Angka Stunting Tarakan Diklaim Turun Drastis, Kini Tinggal 4,18 Persen

Zakaria RT • Dipublikasikan Selasa, 4 Agustus 2026 | 18:49 WIB
Wali Kota Tarakan dr Khairul M.Kes. AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN
Wali Kota Tarakan dr Khairul M.Kes. AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN

TARAKAN - Upaya menekan angka stunting di Kota Tarakan menunjukkan hasil yang signifikan. Dalam kurun waktu sekitar lima tahun terakhir, prevalensi balita stunting berhasil ditekan hingga menyentuh angka 4,18 persen. Capaian tersebut menjadi salah satu indikator keberhasilan program intervensi gizi yang dijalankan secara terpadu oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Tarakan bersama berbagai pihak.

Meski demikian, pekerjaan rumah belum sepenuhnya selesai. Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tarakan hingga Juni 2026, masih terdapat 532 balita yang masuk kategori stunting dari total 12.726 balita yang telah menjalani pemeriksaan. Kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah agar angka stunting terus ditekan hingga mendekati nol kasus.

Saat dikonfirmasi, Wali Kota Tarakan, dr. Khairul, M.Kes mengatakan, keberhasilan menurunkan prevalensi stunting tidak diperoleh dalam waktu singkat. Menurutnya, saat awal dirinya memimpin Kota Tarakan, angka stunting berada di kisaran 25 persen dan menjadi yang tertinggi di Kalimantan Utara (Kaltara).

Untuk mengatasi persoalan tersebut, pemerintah menerapkan berbagai program intervensi, mulai dari penguatan layanan kesehatan ibu dan anak, pemberian makanan tambahan, hingga melibatkan kader Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) serta pos pelayanan terpadu (Posyandu) dalam melakukan pendampingan terhadap keluarga yang memiliki balita berisiko stunting.

"Alhamdulillah sekarang angkanya sudah sekitar 4 persen. Ini tidak lepas dari peran ibu-ibu PKK yang turun langsung mendampingi keluarga dan membantu pemberian makanan kepada anak-anak stunting," ujarnya, Senin (3/8).

Menurutnya, keberhasilan tersebut merupakan hasil kerja bersama seluruh elemen, mulai dari pemerintah, tenaga kesehatan, kader PKK, kader Posyandu hingga masyarakat. Ia menilai kolaborasi menjadi kunci dalam mempercepat penurunan angka stunting di Kota Tarakan.

"Selain mengalokasikan anggaran pada sektor kesehatan, pemerintah juga menyalurkan dukungan anggaran kepada setiap kelurahan. Dana tersebut dimanfaatkan untuk mendukung program pemberian makanan tambahan bagi balita sasaran," terangnya. (zac/jnr)

Editor : Januriansyah RT
stunting anak tarakan stunting