Pantai Amal dan Juata Jadi Fokus Mitigasi Karhutla

Zakaria RT • Dipublikasikan Selasa, 4 Agustus 2026 | 18:54 WIB
WASPADA KARHUTLA: Petugas melakukan pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN
WASPADA KARHUTLA: Petugas melakukan pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN

TARAKAN – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi perhatian memasuki puncak musim kemarau di Kota Tarakan. Meski hingga awal Agustus baru tercatat satu kejadian karhutla, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tarakan memilih meningkatkan kesiapsiagaan lebih awal dengan memusatkan upaya mitigasi di kawasan Pantai Amal dan Juata yang dinilai memiliki tingkat kerawanan paling tinggi.

Kepala BPBD Kota Tarakan Yonsep mengatakan, langkah antisipasi telah dilakukan dengan menyiapkan personel, peralatan, hingga relawan. Selain itu, koordinasi dengan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) juga dilakukan untuk memastikan ketersediaan pasokan air apabila sewaktu-waktu dibutuhkan dalam proses pemadaman, khususnya di wilayah Juata.

"Di Juata kita sudah berkoordinasi dengan PDAM dan mereka siap membantu distribusi air. Memang saat kemarau terkadang bahan baku air juga menjadi tantangan, sehingga kita berharap ada sinergi semua pihak," jelasnya, Selasa (4/8).

Berdasarkan hasil pemetaan BPBD, kawasan Pantai Amal dan sebagian wilayah Juata menjadi daerah dengan tingkat kerawanan tertinggi terhadap karhutla. Kondisi lahan yang didominasi semak belukar dan rumput tebal membuat api lebih mudah menyebar saat cuaca panas berlangsung dalam waktu lama.

Yonsep menjelaskan, kebakaran lahan seluas sekitar 15 hektare yang terjadi di Pantai Amal beberapa waktu lalu menjadi dasar BPBD meningkatkan langkah mitigasi bersama masyarakat di kawasan tersebut.

"Kalau melihat tingkat risikonya, memang yang paling tinggi itu Amal. Terakhir terbakar sekitar 15 hektare karena lahannya terbuka dan banyak rumput yang tebal. Itu yang sudah kita lakukan mitigasi bersama masyarakat," ujarnya.

Ia menambahkan, selain Pantai Amal, perhatian juga difokuskan di wilayah Juata Kerikil, Juata Laut, dan Juata Permai yang memiliki karakteristik lahan serupa. "Kita sebenarnya yang paling rawan hanya Amal dan Juata. Juata Kerikil, Juata Laut, dan Juata Permai menjadi pusat perhatian penanganan kita," tuturnya.

Menurut prakiraan cuaca yang diterima BPBD, musim kemarau diperkirakan masih berlangsung hingga September mendatang. Karena itu, seluruh personel, peralatan, dan relawan tetap disiagakan untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya kebakaran.

"Walaupun dengan keterbatasan yang ada, kita sudah siap. Kita juga memiliki relawan seperti Kelakar dan Desa Tangguh Bencana (Destana) yang siap membantu ketika terjadi kebakaran," katanya.

Hingga awal Agustus 2026, BPBD mencatat baru satu kejadian karhutla di Kota Tarakan. Meski demikian, masyarakat diminta tidak lengah dan menghindari pembakaran lahan tanpa pengawasan agar tidak memicu kebakaran yang lebih luas.

"Kita mengimbau masyarakat berhati-hati saat membuka lahan. Kalau perlu hubungi BPBD atau Kehutanan agar bisa dilakukan penanganan lebih awal. Kita tidak bisa melarang masyarakat membakar, tetapi harus dipastikan aman dan terkendali," tegasnya.

Yonsep menambahkan, masyarakat juga dapat meminta pendampingan personel BPBD apabila akan melakukan pembakaran lahan secara terbatas. Selain itu, laporan kejadian kebakaran dapat disampaikan melalui layanan darurat 112 maupun melalui lurah dan camat yang telah memiliki jalur komunikasi dengan BPBD sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat.

"Silakan menghubungi kami. Yang penting memberitahukan lebih dulu sehingga personel bisa disiapkan apabila memang memungkinkan," pungkasnya. (zac/jnr)

Editor : Januriansyah RT
karhutla tarakan kebakaran