TARAKAN – Penanganan terhadap individu yang memiliki perilaku berisiko tidak hanya membutuhkan penegakan aturan, tetapi juga pendekatan yang mengedepankan nilai kemanusiaan. Pembinaan, rehabilitasi, dan pendampingan dinilai menjadi langkah penting agar upaya pencegahan penularan Human Immunodeficiency Virus (HIV) dapat berjalan lebih efektif.
Pendamping Orang dengan HIV (ODHIV) di Tarakan, HD mengatakan, setiap individu memiliki latar belakang yang berbeda sehingga penanganannya tidak bisa disamaratakan. Menurutnya, tindakan yang dilakukan sebaiknya tidak disertai kekerasan maupun perlakuan yang merendahkan martabat seseorang.
"Jangan ada kekerasan. Mereka juga manusia. Memanusiakan manusia. Kalau memang salah, ya dibina. Jangan diperlakukan seperti pelaku kriminal," tegasnya, Selasa (28/7).
Dalam pengalamannya mendampingi ODHIV, sebagian besar individu yang ditemuinya berada pada usia produktif. Karena itu, pendekatan yang dilakukan lebih banyak melalui komunikasi dari hati ke hati agar mereka bersedia menjaga kesehatan, menjalani terapi HIV apabila terinfeksi, serta mengurangi perilaku yang berisiko terhadap penularan.
"Rata-rata usia mereka usia produktif. Saya selalu ngobrol dari hati ke hati, mengingatkan supaya menjalani hidup yang lebih baik," katanya.
HD juga mengungkapkan terdapat sejumlah kasus di mana seseorang yang awalnya tidak memiliki ketertarikan terhadap sesama jenis kemudian terlibat dalam hubungan seksual sesama jenis setelah mengalami situasi tertentu. Namun, menurutnya, setiap kasus memiliki penyebab yang berbeda sehingga memerlukan pendampingan yang sesuai.
"Ada beberapa yang awalnya bukan seperti itu, kemudian terjebak karena situasi tertentu. Jadi setiap orang berbeda-beda, makanya perlu didampingi," jelasnya.
Menurut HD, pendampingan psikologis, dukungan keluarga, serta akses terhadap layanan kesehatan menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan penularan HIV. Ia berharap pemerintah, tenaga kesehatan, tokoh masyarakat, dan keluarga dapat bersinergi membangun sistem pembinaan yang berkelanjutan.
Ia menambahkan, keberhasilan penanganan persoalan tersebut tidak hanya diukur dari penindakan atau regulasi yang diterapkan, tetapi juga dari keberhasilan pembinaan dalam membantu masyarakat mengurangi perilaku berisiko dan meningkatkan kesadaran menjaga kesehatan.
"Kalau memang ada aturan, harapan saya jangan berhenti di penindakan. Yang paling penting adalah pembinaan, rehabilitasi, dan pendampingan agar mereka benar-benar mendapatkan solusi," pungkasnya. (zac/jnr)
Editor : Januriansyah RT