25 Tahun, Akselerasi

Nur Rahman • Dipublikasikan Senin, 3 Agustus 2026 | 15:08 WIB
Direktur SKH Radar Tarakan, Nur Rahman Saeroni.
Direktur SKH Radar Tarakan, Nur Rahman Saeroni.

SEMBILAN hari lalu, saya mendengar statement seperti ini; “Lama banget megang koran cetak begini. Kirain udah nggak ada loh, Mas!”

Kalimat itu saya dengar dari Mutiara Dinanti, analis Formalitas dan Komunikasi SKK Migas Kalsul. Dia berkunjung ke kantor kami, Gedung Silver, bersama rombongan penanggung jawab komunikasi dan relasi dari perusahaan-perusahaan minyak dan gas bumi di area Kaltara, Sabtu, 25 Juli lalu. 

Asumsi saya, Mutiara dan kawan-kawan sebelumnya mengasosiasikan Radar Tarakan itu adalah akun medsos. Atau, ya, kalau agak mundur dan sedikit proper, media ini adalah portal berita daring atau website.

Sejujurnya, asumsi dia tidak salah. Hanya kurang lengkap sedikit, dan itupun wajar. 

Mengingat, cukup banyak contoh media besar berskala nasional bahkan internasional pun tidak cukup tangguh untuk mempertahankan produk koran cetaknya. Pun di lingkup regional, kita harus akui perubahan itu juga terjadi.

Tidak usahlah Mutiara yang mungkin lebih banyak berkantor di Jakarta atau Balikpapan. Dari yang sering saya temui, orang-orang di Tarakan saja banyak yang tidak tahu kalau kami masih cetak koran harian.

Kami merasa asumsi semacam itu punya dua sisi. Pertama itu tanda keberhasilan kami membangun citra sebagai media yang produknya sudah full digital. Di sisi lain kami merasa produk utama konvensional kami semakin segmented.

Perubahan pandangan sebagian kalangan atas Radar Tarakan sejatinya sejalan dengan kinerja kami. Secara statistik, lebih dari 90 persen audiens kami ada di media sosial. Disusul pembaca dari laman daring radartarakan.jawapos.com, lalu mereka yang setia membaca edisi cetak kami.

Di era yang hampir semua hal diukur dengan angka, situasi tersebut adalah normal, bahkan boleh diklaim sebagai pencapaian. Yang harus diketahui, sudah sekira satu dekade terakhir, kami menjalani itu dengan perencanaan. Bukan sekadar ikut-ikutan, tidak sengaja, pasrah, apalagi kaget.

Bahkan di lingkup Jawa Pos Group yang menaungi Radar Tarakan, kami punya diksi sekaligus misi wajib. Namanya Digital First.

Saya gambarkan begini. Dulu, laman web berita dan medsos kami, adalah karya susulan setelah digarap dulu di edisi cetak. Perspektifnya, kami tidak mau akses cepat pembaca digital “memakan” traffic di pasar konvensional koran cetak. Terutama yang eceran. 

Tapi sekarang (malah sudah 3-4 tahun terakhir), polanya kami balik. Digital First bermakna harfiah. Produk jurnalistik kami, baik itu tulisan, foto, rekaman, atau video, harus secepatnya tayang di semua platform.

Bagi yang memperhatikan, berita di edisi cetak kami adalah muara. Bahan liputan tim redaksi yang seharian tayang berkejaran dengan linimasa digital, dikemas dalam wujud yang lebih komprehensif. Malah kami sudah mengukur produktivitas berita wartawan kami dari kontribusi mereka di portal web dan medsos, bukan di cetaknya.

Sekilas agak rumit memang. Di tengah tuntutan akselerasi dan audiens tinggi, kami harus punya produk jurnalistik yang standar kualitasnya tidak boleh turun. Berita koran cetak yang baru muncul keesokan hari, punya nilai lain; kelengkapan dan kedalaman. 

Kami meyakini, dari sisi karya dan peluang bisnis, koran cetak masih layak diperjuangkan eksistensinya. Kami juga percaya, bahwa dengan era digital yang semakin efektif dan efisien, akselerasi atau percepatan adalah keniscayaan.

Seperti pada kebanyakan manusia, usia 25 tahun Radar Tarakan saat ini adalah momen kedewasaan. Cukup lengkap sebagai referensi, juga cukup cepat untuk berakselerasi. (*)

Editor : Januriansyah RT
25 tahun radar tarakan Radar Tarakan Hut Radar Tarakan