TARAKAN – Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Indonesia Muaythai Championship 2026 tidak hanya dipandang sebagai ajang perebutan medali bagi Muaythai Kalimantan Utara.
Bagi Ketua Harian Pengprov Muaythai Indonesia Kaltara, Hendra Radiyanto, Kejurnas menjadi langkah strategis membangun prestasi sekaligus mempertahankan atlet-atlet terbaik daerah menuju PON XXII 2028 di Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat.
Muaythai Kaltara akan tampil di Kejurnas yang digelar di Bekasi, Jawa Barat, pada 4–9 Agustus 2026 dengan membawa 19 atlet dan 6 official/pelatih. Keikutsertaan tersebut merupakan bagian dari program pembinaan berkelanjutan yang telah disusun sejak awal tahun.
Hendra menegaskan, ada tiga alasan utama mengapa Muaythai Kaltara sangat serius menghadapi Kejurnas tahun ini. Alasan pertama adalah menjaga keberlangsungan pembinaan atlet dan mempertahankan potensi daerah.
Ia mengakui, perpindahan atlet antardaerah merupakan persoalan nyata yang dihadapi hampir semua cabang olahraga di Indonesia. Atlet-atlet yang memiliki prestasi kerap memilih daerah lain yang dianggap mampu memberikan jaminan masa depan yang lebih baik.
“Sudah bukan rahasia umum lagi. Atlet yang memiliki prestasi akan mencari daerah yang bisa menjamin kehidupannya di kemudian hari, baik berupa bonus, lapangan pekerjaan maupun fasilitas pembinaan yang lebih baik. Karena itu, pengurus dan pembina di daerah harus memiliki benteng yang kuat agar atlet-atlet terbaik tidak hijrah ke daerah lain,” tegasnya.
Alasan kedua, lanjut Hendra, Kejurnas menjadi instrumen evaluasi kemampuan atlet untuk melihat sejauh mana kesiapan mereka bersaing di level nasional. Ia menegaskan bahwa target Muaythai Kaltara bukan sekadar menjadi peserta, tetapi lolos Babak Kualifikasi PON melalui prestasi murni.
“Kami ingin atlet benar-benar mendapatkan tiket PON lewat prestasi, bukan sekadar ikut karena wildcard. Kejurnas menjadi momentum penting untuk mengukur kemampuan mereka sebelum menghadapi Babak Kualifikasi PON tahun depan,” ujarnya.
Selain Kejurnas, Muaythai Kaltara juga menjadikan PON Beladiri 2026 di Manado sebagai ajang pembuktian berikutnya. Hasil dari dua event tersebut akan menjadi dasar penyusunan program pembinaan menuju PON XXII 2028.
“Masih ada satu agenda besar lagi, yaitu PON Beladiri 2026 di Manado. Itu juga menjadi bagian dari roadmap kami untuk menembus PON XXII 2028 di NTT dan NTB,” katanya.
Sementara alasan ketiga, menurut Hendra, adalah tanggung jawab kepengurusan cabang olahraga. Ia menilai seorang pengurus tidak boleh hanya berorientasi pada jabatan, tetapi harus mampu menentukan arah pembinaan prestasi.
“Memegang cabor berarti kita memikul tanggung jawab yang sangat besar. Bukan untuk gaya-gayaan atau pencitraan semata. Duduk di kepengurusan berarti kita harus menentukan arah pembinaan, apakah cabor ini hanya stagnan di tingkat daerah atau berani mengejar prestasi nasional bahkan internasional,” ujarnya.
Sebagai dasar optimisme, Hendra mengingatkan rekam jejaknya saat memimpin beberapa cabang olahraga lain di Kalimantan Utara. Ia pernah menangani PABBSI (angkat besi dan angkat berat), sepak bola, hingga wushu, yang menurutnya berhasil menorehkan berbagai prestasi di tingkat nasional bahkan internasional.
“Silakan cek track record saya selama puluhan tahun memegang cabang olahraga. Di PABBSI kami melahirkan prestasi nasional bahkan internasional. Di sepak bola, tanpa bantuan KONI, kami berhasil menjadikan Kaltara sebagai tuan rumah Babak Kualifikasi PON XX Papua. Klub-klub di Kaltara juga rutin mengikuti Soeratin dan Liga 3, bahkan PS Tarakan pernah menembus babak 32 besar Liga 3 Nasional,” ungkapnya.
Ia juga menyinggung keberhasilan cabang olahraga wushu yang mampu meloloskan tiga atlet ke PON XXI Medan melalui jalur kualifikasi, bukan wildcard. Pengalaman tersebut kini menjadi modal penting dalam membangun Muaythai Kaltara.
“Di Muaythai kami mencoba treatment yang sama seperti yang pernah saya terapkan di cabang-cabang olahraga sebelumnya. Semoga langkah ini membuahkan hasil dan Muaythai Kaltara mampu mengharumkan nama Kalimantan Utara di pentas nasional,” pungkasnya. (zar/jnr)
Editor : Januriansyah RT