Kemenag Tarakan Siap Sesuaikan Kurikulum, Perkuat Edukasi Pencegahan Perilaku Menyimpang

Zakaria RT • Dipublikasikan Rabu, 5 Agustus 2026 | 18:54 WIB
Kepala Kantor Kemenag Kota Tarakan, H. Syopyan. AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN
Kepala Kantor Kemenag Kota Tarakan, H. Syopyan. AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN

TARAKAN - Rencana pemerintah pusat memasukkan materi edukasi pencegahan penyebaran budaya Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) ke dalam kurikulum pendidikan mendapat respons positif dari Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Tarakan.

Instansi tersebut menyatakan siap menyesuaikan kebijakan di seluruh lembaga pendidikan di bawah naungannya apabila petunjuk teknis resmi telah diterbitkan. Penguatan pendidikan karakter berbasis nilai-nilai agama dinilai menjadi salah satu langkah penting dalam membentengi generasi muda dari berbagai perilaku yang dianggap menyimpang.

Saat dikonfirmasi, Kepala Kantor Kemenag Kota Tarakan, H. Syopyan mengatakan, upaya pencegahan tidak cukup hanya mengandalkan lembaga pendidikan. Menurutnya, keluarga, tokoh agama, hingga masyarakat memiliki peran yang sama penting dalam membentuk karakter anak sejak usia dini.

"Ini menjadi tanggung jawab kita bersama untuk membentengi generasi muda agar tidak terpapar. Dalam ajaran agama, perilaku ini sangat jelas dilarang dan merupakan sebuah penyimpangan. Karena itu, langkah edukasi dan pencegahan harus ditanamkan sejak dini," ujarnya, Selasa (4/8).

Syopyan menjelaskan, pada dasarnya madrasah di bawah naungan Kemenag telah memiliki materi pembelajaran yang berorientasi pada pembentukan akhlak dan karakter peserta didik. Nilai-nilai tersebut diajarkan melalui berbagai mata pelajaran keagamaan yang menjadi kurikulum inti di madrasah.

Ia menyebutkan materi tersebut antara lain Akidah Akhlak, Fikih, Al-Qur'an Hadis, Bahasa Arab, hingga Sejarah Kebudayaan Islam (SKI). Melalui mata pelajaran itu, peserta didik tidak hanya dibekali pemahaman akademik, tetapi juga diarahkan untuk memiliki moral, etika, serta perilaku yang sesuai dengan ajaran agama.

"Kalau pendidikan agama sebenarnya sudah mengajarkan bagaimana membangun akhlak yang baik. Jadi nanti apabila ada penguatan materi sesuai kebijakan pemerintah, tentu akan kami sesuaikan dengan petunjuk teknis yang diterbitkan," katanya.

Menurutnya, pembinaan karakter juga dilakukan sejak awal peserta didik memasuki lingkungan madrasah melalui kegiatan Masa Ta'aruf Siswa Madrasah (Matsama). Dalam kegiatan tersebut, siswa diberikan berbagai materi pembinaan, termasuk penguatan karakter, kedisiplinan, pencegahan perundungan (bullying), serta pentingnya menjaga pergaulan yang sehat.

"Di Matsama itu siswa sudah diberikan pembekalan mengenai akhlak, etika, bagaimana menghormati sesama, menghindari perundungan, serta memahami berbagai perilaku yang harus dijauhi. Jadi pembentukan karakter memang dimulai sejak mereka pertama masuk madrasah," jelasnya. (zac/jnr)

Editor : Januriansyah RT
lgbt tarakan kemenag