Gelombang Kelvin dan Bibit Siklon 92W Jadi Pemicu Cuaca Ekstrem di Kaltara

Eliazar Simon • Dipublikasikan Kamis, 23 Juli 2026 | 19:44 WIB
PEMICU : Adanya gelombang Kelvin serta keberadaan bibit siklon tropis di timur Filipina menjadi pemicu cuaca ekstrem di Kaltara. ELIAZAR/RADAR TARAKAN 
PEMICU : Adanya gelombang Kelvin serta keberadaan bibit siklon tropis di timur Filipina menjadi pemicu cuaca ekstrem di Kaltara. ELIAZAR/RADAR TARAKAN 

TARAKAN – Dua fenomena atmosfer yang terjadi secara bersamaan menjadi penyebab utama meningkatnya potensi hujan lebat di Kalimantan Utara (Kaltara) dalam beberapa hari terakhir. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Tarakan menjelaskan aktifnya gelombang Kelvin serta keberadaan bibit siklon tropis 92W di perairan timur Filipina menciptakan kondisi atmosfer yang sangat mendukung terbentuknya awan hujan.

Prakirawan BMKG Tarakan, Muhammad Reza Saputra mengatakan, gelombang Kelvin mulai memengaruhi wilayah Kalimantan Utara sejak 21 hingga 22 Juli 2026. Fenomena ini meningkatkan suplai uap air di atmosfer sehingga kelembapan udara mencapai sekitar 90 persen pada lapisan 700 milibar.

"Kondisi tersebut membuat atmosfer menjadi lebih basah dan mendukung pertumbuhan awan konvektif yang menghasilkan hujan. Potensi aktifnya gelombang Kelvin diperkirakan berlangsung hingga 23 Juli sebelum bergerak ke arah timur pada 24 hingga 25 Juli," katanya.

Di saat yang sama, BMKG juga memantau bibit siklon tropis 92W yang berada di timur Filipina. Walaupun tidak berdampak langsung terhadap Indonesia, sistem tersebut membentuk pola belokan angin (shearline) yang menyebabkan massa udara berkumpul di sekitar Kaltara.

Akibatnya, pembentukan awan Cumulonimbus menjadi lebih intensif dan meningkatkan peluang terjadinya hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang disertai petir maupun angin kencang.

"Fenomena itu memicu pembentukan awan konvektif yang didukung kelembapan relatif tinggi sehingga berpotensi menimbulkan hujan lebat yang dapat disertai kilat atau petir serta angin kencang. Jenis awan yang dominan terbentuk adalah awan Cumulonimbus," ungkap Reza.

Berdasarkan prakiraan BMKG, pada 23 Juli potensi hujan lebat terjadi di Tarakan, Nunukan, Tana Tidung, dan Malinau. Pada 24 Juli, potensi hujan berpusat di Bulungan, sedangkan pada 25 Juli diprakirakan terjadi di Bulungan dan Tana Tidung.

Meski cuaca di daratan berpotensi memburuk, BMKG memastikan kondisi laut Kalimantan Utara masih relatif aman dengan tinggi gelombang di bawah 1,25 meter.
BMKG mengimbau masyarakat untuk tidak hanya mewaspadai hujan deras, tetapi juga dampak ikutannya seperti banjir, genangan, pohon tumbang, hingga sambaran petir.

Masyarakat juga diharapkan terus mengikuti pembaruan informasi cuaca melalui kanal resmi BMKG agar dapat mengantisipasi risiko cuaca ekstrem sejak dini. (zar/jnr)

Editor : Januriansyah RT
tarakan kaltara cuaca bmkg