Jelang Pelaksanaan Gerak Jalan Kemerdekaan di Tarakan, Ormas Ini Minta Pemerintah Tak Beri Panggung Kelompok LGBT

Zakaria RT • Dipublikasikan Jumat, 31 Juli 2026 | 17:01 WIB
Ketua PWM Muhammadiyah Kaltara Syamsi Sarman. AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN
Ketua PWM Muhammadiyah Kaltara Syamsi Sarman. AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN

TARAKAN - Fenomena LGBT yang belakangan menjadi perhatian publik di Kota Tarakan kembali mendapat sorotan dari kalangan organisasi keagamaan. Selain menekankan pentingnya langkah pencegahan di lingkungan pendidikan, Muhammadiyah juga berharap kegiatan publik, termasuk gerak jalan dan karnaval peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia (RI), tidak menjadi ruang yang dinilai dapat memunculkan kontroversi di tengah masyarakat.

Saat dikonfirmasi, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Kalimantan Utara (Kaltara) Syamsi Sarman mengatakan, Muhammadiyah menaruh perhatian serius terhadap upaya pencegahan penyebaran perilaku LGBT. Dikatakannya, menjelang pelaksanaan gerak jalan dan karnaval HUT RI di Kota Tarakan pihaknya menyampaikan harapan agar panitia tidak memberikan ruang kepada kelompok yang menampilkan identitas waria atau bentuk penampilan lain yang dikaitkan dengan LGBT.

Menurutnya, keputusan tersebut bukan semata-mata karena adanya perbedaan pandangan, tetapi untuk menghindari munculnya polemik maupun potensi gesekan di tengah masyarakat.

"Kalau kita sudah concern dengan pencegahan LGBT, kami berharap panitia tidak memberi panggung kepada kelompok-kelompok itu. Sudah tahu ini menjadi pembicaraan dan sorotan masyarakat, ya dijagalah," ujarnya, Jumat (31/7).

"Jangan sampai mengganggu perasaan publik. Kami juga khawatir terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dengan kelompok yang memiliki pandangan berbeda," sambungnya.

Ia juga menyatakan tidak sependapat jika penampilan berkonsep waria dalam kegiatan gerak jalan maupun pawai karnaval yang dianggap sebagai budaya atau tradisi yang harus dipertahankan.

Menurutnya, Indonesia merupakan negara yang menjunjung nilai-nilai agama sehingga penyelenggaraan kegiatan publik sebaiknya tetap mempertimbangkan nilai edukasi dan norma yang berlaku di masyarakat.

"Kan banyak penampilan lain yang bisa ditampilkan. Untuk menghibur masyarakat banyak caranya. Tampilkan yang edukatif dan mendidik karena yang menonton semua lapisan masyarakat, dari orang tua sampai anak-anak. Sebagai kota yang mengusung Smart City, mari manfaatkan gerak jalan ini sebagai event yang edukatif," katanya. (zac/jnr)

 

Editor : Januriansyah RT
lgbt tarakan gerak jalan