TARAKAN – Menempuh perjalanan sejauh 300 kilometer dengan sepeda dalam waktu belasan jam bukan perkara mudah. Rasa lelah, kantuk, hingga perubahan cuaca menjadi tantangan yang harus dihadapi. Namun semua itu berhasil dilalui Ardi, pesepeda asal Tarakan, bersama rekannya Reza saat mengikuti Audax 300 Kilometer.
Keduanya sukses menuntaskan rute sepanjang 300 kilometer dalam waktu 16 jam 41 menit, lebih cepat dari batas waktu maksimal 20 jam yang ditetapkan panitia.
Bagi Ardi, ajang tersebut menjadi pengalaman pertamanya mengikuti Audax. Sementara Reza sebelumnya telah dua kali mengikuti Audax, masing-masing di kategori 150 kilometer dan 200 kilometer. Pengalaman itu menjadi bekal penting dalam menyusun strategi selama perjalanan.
“Untuk kategori 300 kilometer ini juga menjadi pengalaman pertama bagi kami berdua. Pengalaman Reza di dua Audax sebelumnya cukup membantu kami dalam menyusun strategi selama perjalanan,” ujar Ardi.
Ia menjelaskan, Audax merupakan kegiatan bersepeda jarak jauh yang berbeda dengan balapan. Tidak ada perebutan juara dalam ajang ini. Setiap peserta hanya ditantang menyelesaikan rute sesuai batas waktu yang telah ditentukan.
“Yang diuji bukan cuma kuat gowes, tapi juga bagaimana kita mengatur tenaga, waktu istirahat, makan, dan tetap aman sampai finis,” katanya.
Keikutsertaan mereka juga menjadi pembuktian bahwa pesepeda asal Tarakan mampu berpartisipasi dalam kegiatan bersepeda jarak jauh bersama peserta dari berbagai daerah.
Menurut Ardi, tantangan terberat bukanlah tanjakan ataupun jauhnya jarak tempuh, melainkan menjaga kondisi tubuh tetap stabil hingga garis finis.
“Setelah melewati 200 kilometer, tenaga mulai berkurang, rasa kantuk mulai datang, dan konsentrasi juga mulai diuji. Di situ mental benar-benar berperan,” ungkapnya.
Agar mampu bertahan hingga akhir, mereka memilih mengayuh dengan ritme yang nyaman sejak awal perjalanan. Mereka juga disiplin menjaga asupan makan dan minum tanpa menunggu rasa lapar atau haus, serta beristirahat secukupnya.
“Di Audax yang penting bukan cepat di awal, tapi tetap kuat sampai garis finis,” tuturnya.
Ardi mengakui sempat muncul keinginan untuk berhenti ketika tubuh mulai lelah sementara jarak menuju finis masih cukup jauh. Namun, ia memilih mengingat kembali proses latihan yang telah dijalani selama beberapa bulan terakhir.
“Pasti ada rasa ingin berhenti. Tapi saya ingat semua proses latihan yang sudah dijalani. Kami juga saling menyemangati. Akhirnya kami memilih tetap lanjut, pelan-pelan yang penting terus bergerak sampai selesai,” ujarnya.
Selain menguji fisik, perubahan cuaca juga menjadi tantangan tersendiri. Perjalanan yang dimulai dari Malang diawali dengan udara yang cukup dingin. Namun ketika memasuki jalur selatan hingga wilayah pesisir, suhu berubah menjadi sangat panas.
“Perubahan suhu itu cukup terasa di tubuh. Jadi kami harus lebih pintar mengatur cairan, makan, dan ritme supaya tenaga tidak cepat habis. Alhamdulillah, kondisi sepeda juga tidak ada kendala berarti,” katanya.
Dari total waktu 16 jam 41 menit, sekitar 13 jam 32 menit digunakan untuk mengayuh sepeda. Sementara sisanya dimanfaatkan untuk mengisi air minum, makan, beristirahat sejenak, dan keperluan lainnya selama perjalanan.
Sebelum mengikuti Audax, Ardi dan Reza menjalani latihan rutin selama beberapa bulan untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Mereka juga menjaga pola makan, waktu istirahat, serta memastikan kondisi sepeda benar-benar siap digunakan.
Perlengkapan yang dibawa pun cukup lengkap, mulai dari ban dalam cadangan, pompa, alat perbaikan sederhana, lampu depan dan belakang, makanan ringan, hingga perlengkapan penting lainnya.
Bagi Ardi, momen paling berkesan adalah ketika akhirnya berhasil mencapai garis finis setelah menempuh perjalanan sejauh 300 kilometer.
“Rasanya lega, bangga, dan bersyukur karena semua latihan selama ini terbayar,” ucapnya.
Tak hanya itu, suasana kekeluargaan antarpeserta juga meninggalkan kesan mendalam. Meski bukan perlombaan, para peserta saling menyapa, memberi semangat, bahkan memastikan kondisi peserta lain apabila mengalami kendala di perjalanan.
“Itu yang paling saya suka dari Audax. Walaupun bukan balapan dan setiap peserta punya target masing-masing, suasananya sangat akrab. Kalau ada yang berhenti karena kendala, peserta lain biasanya ikut menanyakan apakah semuanya baik-baik saja,” katanya.
Pengalaman tersebut mengajarkan Ardi untuk tidak takut mencoba tantangan baru. Menurutnya, sesuatu yang awalnya terlihat mustahil dapat diselesaikan melalui latihan yang konsisten dan persiapan yang matang.
Ke depan, ia mengaku tertarik mengikuti kategori Audax dengan jarak yang lebih jauh. Namun, tantangan tersebut tentu harus diimbangi dengan latihan yang lebih serius.
Ardi pun berpesan kepada para pesepeda yang ingin mencoba Audax agar tidak gentar melihat angka 300 kilometer.
“Semua peserta juga memulai dari nol. Yang penting latihan secara bertahap, kenali kemampuan diri, jangan memaksakan diri, dan nikmati prosesnya. Audax bukan tentang siapa yang paling cepat, tapi bagaimana kita bisa menyelesaikan perjalanan dengan aman. Tantangan terbesar sebenarnya adalah mengalahkan rasa ragu pada diri sendiri,” pungkasnya. (Eru)
Editor : Rahul