TARAKAN – Kesadaran masyarakat Kota Tarakan untuk menyekolahkan anak sejak usia dini terus menunjukkan tren positif. Hal itu tercermin dari meningkatnya Angka Partisipasi Sekolah (APS) Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sepanjang 2025. Meski demikian, pemerintah masih menghadapi tantangan untuk menjangkau seluruh anak usia PAUD, sebab masih terdapat sekitar 12 persen anak yang belum memperoleh layanan pendidikan.
Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Bunda PAUD Kota Tarakan, Endah Sarastiningsih mengatakan, capaian APS PAUD Kota Tarakan mengalami peningkatan cukup signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Menurutnya, APS merupakan indikator yang menunjukkan persentase anak usia PAUD yang telah mengikuti pendidikan pada satuan PAUD.
"Kalau untuk Kota Tarakan tahun 2025 angkanya naik dari 65,68 persen menjadi 88,16 persen. Tetapi walaupun naik, tetap masih ada sekitar 12 persen anak usia PAUD yang memang belum disekolahkan oleh orang tuanya," ujarnya, Minggu (2/8).
Menurut Endah, peningkatan tersebut menjadi gambaran bahwa semakin banyak orang tua mulai menyadari pentingnya pendidikan anak usia dini. Namun, capaian itu belum menjadi alasan untuk berpuas diri karena pemerintah masih menargetkan seluruh anak usia PAUD dapat memperoleh layanan pendidikan.
Ia menegaskan, masih adanya anak yang belum bersekolah bukan disebabkan keterbatasan fasilitas pendidikan. Saat ini, jumlah lembaga PAUD di Kota Tarakan dinilai telah mencukupi dan tersebar di seluruh kelurahan sehingga akses masyarakat terhadap layanan pendidikan relatif tidak menjadi kendala.
"Permasalahannya bukan pada aksesibilitas karena jumlah satuan PAUD sudah cukup. Sebaran PAUD juga sudah cukup karena setiap kelurahan wajib ada satu satuan PAUD dan itu sudah terpenuhi semua," katanya.
Menurut Endah, tantangan terbesar saat ini justru terletak pada perubahan pola pikir masyarakat. Masih terdapat sebagian orang tua yang belum memahami pentingnya pendidikan pada usia dini sehingga memilih menunda anak masuk PAUD.
Selain itu, tingginya mobilitas penduduk di Kota Tarakan juga memengaruhi data partisipasi sekolah. Tidak sedikit anak yang secara administrasi tercatat sebagai penduduk Tarakan, namun dalam praktiknya tinggal bersama orang tua yang bekerja di luar daerah sehingga tidak mengikuti layanan PAUD di kota tersebut.
"Anak-anak usia PAUD yang ada di Kota Tarakan itu tidak selalu berada di Tarakan. Bisa jadi secara administrasi kependudukan ada di Tarakan, tetapi anaknya ikut orang tuanya bekerja ke luar Tarakan," jelasnya.
Kondisi serupa, lanjut Endah, juga ditemukan pada keluarga yang bekerja di kawasan tambak maupun lokasi usaha yang jauh dari permukiman. Situasi tersebut menyebabkan sebagian anak belum dapat mengakses layanan PAUD secara optimal meskipun secara administrasi masih tercatat sebagai warga Kota Tarakan.
Karena itu, Pokja Bunda PAUD bersama pemerintah daerah, satuan pendidikan, dan berbagai pemangku kepentingan akan terus memperkuat sosialisasi kepada masyarakat mengenai pentingnya pendidikan anak usia dini. Langkah tersebut diharapkan mampu meningkatkan partisipasi sekolah sekaligus memastikan seluruh anak memperoleh layanan pendidikan sesuai usianya.
"Kami terus melakukan sosialisasi agar masyarakat memahami bahwa pendidikan anak usia dini penting. Harapannya semakin banyak anak usia PAUD yang dapat mengikuti pendidikan sesuai usianya," pungkasnya. (zac/jnr)
Editor : Januriansyah RT