang diterima sebelum keberangkatan tidak sesuai dengan kenyataan.

"Pas dikasih lembarannya, kontraknya satu tahun. Kami tanya, katanya ada slip gaji Rp 3,9 juta. Tapi dari pihak HRD bilang tidak ada slip gaji itu, kerjanya borongan," ungkapnya.

Merasa kondisi pekerjaan tidak sesuai dengan kesepakatan awal, sebanyak 15 pekerja akhirnya memutuskan meninggalkan mess perusahaan dan menuju Kota Tarakan untuk mencari solusi. Sementara enam pekerja lainnya masih bertahan di lokasi kerja karena berada di divisi yang berbeda.

"Kami pergi dari mess karena merasa tidak sesuai dengan perjanjian awal. Jadi kami pulang mencari solusi," katanya.

Asis menegaskan, persoalan yang mereka alami bukan karena menyerahkan uang kepada pihak perekrut. Menurutnya, persoalan utama adalah informasi mengenai pekerjaan yang tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan.

"Bukan masalah kami kasih uang ke dia. Bukan. Ketipunya di informasi kerja yang dijanjikan," tegasnya.

Saat ini, para pekerja mengaku hanya memiliki sisa uang sekitar Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu per orang. Mereka berharap ada bantuan agar dapat kembali ke kampung halaman. (zac/jnr)

Editor : Januriansyah RT
tenaga kerja perkebunan pekerja bulungan