TARAKAN – Cuaca ekstrem yang melanda Kota Tarakan dalam beberapa hari terakhir kembali memicu pohon tumbang di berbagai titik. Di balik peristiwa tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tarakan mengungkap karakteristik pohon di Tarakan menjadi salah satu penyebab utama tingginya risiko pohon tumbang saat diterpa angin kencang.
Kepala Pelaksana BPBD Tarakan, Yonsep menjelaskan, sebagian besar pohon di Tarakan berasal dari hasil pembibitan sehingga tidak memiliki akar tunggang yang mampu mencengkeram tanah secara kuat. Sebaliknya, mayoritas hanya memiliki akar serabut yang menyebar di permukaan tanah.
"Tanaman di Tarakan ini umumnya tidak memiliki akar tunggal karena berasal dari pembibitan. Kebanyakan hanya memiliki akar serabut di bagian atas permukaan tanah. Ketika pohon semakin besar, subur, dan terkena angin kencang, bebannya menjadi lebih berat sehingga lebih mudah tumbang," ujarnya.
Ia menjelaskan, usia pohon bukan satu-satunya faktor penyebab tumbang. Pohon yang masih muda pun tetap berpotensi roboh apabila pertumbuhan batang, cabang, dan tajuk lebih cepat dibandingkan perkembangan sistem perakarannya.
Menurut Yonsep, jenis pohon yang paling banyak mengalami tumbang didominasi pohon mangga dan sengon. Kedua jenis pohon tersebut memiliki tajuk yang cukup lebat sehingga memberikan beban lebih besar ketika diterpa angin.
Dalam dua hari terakhir, BPBD mencatat sedikitnya 13 pohon tumbang akibat cuaca ekstrem. Dari jumlah tersebut, 10 pohon dievakuasi oleh BPBD, sedangkan tiga lainnya ditangani relawan Kolaborasi Aksi Kemanusiaan (Kolakar).
Selain pohon tumbang, cuaca ekstrem juga memicu dua kejadian longsor di kawasan Kampung 6 dan Karang Anyar, serta menyebabkan empat rumah warga mengalami kerusakan pada bagian atap akibat terpaan angin kencang.
Yonsep mengatakan BPBD telah memberikan bantuan darurat berupa terpal kepada warga terdampak. Penanganan lanjutan untuk rumah yang rusak telah dikoordinasikan bersama Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim).
BPBD mengingatkan masyarakat agar melakukan pemangkasan cabang pohon secara berkala untuk mengurangi beban pohon, terutama yang berada di sekitar rumah maupun pinggir jalan. Warga juga diminta segera melaporkan pohon yang miring atau berpotensi tumbang kepada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) agar dapat ditangani sebelum menimbulkan korban.
"Masyarakat jangan menunggu pohon tumbang. Kalau sudah terlihat miring atau membahayakan, segera laporkan supaya bisa dilakukan penanganan lebih awal," tegas Yonsep. (zar/jnr)
Editor : Januriansyah RT