TARAKAN – Front Persaudaraan Islam (FPI) Kota Tarakan mematangkan pelaksanaan konvoi damai yang dijadwalkan berlangsung pada Sabtu (8/8) malam. Kegiatan tersebut menjadi lanjutan dari rangkaian aksi yang sebelumnya diikuti kalangan pemuda dengan melibatkan masyarakat dan sejumlah organisasi kemasyarakatan (ormas).
Ketua FPI Kota Tarakan Ahmad Irwan mengatakan, konsep kegiatan kali ini berbeda dengan aksi sebelumnya. Panitia tidak menggelar demonstrasi maupun orasi di satu titik, melainkan konvoi kendaraan sebagai bentuk penyampaian aspirasi secara tertib.
"Ini lebih kepada menunjukkan kekuatan dan respons masyarakat. Setelah itu baru kami lakukan pertemuan lagi untuk mematangkan langkah berikutnya. Kami ingin melihat dulu bagaimana respons masyarakat karena aksi sebelumnya masih didominasi anak-anak muda," katanya, Kamis (6/8).
Ia menjelaskan, rute konvoi masih menunggu hasil koordinasi dengan aparat kepolisian. Namun, panitia sementara merencanakan titik kumpul berada di kawasan Bandara Juwata Tarakan dan berakhir di kawasan Taman Berkampung.
"Sistemnya konvoi kendaraan seperti biasa. Kemungkinan start dari area bandara dan finish di Taman Berkampung, tetapi nanti masih melihat situasi di lapangan," ujarnya.
Menurut Ahmad Irwan, konvoi tersebut merupakan tahap awal sebelum pihaknya menempuh langkah lanjutan. Setelah kegiatan berlangsung, panitia akan melakukan evaluasi sekaligus menentukan bentuk perjuangan berikutnya.
"Ini langkah awal memperlihatkan kepada publik bahwa masyarakat menolak hal tersebut. Setelah ini baru kami lanjutkan dengan tahapan lain seperti mengajukan rapat dengar pendapat atau long march ke DPRD," tuturnya.
Ia menegaskan, format konvoi dipilih agar pelaksanaan aksi lebih tertib dan menghilangkan anggapan bahwa gerakan yang dilakukan bersifat anarkis.
"Konvoi sebelumnya belum terlalu rapi. Sekarang kami ingin menunjukkan bahwa gerakan ini bukan gerakan anarkis. Selain itu kami juga ingin melibatkan masyarakat lebih luas sehingga pelaksanaannya lebih terstruktur," katanya.
Terkait pengamanan, Ahmad Irwan menyebut seluruh rangkaian kegiatan akan mendapat pendampingan dari aparat kepolisian. Peserta dijadwalkan mulai berkumpul sekitar pukul 18.30 Wita, sedangkan konvoi akan bergerak sekitar pukul 20.30 Wita.
"Nanti ada pendampingan dari pihak kepolisian. Kalau ada hal-hal yang tidak diinginkan, tentu akan ditertibkan oleh aparat," ucapnya.
Ia memastikan pengalaman dua kali pelaksanaan aksi sebelumnya tidak menimbulkan kemacetan karena seluruh rombongan bergerak secara terus-menerus dengan pengawalan petugas. "Selama dua kali kegiatan sebelumnya tidak pernah menyebabkan kemacetan karena rombongan terus berjalan dan mendapat pengawalan," jelasnya.
Panitia menargetkan sedikitnya 50 kendaraan mengikuti konvoi tersebut. Meski demikian, jumlah peserta diperkirakan masih dapat bertambah karena undangan dibuka untuk masyarakat umum. "Target awal sekitar 50 kendaraan, tetapi tidak menutup kemungkinan lebih banyak karena undangan kami terbuka," katanya.
Selain menggelar konvoi, FPI juga tetap mendorong adanya regulasi khusus terkait pencegahan LGBT di Kota Tarakan. Ahmad Irwan mengungkapkan komunikasi awal dengan sejumlah pihak telah dilakukan, meski hingga kini belum ada langkah konkret.
"Sejauh ini memang sudah ada komunikasi, tetapi belum ada gerakan signifikan untuk membentuk regulasi tersebut. Informasi terakhir arahnya ke Perwali, tetapi kami tetap mendorong agar dibuat perda," tegasnya.
Menurutnya, regulasi berbentuk peraturan daerah dinilai memiliki kekuatan hukum yang lebih kuat dibandingkan peraturan wali kota karena dibahas bersama DPRD serta melibatkan partisipasi masyarakat.
"Kalau perwali sifatnya kebijakan kepala daerah. Kalau perda dibahas bersama DPRD, melibatkan masyarakat, dan memiliki kekuatan hukum yang lebih kuat sehingga tidak mudah diubah. Itu yang kami harapkan," pungkasnya. (zac/jnr)
Editor : Januriansyah RT