Ormas di Kaltara Ini Minta Kedepankan Pembinaan untuk Cegah Perilaku Menyimpang di Lingkungan Sekolah

Zakaria RT • Dipublikasikan Minggu, 2 Agustus 2026 | 13:49 WIB
Ketua PWM Kaltara Syamsi Sarman. AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN
Ketua PWM Kaltara Syamsi Sarman. AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN

TARAKAN - Upaya pencegahan perilaku menyimpang di kalangan pelajar terus menjadi perhatian berbagai lembaga pendidikan, termasuk sekolah-sekolah yang berada di bawah naungan Muhammadiyah.

Di tengah meningkatnya perhatian masyarakat terhadap isu tersebut, pendekatan pembinaan dan penguatan pengawasan dinilai menjadi langkah yang lebih tepat dibandingkan memberikan penolakan terhadap peserta didik yang telah memiliki indikasi perilaku tertentu sebelum memasuki lingkungan sekolah.

Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Kalimantan Utara (Kaltara) Syamsi Sarman menegaskan, Muhammadiyah memiliki komitmen kuat dalam mencegah berkembangnya perilaku LGBT di lingkungan pendidikan. Namun, menurutnya setiap anak tetap memiliki hak memperoleh pendidikan sehingga sekolah lebih mengedepankan proses pembinaan daripada penolakan.

"Perilaku LGBT itu tidak terbentuk di sekolah. Sebab kalau di sekolah agama, termasuk Muhammadiyah, sebagian besar ada pemisahan antara laki-laki dengan perempuan," ujarnya, Minggu (2/8).

"Indikasi-indikasi pertemanan sejenis itu pasti menjadi evaluasi masing-masing sekolah. Kalau sejak awal diketahui, misalnya saat penerimaan siswa baru, tentu akan dilakukan pendampingan. Tidak juga ditolak, karena hak mendapatkan pendidikan tetap ada bagi siapa pun, tetapi menjadi catatan khusus untuk dibina, didampingi, dan dipantau agar tidak berkembang menjadi persoalan baru," sambungnya.

Ia menilai, jika ditemukan siswa yang memiliki kecenderungan perilaku tersebut, bukan berarti kondisi itu terbentuk selama mengikuti pendidikan di sekolah Muhammadiyah. Menurutnya, berbagai faktor dari luar lingkungan sekolah dapat menjadi penyebab sehingga lembaga pendidikan hanya berperan melakukan pembinaan dan pendampingan.

"Tudingan masih adanya beberapa kasus siswa seperti itu di sekolah agama bukan berarti perilaku tersebut terbentuk di sekolah. Bisa saja sudah ada sebelumnya dari lingkungan luar, sehingga ketika masuk sekolah menjadi perhatian untuk dilakukan pembinaan," katanya.

Syamsi menjelaskan, sekolah-sekolah Muhammadiyah juga memperkuat komunikasi dengan orang tua sebagai bagian dari sistem pengawasan terhadap perkembangan peserta didik. Selain komunikasi rutin melalui media virtual, sekolah juga melaksanakan kunjungan ke rumah atau home visit terhadap siswa yang membutuhkan perhatian khusus maupun pendampingan.

"Sejak dini komunikasi itu sudah dibangun. Memang home visit tidak bisa dilakukan kepada seluruh siswa karena jumlahnya banyak, tetapi komunikasi dengan orang tua berjalan terus. Orang tua juga bisa menyampaikan kondisi anaknya kepada sekolah sehingga pengawasan dilakukan bersama," lanjutnya.

 

Menurutnya, keterlibatan keluarga menjadi faktor penting dalam mencegah berkembangnya perilaku menyimpang di kalangan remaja. Karena itu, sekolah tidak dapat bekerja sendiri tanpa dukungan orang tua dalam mengawasi aktivitas maupun pergaulan anak di luar lingkungan pendidikan.

"Kalau kami sangat concern terhadap pencegahan LGBT. Kami berharap ini menjadi tanggung jawab semua pihak. Minimal kita bisa menekan penyebarannya. Kalau sudah terlanjur ada ya kita tetap melakukan pembinaan, tetapi jangan sampai semakin meluas karena menurut kami ini sangat berbahaya," tegasnya. (zac/jnr)

Editor : Januriansyah RT
perilaku menyimpang muhammadiyah tarakan kaltara ormas